Saya juga Emak-emak, Lihatlah Saya Bisa Masak Apa dengan Uang Rp 100...

Saya juga Emak-emak, Lihatlah Saya Bisa Masak Apa dengan Uang Rp 100 Ribu

Ilustrasi (Oberholster Venita via Pixabay)

Say, linimasa media sosial kalian ramai tentang apa? Akikah dong, tentang duit Rp 100 ribu yang katanya cuma bisa beli cabe dan bawang gara-gara dolar naik. Terus, soal tempe yang konon sudah setipis kartu ATM.

Keramaian itu bahkan mampu membelokkan perhatian emak-emak dari ‘roti sobek’ Jonatan Christie alias Jojo.

Jadi, kata Pak Sandiaga Uno, ada seorang ibu bernama Lia belanja ke pasar dengan uang Rp 100 ribu. Pulang dari pasar, Bu Lia cekcok dengan suaminya karena cuma bisa beli cabe dan bawang.

Apa nggak keren tuh? Kok bisa ya, duit segitu cuma buat beli cabe dan bawang? Apa Bu Lia seorang pedagang sambal botol, kok belanja cabe segitu banyak?

Ya bukan apa-apa, harga cabe lagi turun, jeung… Di kalangan petani malah lagi anjlok alias terjun bebas, sebebas ucapan Pak Sandi tentang Bu Lia tadi.

Bayangkan saja, pertengahan Agustus lalu, harga cabe di pasar masih berkisar Rp 20-24 ribu per kilogram. Lha, sekarang cuma Rp 12-14 ribu per kg untuk jenis cabe merah keriting dan cabe rawit setan.

Sementara di kalangan petani cabe, mereka jual ke pedagang dengan harga Rp 6-8 ribu doang. Jadi, bisa bayangkan, Bu Lia beli berapa kilo cabe tuh dengan duit Rp 100 ribu?

Belum lagi dengan harga bawang.

Kita ngomong bawang apa dulu? Bawang merah, bawang putih, atau bawang Bombay? Ya kalau bawang putih dan bawang Bombay sih memang masih impor. Tapi nyatanya, pergerakan dolar Amerika belum membuat harga bawang putih dan bawang Bombay melonjak drastis.

Harga bawang merah masih berkisar Rp 17-18 ribu per kg, bawang putih Rp 20-22 ribu per kg, dan bawang Bombay Rp 15-16 ribu per kg.

Itu harga di pasar tradisional lho ya, pasar kecil, bukan di pasar induk. Kebayang kan kalau di pasar induk, pasti harganya jauh lebih murah lah.

Dengan harga-harga tersebut, saya yang juga emak-emak pantas heran dengan cerita Pak Sandi soal uang Rp 100 ribu cuma bisa beli cabe dan bawang di pasar.

Itu yakin semuanya buat beli bawang sama cabe doang? Nggak pake acara belok ke tukang bakso atau minum es cendol dulu?

Baca juga: Membela Emak-emak

Ya maklum, namanya emak-emak lelah. Kadang nuraninya mudah terbelokkan, mencium bau bakso yang menggoda iman, apalagi ditambah segelas es cendol yang segarnya tiada tara, cleguk.

Sekarang begini. Wong, harga ayam potong juga lagi turun kok dari Rp 35 ribu jadi Rp 30 ribu per kg. Mayan banget kan? Sementara hampir semua harga barang masih normal saja di pasar. Kalaupun naik seribu-dua ribu rupiah, masih wajar kan?

Apalagi perkara tempe yang katanya setipis kartu ATM. Ini nih yang bikin bingung. Ya bukan apa-apa, harga tempe di pasar masih normal-normal aja jew, senormal rinduku padamu, hihihi…

Mau beli tempe yang setangkup isi 2 biji, ukuran 4×7 cm ya masih 100 perak setangkup. Tempe jenis ini biasanya lebih mahal. Bukan karena isinya yang tebal, tapi lebih ke proses pembuatannya yang nggak praktis.

Prosesnya harus dibuat sepotong-sepotong gitu, berbungkus daun pula. Ya istilahnya cost production-nya lebih besar lah ketimbang tempe papan plastikan.

Untuk tempe papan yang plastikan juga belum ada perubahan wujud secara signifikan. Artinya, ukuran dan ketebalannya masih relatif sama.

Kalau dilihat-lihat, masih nggak kalah tebal sama isi dompet pas akhir bulan, dengan ketebalan sekitar 2 cm-an. Maklum, dompet kalau pas akhir bulan isinya nota bon-bonan semua. Hahaha…

Untuk tempe setebal 2 cm, masa iya sih kalau digoreng bisa susut jadi setipis kartu ATM? Itu kartu ATM ditumpuk satu sama kartu kredit bank ini-bank itu kali jadinya tebal?

Tapi kemarin, saya beneran iseng sampai ngecek kebutuhan belanja untuk makan sehari. Sebetulnya saya setiap hari belanja ke pasar, karena kebetulan saya jualan ayam penyetan di rumah.

Tapi berhubung hari itu libur jualan, jadi nulis buat Voxpop. Eh, maksudnya iseng belanja di toko kelontong dekat rumah sama cegat tukang sayur yang lewat di depan rumah.

Dengan duit Rp 100 ribu, saya bisa beli dan masak apa?

– Beras 1 kg seharga Rp 10 ribu. Ini beras yang kualitas sedang lho ya, dan harganya juga masih normal.

– Telur ½ kg seharga Rp 11 ribu di toko kelontong dekat rumah.

– Ayam ¼ kg seharga Rp 8 ribu di tukang sayur yang lewat depan rumah.

– Sop-sopan sebungkus yang agak gede Rp 3 ribu.

– Bawang campur (merah putih, sebutir Bombay) seharga Rp 6 ribu.

– Cabe merah sebungkus Rp 2 ribu.

– Tempe sepapan ukuran 15 cm seharga Rp 3 ribu. Ini bisa jadi tempe goreng sekitar 10 potong, biar nggak setipis kartu ATM.

– Minyak goreng kemasan ¼ liter seharga Rp 3 ribu.

– Pepaya ukuran tanggung Rp 7 ribu.

– Kerupuk terung seplastik isi 20 seharga Rp 5 ribu.

Jadi berapa habisnya? Hanya Rp 58 ribu tuh. Itu sudah bisa masak nasi, balado telur dan sup ayam, tempe goreng, kerupuk, plus biar sehat tambah buah pepaya.

Artikel populer: Terjebak di Dalam Grup Mamah-mamah Muda

Dan, itu untuk makan sehari, lho. Sekeluarga pula. Suami satu, istri satu, anak gede satu, anak remaja satu, plus bocah kecil keriting satu pula.

Lha, berarti duit yang Rp 100 ribu masih ada lumayan sisa? Buat apaan?

Ya terserah, bisa disimpan buat tambah-tambah belanja besok. Atau, buat beli kebutuhan lainnya semacam alat mandi, kosmetik, atau obat-obatan.

Tapi kalau saya sih, sebagai emak-emak kekinian, sisa uang belanja ya buat beli kuota data lah… Haha…

Kan bisa dapat 7 giga bonus 5 giga roll over seharga Rp 49 ribu. Tinggal nambahin Rp 7 ribu dari duit sisa belanja sehari sebelumnya. Kan mayan, bisa baca-baca berita selama sebulan, bisa ceki-ceki harga di pasar-pasar induk, plus ceki-ceki promo di beberapa supermarket.

Dan, karena saya kebetulan juga jualan ayam penyet, nasi goreng seafood, hingga cemilan semacam pastel, brownies, dan sebagainya, paket data internet bisa mendukung jualan secara online.

Bisa juga buat ngecek pelajaran bocah. Ya kan jaman kekinian, teknologi kudu dimanfaatkan dong ah. Sayang aja kalau punya kuota cuma buat haha hihi gosipin orang doang.

Jadi, makan apa kita hari ini, ccyynnn..?

Tempe setipis kartu ATM?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.