Satu Lagi Pertanyaan yang Bikin Galau, Kapan Daftar CPNS?

Satu Lagi Pertanyaan yang Bikin Galau, Kapan Daftar CPNS?

Ilustrasi (TeroVesalainen via Pixabay)

Apa yang akan dilakukan Sigmund Freud, jika dia harus menuliskan satu esai tentang Indonesia? Bagaimana interpretasi seorang Freud, jika dia harus bercerita tentang mimpi Presiden Jokowi? Lalu, mengapa Carl Jung harus memisahkan diri dari seorang Freud yang berharap besar kepadanya?

Terakhir, yang sebenarnya menjadi awal dari semua pertanyaan itu: mengapa saya tak menemukan pertanyaan aneh atau memantik rasa ingin tahu tentang psikologi atau apapun di luar psikologi dari teman atau keluarga terdekat sekalipun?

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan akhir-akhir ini adalah “Eh, kamu sudah daftar CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), belum?” atau “Kapan daftar CPNS?”

Pertanyaan yang levelnya beda-beda tipis dengan pertanyaan “kapan nikah” itu sepertinya bukan hanya mengganggu. Pertanyaan itu bisa jadi bikin kamu resah, gelisah, galau. Terlebih, bagi kamu yang masih berusia muda atau masih memenuhi syarat pendaftaran.

Sejujurnya, saya lebih memilih senyum tanpa harus memberikan jawaban sama sekali untuk pertanyaan “daftar CPNS”. Memang, bukan sebuah hal yang mencengangkan ketika melihat beberapa orang mendamba atau menginginkan anaknya menjadi CPNS.

Maka, saat Martin P Seligman memikirkan banyak hal tentang kebahagiaan dan mendirikan aliran psikologi positif, saya membayangkan tengah meminjam isi kepalanya dan mulai menjawab pertanyaan: “Apakah menjadi PNS membuat kita hidup bahagia?”

Sejujurnya, untuk mendefinisikan bahagia tentu bukanlah hal yang sederhana. Dan, sepertinya makna bahagia itu sendiri masih terus kita pelajari sampai hari ini.

Di hampir seluruh grup WhatsApp, informasi tentang seleksi CPNS biasanya bertebaran. Seiring dengan tebaran informasi yang tak terbendung itu, terkadang orang tua atau paman maupun bibi seringkali meminta keluarganya untuk mengadu nasib melalui pendaftaran CPNS.

Parahnya, saya mendengar kabar bahwa beberapa teman yang berhasil menjadi PNS mesti membayar sejumlah uang kepada orang yang menjanjikan kelulusan. Mengapa seseorang mesti membayar demi mendapatkan kepastian diterima sebagai PNS?

Baca juga: Sukses Jadi PNS menurut @PNS_Ababil

Selain itu, ada juga beberapa orang yang menjadikan masa pendaftaran CPNS sebagai peluang bisnis. Mereka membuka kursus singkat bagi siapa saja yang berminat. Jumlahnya banyak, sehingga mampu membuat kaya pemilik kursus.

Seorang teman yang memilih untuk tidak menjadi PNS pernah bilang, “Jadi PNS itu seperti jalan pintas untuk seseorang!” Ada juga yang mengatakan, “PNS seperti jebakan, kita terperangkap selamanya!”

Bagaimana pun, tanggapan itu bisa menguatkan pertanyaan sebelumnya tentang kebahagiaan. Terlebih, belum ada penelitian yang menguatkan anggapan bahwa seorang PNS akan menjadi menantu idaman, meskipun itu bukan rahasia lagi.

Bilamana kita bersandar pada teori motivasi seorang Abraham Maslow, salah satu penggerak dasar manusia adalah pencarian atas rasa aman. Dan, PNS dianggap mampu memberikan hal tersebut dari segi finansial maupun status sosial.

Setidaknya ada beberapa alasan umum yang membuat seseorang merasa berkewajiban untuk menjadi PNS, seperti remunerasi PNS yang dari tahun ke tahun semakin baik hingga jaminan jangka panjang dari pemerintah.

Saat pensiun pun, PNS akan menerima gaji dari pemerintah. Sesuatu yang tak akan didapatkan, bila kita bekerja di tempat lain.

Konon, dari segi finansial, menjadi PNS bikin hidup tampak aman dan bakal baik-baik saja. Begitu pun dengan status sosial, ada banyak orang yang menjadikan PNS sebagai ukuran keberhasilan.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) pernah mengungkapkan bahwa tahun ini total formasi CPNS yang dibutuhkan sebanyak 238.015 posisi yang terbagi di instansi pusat dan daerah.

Jika melihat data tahun 2017, jumlah pelamar tahun ini dapat dipastikan jauh lebih tinggi. Hingga 26 September 2017, jumlah pelamar CPNS gelombang II yang dilansir SSCN Badan Kepegawaian Nasional (BKN) mencapai 1,29 juta orang. Sedangkan gelombang pertama sebanyak 1,14 juta pelamar.

Artikel populer: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Jadi, total pelamar CPNS tahun lalu sebanyak 2,43 juta orang. Padahal, yang dibutuhkan hanya sebanyak 37.138 formasi, dimana seleksi gelombang pertama sebanyak 19.210 formasi dan 17.928 formasi di gelombang kedua. Lantas, bagaimana dengan pelamar tahun ini?

Rasa aman yang sejak awal sempat kita bahas sebenarnya tidak benar-benar aman. Mungkin itu hanyalah rasa aman yang semu. Sebab, hal terpenting dari manusia adalah kreativitas.

Tanpa bermaksud mengatakan bahwa PNS membuat seseorang kehilangan kreativitas, tetapi perlu disadari bahwa dunia atau lingkup kerja PNS jelas menawarkan hilangnya kreativitas seseorang.

Presiden Jokowi dalam beberapa pidatonya kepada CPNS atau PNS seringkali menuntut kreativitas dan inovasi, sebuah permintaan yang sebenarnya sulit.

Tak bisa dipungkiri bahwa seseorang terkadang hidup dalam bayang-bayang keinginan orang lain atau lingkungan sosial. Pada akhirnya masuk dalam sederet hal yang terasa wajib dilakukan, seperti sekolah dengan perolehan nilai yang tinggi, kuliah dan lulus tepat waktu, jadi PNS, menikah, punya anak, pensiun, dan lain-lain.

Kita seolah terperangkap dalam rutinitas yang sempit. Narasi seperti inilah yang dialami PNS bahwa ruang paling lapang bisa membunuh kreativitas. Secara otomatis, PNS seperti satu titik pekerjaan yang aman dan nyaman.

Dibanding memilih menjadi wirausaha atau pekerja seni, orang-orang akan lebih memilih menjadi PNS. Memasuki masa pendaftaran CPNS, orang akan berbondong-bondong menaruh harapannya.

Pada saat bersamaan, mereka yang terpilih akan melepaskan kecemasannya terhadap hidup yang tanpa kepastian ini. Menjadi PNS tampaknya memang menjadi jalan pintas untuk mendapat kepastian akan hidup yang aman hingga waktu yang panjang.

Tanpa disadari bahwa melepas kecemasan itu pada akhirnya ikut menghilangkan kreativitas dan ruang kebebasan manusia. Seorang filsuf bernama Soren Kierkegaard pernah bilang, “Kecemasan adalah sumbu dari kebebasan.”

Mungkin, memang tak ada cara hidup yang benar-benar tepat. Sebab, sudah jelas bahwa tak ada moral yang absolut. Yang tersisa hanyalah kemampuan kita untuk menerjemahkan dunia dengan cara yang kreatif.

Dan, tanpa kreativitas, bagaimana kita memaknai kebahagiaan?

Berbahagialah, wahai CPNS dan PNS sekalian!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.