Hometown Cha-Cha-Cha. (tvN)

Presiden Jokowi pernah menyebut Menkes Budi Gunadi Sadikin sebagai contoh seseorang yang memiliki hybrid skill dan hybrid knowledge, sesuai kebutuhan zaman. “Itu fakultasnya di ITB itu, fakultas teknik fisika nuklir. Kemudian kerjanya di bank. Tapi nyatanya juga bisa melesat sampai menduduki tangga paling puncak (sebagai) direktur utama Bank Mandiri. Melompat lagi jadi Menteri Kesehatan.”

Saat ini memang sedang tren hybrid jobs atau hybrid roles. Seperti dilansir The Confident Career, hybrid jobs atau hybrid roles adalah sebuah peran yang membutuhkan seorang pekerja dengan banyak keterampilan hard skills dan soft skills, karena perkembangan teknologi dan ekonomi telah mengubah pola pasar dan perilaku konsumen/pasar. Perkembangan teknologi nantinya akan menyebabkan beberapa jenis pekerjaan hilang karena disrupsi.

Tanpa disrupsi pun, faktanya tingkat serapan lulusan perguruan tinggi ke dunia kerja masih rendah. Sampai Februari 2021, komposisi tenaga kerja hasil lulusan dari perguruan tinggi hanya 10,8%. Tetapi dalam menyiapkan tenaga kerja untuk hybrid jobs, apakah semua lulusan dari jurusan apa pun perlu mengikuti logika industri?

Baca juga: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Kalau dipikir-pikir, permintaan agar perguruan tinggi bekerja sama dengan industri masih masuk akal sih ketimbang ajakan untuk menjadi petani muda yang menguasai keahlian dari hulu ke hilir. Generasi muda diajak bergerak di ranah on farm sampai ke tahap pengolahan paska panen. Padahal, persawahan sudah menjadi perumahan, harga pupuk tergantung nilai tukar dolar, harga sayur dan buah sesuai musim, impor terus dilakukan meski masuk masa panen, dan seterusnya. Mati kutu jadi petani, masih muda pula. Kapan bisa dianggap layak oleh bank untuk bisa cicil KPR?

Soal hybrid skill dan hybrid knowledge, yang berbarengan dengan ajakan untuk kembali ke daerah dan menjadi agen perubahan, jadi teringat karakter Hong Du-sik di drama Korea berjudul Hometown Cha-Cha-Cha. Du-sik yang diperankan oleh Kim Sun-ho adalah sarjana teknik lulusan Universitas Seoul dan serba bisa dalam banyak pekerjaan, bahkan punya sertifikat serta izin praktik untuk semua kebisaannya itu. Warga Desa Gongjin merasa terbantu oleh Du-sik yang terpelajar dan serba bisa.

Baca juga: Kerja Keras Bagai Kuda, Mustahil Kelas Pekerja Bisa Banyak Bercinta

Meski Du-sik tak menjadi menteri, ia menjalani hidup yang bahagia serta mulia di Desa Gongjin sebagai pekerja serabutan. Du-sik sudah hybrid sejak lahir, bukan ikut tren. Tapi ia tak tertarik menjadi orang yang sukses dalam berkarier, apalagi menjadi anggota dari kelompok sosial yang dihormati di lingkungan masyarakat perkotaan pada umumnya, seperti Yoon Hye-jin (Shin Min-a) yang seorang dokter gigi.

Terlihat too good to be true, memang. Sarjana dari universitas ternama memilih bekerja serabutan dan tinggal di desa, memerdekakan diri dari cita-cita memiliki kebebasan finansial yang kerap berujung pada hustle culture (atau workaholism) dalam masyarakat modern.

Di masa sekarang, saat pertanyaan “kerja apa” punya dua makna – yaitu bentuk kepedulian dan cara untuk mengukur nilai kita di masyarakat (kemudian perlakuan seperti apa yang bakal kita terima) – memilih bekerja serabutan dengan upah minimum seperti yang dilakukan Du-sik adalah bentuk perlawanan. Tidak semua orang mau dan mampu melakukan perlawanan.

Baca juga: Kerja Sesuai Passion, Jurusan, dan Gaji yang Diharapkan? Itu Halu, Kawan

Ya, memang ada beberapa petunjuk yang perlahan dikeluarkan oleh writer-nim yang menggambarkan ada kejadian traumatis yang membuat Du-sik kembali ke Gongjin. Jadi mungkin ada plot twist dan alasan di balik keputusan Du-sik menolak kemapanan.

Tapi setidaknya Du-sik yang sarjana serba bisa tak perlu merasa tertohok oleh puisi “Sajak Seonggok Jagung” karya WS Rendra: “Apa gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya?”

Du-sik berbeda dengan saya, seorang medioker dan hanya punya sedikit keahlian, anak desa yang menjadi layang-layang di Ibu Kota karena kikuk jika harus pulang ke daerah. Tidak ada pekerjaan di desa, tidak ada perputaran uang. Bahkan jika bekerja serabutan seperti Du-sik sekali pun, pasti akan sepi job, kemudian dianggap gagal hidup layak.

Data BPS menyebutkan, angka pengangguran pada penduduk usia 20-24 tahun per Februari 2021 sebesar 17,66%, sementara penduduk usia 25-29 tahun sebesar 9,27%. Angka pengangguran usia muda meningkat selama pandemi. Namun, untuk meningkatkan angka serapan tenaga kerja, melibatkan industri ke dalam sistem pendidikan juga bukannya tanpa masalah.

Artikel populer: Makna Lain di Balik Seleksi CPNS, Jutaan Orang bahkan Tidak Menyadari

Sudah sejak lama Ivan Illich, dalam Deschooling Society (1971), mengkritik sistem pendidikan yang hanya menjadikan murid sebagai objek pasif. Murid dijejali pengetahuan yang tak relevan untuknya dan masyarakat, yang mengakibatkan murid teralienasi dari realitas sosial.

Program ‘Kampus Merdeka’ dari Kemendikbud Ristek tak menutup kemungkinan terjebak dalam sistem lama yang sama, menempatkan mahasiswa sebagai objek pasif dan membuat pilihan hidup sebagai sarjana yang tinggal di desa hanya bisa dijalani oleh Du-sik di Hometown Cha-Cha-Cha.

‘Kampus Merdeka’ hadir seperti gagasan baru untuk merespons zaman, padahal sebenarnya usang. Logika industri dipakai untuk mengelola sistem pendidikan, maka komersialisasi dan berlakunya mekanisme pasar adalah keniscayaan.

Pilihan yang tersisa bagi generasi muda di Indonesia yang tak punya privilese dan kapital hanyalah bersaing mati-matian untuk masuk ke industri saja: kerja-kerja-kerja-burnout! Kita seakan sedang bergerak maju, padahal tak ke mana-mana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini