Saran untuk Pak Prabowo supaya Tidak Marah-marah Terus kepada Wartawan

Saran untuk Pak Prabowo supaya Tidak Marah-marah Terus kepada Wartawan

Ilustrasi (Elijah O'Donnell via Unsplash)

Calon presiden Prabowo Subianto kecewa pada media. Ia menganggap media-media di Indonesia tidak serius bekerja. Masa acara seakbar reuni alumni 212 yang dihadiri 11 juta orang tidak menjadi perhatian?

Angka 11 juta itu melebihi jumlah penduduk Jakarta, lho. Pada 2017, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Jakarta mencapai 10,37 juta jiwa.

Anggaplah seluruh peserta reuni adalah penduduk Jakarta. Itu artinya, penduduk Jakarta bisa ditampung semuanya di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Bahkan, massa tidak perlu meluber ke kawasan lain di Jakarta Pusat, seperti Menteng, Kemayoran, Senen, Benhil, dan lain-lain.

Jika besok-besok Gubernur Anies Baswedan ingin melakukan hal serupa, maka Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, bahkan Jakarta Timur yang terkenal paling padat bakal sepi bagaikan kota hantu.

Lantas, mengapa acara sebesar reuni alumni 212 tidak menjadi headline di sejumlah media? Mengapa media di Indonesia gemar sekali memberitakan kemajuan orang asing? Masa peluncuran robot penjelajah Curiosity ke Mars saja diliput?

Karena itu, sebagai umat muslim yang paling beriman dan memiliki pemahaman agama yang dalam dari Youtube, saya mendorong Pak Prabowo untuk membuat media baru dan fokus ke situ saja. Media yang hanya memberitakan hal-hal yang mau dibaca dan didengar umat.

Kalau perlu, Pak Prabowo jadi pemimpin redaksinya. Bagaimana tidak, beliau paham betul soal jurnalisme dan bagaimana semestinya wartawan bekerja di lapangan. Dengan begitu, Pak Prabowo tak perlu marah-marah lagi sambil menunjuk-nunjuk wartawan, “Kamu TV mana, hah?! Iya kamu dari mana? Kamu TV mana kamu?”

Ya kan yang meliput wartawannya sendiri.

Baca juga: Kiat Menghadapi Orang-orang yang Tak Percaya Media

Itu hanya saran, lho, afwan kalau dianggap lancang. Tapi rasanya, dengan 11 juta alumni yang ada di seluruh Indonesia, media Pak Prabowo bakal jauh lebih kuat daripada Kompas atau Tempo.

Bayangkan, jika yang beli korannya sekitar 10% dari alumni 212, berarti oplahnya sebanyak 1,1 juta dalam sehari. Sesuatu yang bahkan tak bisa dicapai media sekelas Guardian atau Washington Post!

Dengan oplah 1,1 juta, kita bisa membangun media yang sehat. Media yang memberitakan tentang kisah anak durhaka yang menjadi ikan pari, bahaya vaksin, manfaat bekam, dan rahasia iluminati di Garut.

Media tersebut juga bisa menginvestigasi azab dosa-dosa untuk membuktikan bahwa gempa bumi disebabkan oleh LGBT, bukan karena pergerakan lempeng bumi. Kita akan punya bukti tak terbantahkan bahwa tsunami bukan karena gravitasi, tapi karena zina.

Lagipula, percuma negara ini maju, percuma kaya raya, kalau nggak masuk surga. Gitu kan?

Baca juga: Andai Amien Rais Bukan Seorang Politikus

Saya ingatkan media-media di Indonesia untuk bertaubat dan mulai memberitakan hal-hal positif dari Pak Prabowo. Jika tidak bersedia juga, saya dukung Pak Prabowo mundur dari capres dan mulai membangun media.

Dan, demi tercapainya media yang baik, saya kira Pak Prabowo mesti mencari teman atau rekan kerja yang ciamik. Pak Prabowo bisa mengajak Pak Edy Rahmayadi, ketua umum PSSI yang terkenal dengan slogannya “Kalau wartawannya baik, timnasnya juga baik”.

Jika perlu, Pak Edy bisa juga menjadi wakil pemimpin redaksi. Dengan kemampuan riset yang mendalam, seperti yang ditunjukkan di ILC TV One, beliau jago mencari data di antara tumpukan lembaran riset.

Jadi, kalau nanti ada yang coba menghitung jumlah massa reuni alumni 212, apakah 11 juta atau 30-40 ribu, biar beliau yang mengurusnya.

Pak Edy juga terlatih bekerja di bawah tekanan, sesuatu hal yang lumrah di media. Buktinya, meski ditekan untuk mundur dari jabatan sebagai ketum PSSI, beliau tidak surut juga. Lagipula, apa hak Anda menanyakan itu kepada beliau?

Selanjutnya adalah memperkuat media dari sisi teknis redaksional. Untuk itu, Pak Prabowo bisa menarik dua orang lagi. Pertama, Buni Yani untuk mengurus sisi video dan Jonru Ginting dari sisi teks.

Artikel populer: Eksperimen Sederhana tentang Politik di Kalangan Milenial, Apa Reaksi Mereka?

Pak Buni Yani akan sigap mengedit video pidato, sebagaimana pengalaman beliau sebelumnya. Dia juga jago menyebarkan mana saja video yang bagus untuk umat dan mana yang tidak, sehingga mimpi mengalahkan kejayaan MTV bisa segera diwujudkan.

Sementara itu, sebagai penulis veteran, Abangnda Jonru Ginting bisa menulis berbagai berita yang bermanfaat bagi umat. Salah satunya, sambel di kuah bakso yang membentuk angka 2 pada acara reuni 212.

Semua tidak mustahil di tangan penulis macam abangnda. Saya berharap nanti beliau bisa menulis novel monumental berjudul Ketemu Istri di Acara Reuni 212. Sebuah kisah cinta religi yang memuat narasi ikhwan yang menikahi akhwat tanpa modal.

Sebenarnya ada beberapa nama lain yang bisa juga diajak bergabung. Misalnya, Pak Fadli Zon untuk mengisi rubrik sastra. Dengan berbagai puisi yang beliau miliki, bukan tak mungkin nama besar Aan Mansyur atau Fiersa Besari akan runtuh.

Sementara, untuk rubrik hiburan, ada Bung Faldo Maldini yang bisa menulis tentang musik selain Aerosmith dan tangga lagu Billboard.

Dengan demikian, media yang berpihak pada kemajuan umat bukanlah mustahil. Begitu kan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.