Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Ilustrasi (Kendyle Nelsen via Unsplash)

Rata-rata orang tua senang menanamkan konstruk idealitas mengenai kesuksesan, kebahagiaan, dan kemapanan kepada anaknya secara lembut maupun kasar. Sayangnya, persis seperti lagu Mr Big, “Baby baby… it’s a wild world.”

Persentuhan dengan beragam pemikiran, paparan budaya pop, ataupun pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif, seringkali membuat kita – anak-anaknya – menjadi pribadi yang nggak sesuai harapan mereka.

Pada gebetan yang menaruh harapan ke kita, namun nggak bisa kita penuhi, kita bisa bilang, “Maaf, aku nggak bisa menyambut harapanmu.” Dan, bisa menambahkan kalimat manis, “Tapi, di luar sana ada seseorang yang lebih layak kamu sayangi.”

Namun, pada orang tua, kalimat itu nggak bisa kita tambahkan bahwa mungkin kita nggak bisa memenuhi harapan mereka, tapi di luar sana ada calon mantu yang bisa.

Kita bahkan nggak tahu soal masa depan pelaminan. Maka, jadilah gejala quarter-life crisis (QLC) yang mewabah di kalangan milenial, seperti digosipkan media-media.

Terilhami dari buku Mark Manson berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, catatan ini didedikasikan untuk teman-teman yang memiliki konsep suksesnya sendiri, namun seringkali dianggap sebagai perwujudan kegagalan oleh masyarakat. Atau, siapapun yang sedang berproses di jalan masing-masing. Barangkali, kita perlu ber-masa bodoh sesekali.

Saat ini, kita memang bukan selebgram sukses, pendiri start-up unicorn, peserta seleksi CPNS yang lolos di instansi bergengsi, atau sederet perwujudan individu “sukses” lainnya. Dan, kalaupun memang kita sekarang termasuk golongan milenial seperti Nadiem Makarim dkk, lantas apa?

Baca juga: Ya Inilah, Eranya ‘Hidup Tak Seindah Feed Instagram’

Alih-alih menyanjung emosi-emosi positif seperti kebanyakan buku pengembangan diri, Manson justru merayakan derita, kegagalan, dan emosi negatif. Baginya, menerima dengan lapang pengalaman negatif adalah pengalaman positif.

It’s okay to be not okay.

Ide itu yang menjadi starting point ceramah motivasinya. Menjadikan pengalaman negatif sebagai strategi pengembangan diri, yang ujungnya nggak sekadar mencetak ambisi, melainkan merayu orang untuk menjalani hidup tanpa desain kebahagiaan yang dipropagandakan industri kapitalis.

Misalnya, menjadi lebih terkenal, lebih cantik, lebih kaya, lebih banyak mengoleksi sepatu, lebih banyak mengunjungi tempat wisata, dan lain-lain.

Doi mengajak kita – kita yang feed Instagramnya nggak mentereng – untuk tertawa dan woles menghadapi tekanan virtual. Bagi saya, tulisannya jadi semacam afirmasi untuk idealisme yang sesekali melintas di benak, namun terabaikan.

Apa lagi biangnya kalau bukan persentuhan sehari-hari dengan kultur modern? Dunia yang sarat simbol dan fantasi. Membuat orang terobsesi akan tubuh cantik, prestasi, dan materi. Gampang dipermainkan industri dan teknologi, termasuk perkara mimpi-mimpi.

Konsep kesuksesan pun sejak dulu dimonopoli oleh satu pemahaman berupa siklus hidup: sekolah-berkarier-mapan-menikah-beranak. Ini adalah tren di negara kita, jika dilihat dari statistik peserta ajang pencarian bakat di TV, peserta tes CPNS, dan lelucon seputar pertanyaan nikah yang nggak lagi lucu.

Baca juga: Tanda-tanda Mulai Bosan dengan Instagram dan Alasan Mengapa Tetap Bertahan

Katakanlah kamu lolos tes CPNS di Kementerian BUMN, sementara temanmu memilih menjadi ibu penuh waktu karena keinginan mengkader anak-anaknya sedari kecil. Padahal, kalian sama-sama sarjana ekonomi. Mana yang bakal dibilang “sukses”?

Meski temanmu sedang sukarela mengamalkan pilihan medan juangnya – mengasuh di ranah privat – tapi orang seringkali menganggap karier publik lah simbol kesuksesan.

Bisakah ruang domestik mendapat penghargaan setara? Kita bahkan nggak tahu anak asuhan siapa yang kelak menjabat sebagai menteri keuangan negara.

Tiap scrolling feed Instagram, seringkali juga nggak luput dari gambar perayaan hidup dengan aneka prestasi atau jalan-jalan. Kita bahkan nggak tahu setiap foto yang diunggah itu sehari perjalanan atau memang setiap pekan. Sebab, orang bisa berfoto puluhan kali dalam satu lokasi.

Barangkali, ada riset yang berhipotesa tentang kecenderungan mengunggah foto di setiap aktivitas adalah penyakit mental kekinian.

Kita yang proses hidupnya nggak segengsi feed Instagram mereka, nggak memiliki gaji dua kali UMR, fakir prestasi, terlalu miskin untuk jalan-jalan ke luar negeri, seketika merasa jadi pecundang paling sempurna.

Rasa bersalah melanda kala diingatkan pada harapan orang tua. Kita merasa nggak bisa sesukses apa yang didogmakan masyarakat. Dan, krisis eksistensi itupun tercipta.

Bukan bermaksud bersikap bodo amat pada pencapaian karier, melainkan pada konsepsi karier yang itu-itu saja, yang seringkali nggak diketahui juntrungannya dan terlalu berfokus pada hasil sebagai simbol bahagia.

Artikel populer: Di Balik Viralnya Lagu Karna Su Sayang, Menurut Penciptanya

Tentu, seseorang berhak menyusun target pencapaian karier dalam hidupnya, kemudian meraihnya dengan usaha sepadan. Tapi, capaian seperti apa yang layak diperjuangkan?

Nggak ada yang salah dengan cita-cita kuliah di luar negeri atau jadi selebgram, yang bermasalah ketika kita nggak mengerti makna dari cita-cita itu. Kita hanya berpatokan pada ukuran indrawi dan gengsi, yang mana sangatlah… superfisial.

Mungkin, dua ukuran itu juga mendasari karier pejabat dan anggota legislatif yang korup.

Bukankah kalau kita senang belajar disiplin ilmu tertentu, lalu kita kuliah demi prosesnya? Bukan demi gelar dan IPK. Jika memang mendaftar CPNS, karena nilai pengabdiannya, bukan karena gengsi sosialnya. Jika memang gemar menulis, itu karena kecintaan, bukan karena ambisi ingin terkenal.

Perkara kerja dan karya akan bernilai komersial besar atau nggak, membesarkan eksistensi diri atau nggak, itu urusan Tuhan. Yang penting kita belajar semampunya agar setiap kreativitas memiliki makna.

Kecuali, standar berkarya kita seperti Young Lex dan Awkarin, mungkin nggak perlu repot-repot memikirkan kualitas dan nilai estetis dalam berkarya. Mungkin lho, ya.

Sudah belajar dan mengerjakan sebaik mungkin pun belum tentu disukai khalayak. Tapi, jika itu cukup berkontribusi pada nilai-nilai kebaikan yang kita yakini, bukankah bakal memuaskan hati?

Dengan ber-masa bodoh pada hasil, orang bisa merdeka dalam berproses. Merdeka dari tekanan feed Instagram, dari belenggu materi dan simbol-simbol prestasi, atau lain-lain, kecuali dari… bayang-bayang mantan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.