Sandhy Sondoro Diceramahi, Agnez Mo Dibully, Maria Ozawa Dipuji

Sandhy Sondoro Diceramahi, Agnez Mo Dibully, Maria Ozawa Dipuji

Sandhy Sondoro, Agnez Mo, Maria Ozawa. (Instagram)

Pekan terakhir di bulan November yang penuh kejutan. Selain lebih sering menarik selimut karena cuaca dingin, saya juga kembali mencermati teks pidato kebudayaan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 6 April 1977, yang berjudul Netizen Manusia Indonesia.

Pidato itu berisi enam ciri manusia Indonesia, Yayasan Obor Indonesia telah mengalihwahanakan pidato tersebut dalam buku berjudul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban). Beberapa ‘ciri’ dalam pidato itu tetap relevan hingga sekarang, terutama poin pertama; hipokrit dan munafik.

Coba kita perhatikan tiga ‘isu’ yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial belakangan ini, dan bagaimana kebanyakan dari kita mengambil sikap. Maka, dalam waktu yang singkat, kita akan menyadari bahwa hipokrit dan munafik yang diidap orang Indonesia benar adanya.

Pertama, soal kehebohan akun Sandhy Sondoro di Twitter yang menyukai unggahan konten dewasa. Kedua, Agnez Mo yang di-bully habis-habisan karena potongan video wawancaranya di Amerika menjadi viral. Ketiga, dukungan Maria Ozawa, mantan bintang film dewasa, kepada kesebelasan Timnas kita di ajang pembuka Sea Games di Filipina.

Baca juga: Nasionalisme yang Bukan Kaleng-kaleng

Yang menarik dari tiga peristiwa itu adalah, seluruhnya terfokus pada dua pokok ‘perjulidan’ yang selalu digemari masyarakat kita; isu nasionalisme dan perkara selangkangan. Alhasil, orang berlomba-lomba ambil bagian dalam percakapan, tak peduli apakah sikap yang diambil terkesan kontradiktif antara satu kasus dengan kasus yang lain.

Mochtar Lubis dalam pidatonya berkali-kali menyebut ciri itu dilandasi oleh ABS alias “Asal Bapak Senang”. Kini, tentu saja, semua sikap itu memiliki pretensi ANS alias “Asal Netizen Senang”. Panen konten, luuur.

Agnez Mo, di mata sebagian orang, dianggap telah melunturkan rasa cinta pada negaranya sendiri. Eh tapi, cinta yang macam apa? Bukannya kita tahu; cinta ini, kadang-kadang tak ada logika, ilusi sebuah hasrat dalam hati, nasionalisme hanya untuk diimajinasikan. (Agnez Mo feat Benedict Anderson).

Baca juga: Nasionalisme dalam Seporsi Makanan

Saya rasa, perkara ini tak perlu dijelaskan panjang lebar, intinya kita tidak memahami konteks sekaligus gemar memelintir pengakuan, tetapi terlampau bersemangat untuk menghakimi.

Padahal, Agnez kerap membawa identitas budaya. Salah satunya, bagaimana ia tampil percaya diri dengan batik di video musik berjudul Long As I Get Paid. Memang sulit kalau ultra-nasionalisme nasionalisme kita diukur berdasarkan kecakapan baris-berbaris di media sosial.

Sementara itu, Maria Ozawa atau yang pernah dikenal dengan nama Miyabi dalam industri film dewasa Jepang, menuai pujian setelah mengunggah keseruannya lewat Instastory ketika menonton Timnas Indonesia U-23 berlaga melawan Thailand U-23 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina. Ia tampak memakai jersey timnas, kemudian mencium bendera merah putih.

Tentu saja, tepuk tangan riuh berdatangan setelahnya. Terlebih, kita menang 2-0 atas Thailand. Bagi sebagian orang inlander dan penggemar bokep, ini adalah kalkulasi paripurna untuk menumbuhkan nasionalisme ((semu)).

Baca juga: Apa-apa Porno, Mungkin Itu Cuma Pikiranmu Saja

Padahal, kalau mau stalking akun IG doi, kita akan menemukan satu fakta yang bikin hati bergetar… Bukan, bukan apa-apa, kita akan melihat doi pun berbalut bendera negara lain saat menjadi brand ambassador portal judi onlen. KERJA! KERJA! KERJA! Jangan GR dulu, gaes…

Tapi apa nyana, karena kelewat senang, mereka menganggap itu sebagai hal yang membanggakan. Orang-orang semacam ini, saya yakin betul, tipikal orang yang kalau jalan-jalan ke Borobudur sering minta foto bareng ‘bule’.

Bahkan, sampai ada yang membandingkan Maria Ozawa dan Agnez Mo soal sikap ‘Cinta NKRI’. Lha? Nggak sekalian aja bikin petisi daring mendukung Maria Ozawa jadi pengurus PSSI?

Di sisi lain, Sandhy Sondoro habis menjadi sasaran ‘ceramah’ netizen karena akunnya di Twitter tercyiduk menyukai unggahan konten dewasa. Bahkan, akun Sandhy sampai digembok beberapa saat kemudian. Betapa tidak menyenangkannya dipecundangi oleh hal semacam itu, bukan?

Orang-orang Indonesia yang selama ini menjadi salah satu ceruk pasar terbesar industri pornografi, yang gemar memburu video esek-esek dengan ungkapan “Bagi link, Gan”, tiba-tiba jadi ‘polisi moral’ sekaligus ‘hakim’. Wow, ntap…

Artikel populer: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Apa sulitnya memahami bahwa yang dilakukan oleh akun Sandhy sepele belaka, yakni sebagai konsumen pornografi sebagaimana kita? Siapa yang dirugikan? Yang berbahaya dari industri pornografi adalah human trafficking dan kekerasan atas tubuh manusia.

Memang sulit menjaga konstruksi nalar yang koheren, terlebih selalu merasa lebih saleh dan bijak, lalu menikam dengan “Maaf cuma mengingatkan”.

Sebaiknya kita akhiri saja, dan tunggu babak selanjutnya. Saya membayangkan, bagaimana jika Sandhy Sondoro, Agnez Mo, dan Maria Ozawa terlibat dalam satu kerja sama? Sandhy dan Agnez bernyanyi, Maria Ozawa membintangi video musiknya. Sungguh itu lebih mantap dan internesyenel, Akhy…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.