Sonic the Hedgehog (Paramount Pictures/Sega)

Tak ada yang setabah sutradara film Sonic the Hedgehog. Ketika trailer film live-action itu baru keluar, warganet mencela habis-habisan desain karakter Sonic. Desain pertama yang agak humanoid dinilai buruk. Soalnya Sonic memang bukan manusia, melainkan landak.

Mendapat banjir kritikan, Jeff Fowler – sang sutradara – bersama timnya merevisi desain Sonic. Akibatnya, jadwal penayangan film adaptasi gim ini molor tiga bulan. Namun, mentang-mentang Sonic identik dengan kecepatan, revisinya pun diselesaikan secara kilat. Hasilnya, Sonic tampil seperti versi gim, dengan mata besar dan menggemaskan.

Sebelumnya, karakter Sonic sempat jadi cameo di film animasi Wreck-It Ralph yang berlatar dunia gim. Di situ, Sonic digambarkan sebagai tokoh yang cukup bijak dan terkenal di kalangan karakter gim. Kemunculannya yang sesaat di film Disney itu cukup membangkitkan nostalgia, terutama bagi para penggemar gimnya semasa arkade berjaya.

Menyusul film live-action Pokemon bertajuk Detective Pikachu, film Sonic the Hedgehog dirilis lebih cepat dari jadwal. Yah, namanya juga landak yang memiliki kecepatan supersonik. Maklum lah.

Baca juga: OK Boomer, Adaptasi ‘Harvest Moon’ ke Dunia Nyata untuk Selamatkan Anak Bangsa

Ternyata Sonic dan Pikachu versi live-action ini sama bawelnya. Sepanjang film, Sonic sering bermonolog layaknya Deadpool (dan Pikachu yang memang sama-sama Ryan Reynolds). Tentunya, minus muncratan darah dan kata-kata kotor. Sebab, filmnya ditujukan untuk semua umur. Jokes-nya aman dan ringan, tapi tetap lucu dan relevan. Tipikal lelucon yang butuh pengetahuan referensi budaya pop untuk menertawakannya.

Semesta film Sonic the Hedgehog mengakui keberadaan Star Wars, Men in Black, dan Vin Diesel dari waralaba Fast & Furious, tetapi tokoh-tokohnya tidak mengenal Sonic. Mereka tidak menyadari eksistensi Sonic karena ia digambarkan sebagai sosok yang selalu bergerak cepat, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak bisa melihatnya.

Alasan Sonic tidak pamer kemampuan di depan orang-orang sama seperti Doraemon, yakni trauma masa lalu. Di tempat asalnya, Sonic diburu oleh orang-orang jahat yang mengincar kekuatannya. Sampai akhirnya, Sonic kabur melalui cincin ajaib yang mirip ‘Pintu ke Mana Saja’ milik Doraemon.

Baca juga: Doraemon sebagai Kritik kepada Orang Tua

Singkat cerita, Sonic bermukim di bumi seorang diri. Dia menjalani hari-harinya sendirian. Main tenis meja saja sendiri. Bahkan bisbol pun demikian. Alhasil, ia tak punya teman untuk merayakan kemenangan karena memang tidak ada lawan yang dikalahkan.

Gara-gara mengasingkan diri itulah, Sonic mengalami kesepian akut. Membuatnya kehilangan kontrol atas kekuatannya, energi listrik dari tubuhnya pun meluap dan mengakibatkan satu kota mati lampu. Ulah Sonic tersebut bikin pemerintah ketar-ketir dan mengutus seorang doktor robotika untuk memburu ‘sang teroris listrik’.

Setelah itu, filmnya berisi adegan kejar-kejaran antara Doctor Eggman dan Sonic. Jika kepintaran Doctor Eggman dalam ilmu robotika mirip Iron Man, Sonic adalah speedster seperti The Flash. Atau, Quicksilver kalau di semesta Marvel. Selayaknya pelari cepat, ketika menggunakan kekuatannya, Sonic bisa melihat dunia berjalan lambat, sementara dirinya bisa berlari kesana-kemari.

Wajar saja jika pemerintah memburu Sonic. Sebab, pemerintah memerlukan kekuatan yang dimiliki Sonic: kecepatan. Mungkin supaya mampu menyelesaikan masalah dengan cepat. Oh, atau selama ini pemerintah punya kekuatan itu tapi tidak digunakan?

Baca juga: Berurusan dengan Netflix, Pemerintah kok Malah Ikutan Jadi Drama?

Benda pusaka yang dibawa-bawa Sonic punya fungsi seperti lingkaran magis yang jadi salah satu jurus Doctor Strange dan kelompok sihirnya. Namun, tenang, ending filmnya tidak seperti Avengers: Endgame kok. Tidak ada adegan Sonic menggunakan lingkaran magis untuk mengundang teman-temannya dari dunia gim untuk minta bantuan melawan Doctor Eggman. Terus, dari lubang-lubang itu muncul Mario Bros, Pacman, Angry Birds, Crash Bandicoot, Sub-Zero ‘Mortal Combat’, Plants vs Zombies, abang-abang GTA, dan lain-lain.

Dan, secepat-cepatnya Sonic, sepatunya bukanlah sneaker brand lokal yang itu. Itu loh sepatu yang dijual terbatas di waktu tertentu, terus lakunya cepet banget sejak pertama dibuka. Jangan-jangan, makhluk supercepat seperti Sonic saja tidak bisa membalap kecepatan habisnya stok sepatu dengan semboyan ‘Local Pride‘ itu. Kalau Sonic ngotot mau pakai sepatu itu, dia harus membeli di reseller yang menjualnya dengan harga 10 kali lipat lebih mahal.

Selain cepat, sifat baik yang patut ditiru dari Sonic adalah sabar menerima kritik dan tetap asyik. Ketika dikritik, tidak tersinggung dan marah. Justru bilas muka, sikat gigi, evaluasi. Kritikan yang membangun wajib ditampung, lalu digunakan dalam proses berbenah diri.

Artikel populer: Generasi Tua Minta Dihormati, tapi kok Sering Bikin Kontroversi?

Belakangan ini, pejabat yang sempat mendapat banjir kritikan adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Selama ini, Anies tampak sabar menerima kritik, atau justru tidak didengarkan sama sekali?

Namun, menerima kritik saja tentu belum cukup. Mesti dibarengi dengan langkah konkret untuk perubahan. Kalau Sonic yang landak saja mau mengevaluasi diri, Anies pun perlu memikirkan gebrakan nyata yang bisa mengubah Ibu Kota menjadi lebih baik.

Oh ya, perihal menerima kritik dan mau merevisi ini tidak hanya berlaku untuk Anies saja. Presiden Jokowi juga dong!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini