Salahkah Membela Salah?

Salahkah Membela Salah?

Mohamed Salah (Liverpool Echo)

Sebagai permainan, usia sebuah pertandingan sepak bola memang cuma sembilan puluh menit. Namun, sebagai tontonan, pertandingan sepak bola bisa berumur jauh lebih lama ketimbang itu. Pertandingan final Liga Champions musim ini bisa dijadikan contoh yang tepat.

Adalah Real Madrid dan Liverpool yang bertanding kala itu. Laga yang digelar di NSC Olimpiyskiy Stadium di kota Kiev, Ukraina, tersebut begitu krusial bagi kedua kesebelasan.

Real Madrid mengejar rekor sebagai satu-satunya klub yang menjuarai tiga edisi Liga Champions berturut-turut, sementara Liverpool memburu gelar keenam di Liga Champions.

Hasil pertandingan itu, Anda tahu, menahbiskan kembali klub ibu kota Spanyol tersebut sebagai kampiun. Namun, bukan rekor fantastis Real Madrid yang menjadi perbincangan setelahnya, bukan pula penampilan kiper Liverpool yang malam itu seperti baru belajar bermain bola, melainkan cedera yang dialami Mohamed Salah.

Pemain asal Mesir itu menderita cedera di pertengahan babak pertama saat berebut bola dengan Sergio Ramos. Bek timnas Spanyol tersebut seperti melakukan bantingan ala pemain gulat kepada Salah hingga menyebabkan dislokasi bahu. Wasit tak memberikan tendangan bebas, sementara Salah terkapar hingga perlu diganti pemain lain.

Malang bagi Liverpool. Ketergantungannya pada penyerang berambut kribo ini membuat nasib pertandingan itu sudah bisa dipastikan setelah insiden tersebut.

Tak ada lagi inisiator serangan sekomplet Salah yang bisa mengubah hasil pertandingan. Meskipun Liverpool mampu mencetak satu gol, ketiadaan Salah amat berdampak pada ketajaman lini serang.

Malang juga bagi Ramos. Pemegang rekor jumlah kartu merah di La Liga sepanjang masa ini segera duduk di kursi pesakitan. Ramos dianggap sengaja mencederai Salah, dan akun Instagramnya diserbu netizen yang marah bahkan sebelum pertandingan itu berakhir.

Namun, berbeda dengan Liverpool, nasib sial Ramos berlanjut hingga berhari-hari setelahnya. Di Mesir, seorang pengacara bernama Bassem Wahba mengajukan tuntutan sebesar satu miliar Euro kepadanya.

Bassem menilai Ramos sengaja mencederai Salah, sehingga merugikan timnas Mesir yang akan berlaga di Piala Dunia dua minggu lagi.

Itu di Mesir. Sementara di Indonesia, muncul kabar mengenai Aksi Bela Salah yang akan digelar di depan Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta. Aksi yang rencananya digelar pada Kamis (31/5) menuntut dua hal: hukuman bagi Sergio Ramos dan pencabutan gelar juara Liga Champions milik Real Madrid.

Dua kejadian itu menunjukkan bahwa Mohamed Salah bukan lagi sekadar pemain sepak bola. Salah telah didapuk menjadi seorang superhero.

***

Superhero merupakan karakter yang memiliki kemampuan istimewa tertentu yang memungkinkannya untuk melakukan hal-hal luar biasa untuk kepentingan orang banyak. Ia berada pada ranah fiksi, dan popularitasnya didongkrak oleh industri perfilman dan perbukuan.

Namun, ranah fiksi terkadang menjadi cerminan dari realitas. Selain tokoh-tokoh superhero fiksi semacam Iron Man dan sekondannya, kita juga memiliki tokoh-tokoh superhero di dunia nyata, meski superhero milik seseorang akan berbeda dengan superhero yang dimiliki orang lain. Pengidolaan dan pengharapan adalah kata kuncinya.

Mohamed Salah adalah salah satunya, dan jujur saja, amat mudah untuk mengidolainya.

Bagi pendukung Liverpool, Salah punya atribut yang sempurna untuk dijadikan superhero: ia merupakan penyerang yang tajam, yang dibuktikannya dengan predikat pencetak gol terbanyak di liga Inggris.

Dengan kemampuannya tersebut, fans Liverpool menaruh harapan besar kepadanya untuk mengakhiri paceklik gelar yang diderita klub tersebut bertahun-tahun.

Bagi penggemar sepak bola yang bukan pendukung Liverpool, Salah juga dijadikan superhero. Dengan kemampuannya yang di atas rata-rata, dan didukung oleh kecenderungan Liverpool untuk selalu tampil menyerang di tiap pertandingan, penggemar sepak bola mengharapkannya untuk mengakhiri hegemoni Messi dan Ronaldo yang telah berlangsung sedekade lamanya.

Bagi orang-orang yang lebih menyukai beribadah ketimbang menonton sepak bola, Salah juga kerap dijadikan teladan: meskipun garang di dalam lapangan, Salah adalah pribadi yang saleh di luar lapangan.

Mudah sekali menemukan berita dan foto tentang Salah yang sedang mengaji atau shalat atau berbuka puasa atau berderma. Orang-orang di kategori ini pun menjadikannya sebagai ikon generasi muda Islam.

Superhero membutuhkan sosok villain agar eksis. Dan, peran antagonis tersebut, secara kebetulan, jatuh kepada Sergio Ramos.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Ramos kepada Salah adalah tindakan yang wajar belaka. Bagaimanapun, Ramos merupakan pemain bertahan yang tugas utamanya adalah menghentikan serangan lawan, dengan cara apa pun.

Kecuali, ia sudah sangat sinting, rasa-rasanya Ramos tidak bermaksud mencederai siapapun saat sedang bertugas, tapi sayangnya ia mencederai orang yang salah.

Maka gemparlah jagad maya merundung Ramos. Fans Liverpool ngamuk, karena ia menghancurkan peluang Liverpool mengangkat piala. Penggemar sepak bola muntab, karena ia bermain kotor dan secara tidak langsung melanggengkan hegemoni Ronaldo.

Sementara orang-orang yang tak tahu apa pun soal sepak bola kecuali pemain saleh bernama Salah, ikut marah karena idolanya dicederai oleh seorang yang bertato dan kafir dan bertampang sengak.

Intinya, tak ada pemain semalang Sergio Ramos yang sampai dibenci separuh penduduk bumi.

Namun, perlukah membela Salah dengan cara-cara seperti mengajukan tuntutan hukum dan melakukan aksi demonstrasi?

Bila Salah dipandang sebagai sekadar pemain sepak bola berbakat, rasa-rasanya itu merupakan tindakan yang berlebihan. Harap dicatat bahwa Salah bermain sebagai penyerang, satu posisi yang rentan mendapat perlakuan keras bahkan kasar dari pemain lawan. Salah tentu memahami konsekuensi dari pilihannya bermain di posisi ini.

Permainan keras dari pemain-pemain Real Madrid tentu sudah diprediksi oleh Salah. Pada laga dengan atmosfer sebesar final Liga Champions, kubu Real Madrid tentu sudah memperhitungkan siapa saja pemain Liverpool yang berpotensi membikin repot mereka. Salah, dengan atribut dan pencapaiannya di liga lokal, pastinya bakal mendapat pengawalan ketat di dalam lapangan.

Sesuatu yang tidak diprediksi dan diharapkan oleh siapapun, bahkan barangkali oleh Sergio Ramos sekalipun, adalah cederanya Salah. Sayangnya, itulah yang terjadi.

Namun, bila Salah dipandang sebagai superhero, seseorang yang dijadikan tempat bergantungnya harapan, maka tindakan menuntut dan menggelar demonstasi adalah tindakan terciamik.

Meskipun superhero memiliki kemampuan superior, ada kalanya ia kalah. Saat itulah, ia membutuhkan dukungan moral dari orang-orang yang selama ini dibelanya, dan memang itulah yang sedang terjadi terhadap Salah saat ini.

Jika Anda menganggap Salah sebagai superhero sepak bola, Anda bisa mengajukan gugatan perdata seperti yang dilakukan oleh Bassem Wahba.

Namun, jika itu dinilai berlebihan, Anda bisa ikut menandatangani petisi yang digagas oleh Wools – sebutan untuk pendukung Liverpool yang berasal dari luar Liverpool.

Petisi yang dibuat di change.org ini berisi tuntutan kepada UEFA dan FIFA untuk menghukum Sergio Ramos, dan sampai saat ini berhasil mengumpulkan lebih dari lima ratus ribu tanda tangan.

Namun, bila Anda menganggap Salah sebagai superhero di bidang lain, khususnya agama, Anda bisa mengikuti Aksi Bela Salah di Jakarta. Bukan saya yang menyimpulkannya secara serampangan, melainkan penggagasnya sendiri, yaitu Mohammad Dendi Budiman, yang berkata demikian:

“Sebab, kan, ini bicara soal sepak bola dan ada saudara kami sesama muslim yang sedang teraniaya ya. Sebenarnya kami ingin menggelar aksi damai. Iya, aksi damai,” kata Dendi kepada CNNIndonesia.com.

Jadi, mana yang Anda pilih?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.