Tipe Orang yang Salah Paham soal Bowo

Tipe Orang yang Salah Paham soal Bowo

Ilustrasi (Gerhard Gellinger via Pixabay)

Peringkat kedua Pilkada Jawa Barat versi Gerindra, Ridwan Kamil, mengunggah sebuah foto dari bocah berakun @kazastarxx. Sang bocah memang sedang foto bareng wali kota Bandung itu dan caption-nya ciamik: “Foto Sama Pak Ridwan Kamil Aja Gratis, Masa Sama Bowo Bayar 80k.”

Tak lama, Ridwan Kamil mem-posting foto itu berikut caption: “Iya de, tenang dengan aya mah gratis.” Sebuah caption tanpa tagar, yang menandakan RK memang lagi agak selow dan membuka foto yang di-tag oleh si bocah.

Siapa duga, unggahan itu berhasil menggaet atensi lebih dari 8 juta pengikut RK, berikut jutaan lainnya yang tidak mengikuti tapi tetap kepo. Ditunjang tangkapan layar dari akun-akun politik, hiburan, gosip, hingga jualan daring, dalam waktu singkat lebih dari 30 ribu komentar terkumpul.

Seperti biasa, namanya juga netizen Indonesia, sebagian tergolong sumbu pendek. Mereka malah marah-marah karena unggahan itu. Sampai-sampai RK perlu bikin postingan klarifikasi 19 jam setelah unggahan pertama.

RK semata-mata mau bilang bahwa yang dia maksud dengan Bowo di foto tersebut adalah Bowo Alpenliebe alias Prabowo Mondardo. Soalnya, netizen yang marah-marah nggak jelas itu mengira RK sedang menyindir Bowo yang adalah Prabowo Subianto, ketua umum Gerindra.

Hal itu kemudian dicocok-cocokkan dengan pernyataan mengambang yang pernah disampaikan RK soal keberpihakannya kelak pada Pilpres 2019. Ya logis saja kalau RK mengarah ke Jokowi, karena beberapa partai pengusungnya mendukung Jokowi.

Namun, sebagai calon gubernur yang unggul dalam hasil hitung cepat (quick count) oleh sejumlah lembaga survei pada Pilkada Jabar, daerah yang disebut-sebut sebagai basisnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS), RK tentu harus diplomatis juga.

Yang nggak logis adalah orang-orang yang mengira postingan tentang Bowo Alpenliebe ini sebagai sikap politik RK untuk tidak memilih Prabowo tahun depan.

Lebih nggak logis lagi orang-orang yang menuduh bahwa RK tidak akan melakukan hal yang sama, jika bocah Tik Tok yang tenar punya nama Joko.

Reaksi RK yang merasa perlu untuk mengunggah klarifikasinya sungguh menandakan betapa sebagian netizen Indonesia benar-benar kurang piknik, kurang vitamin, kurang madu, kurang tepung, hingga kurang adonan.

Padahal, Prabowo Subianto sendiri saja tidak ada masalah dengan postingan itu. Ya iyalah, mana ada mantan danjen Kopassus mengutip Rp 80 ribu untuk sekadar meet and greet?

Sesungguhnya, kisah unggahan RK ini justru membongkar permasalahan besar pengasuhan anak di Indonesia. Bahwa kisah orang yang marah-marah gegara salah paham soal Bowo ini memang bikin ngakak di permukaan, namun jadi miris jika ditelaah lebih dalam.

Saya mencoba mencari profil beberapa netizen yang marah-marah dan mengira RK menyinggung Prabowo Subianto. Sebagian besar yang komentar berasal dari akun-akun orang berusia matang dan kemungkinan besar memiliki anak.

Para orang tua itu asyik berkomentar di lapak RK, marah-marah pula, karena mereka tidak tahu bahwa Bowo yang dimaksud adalah Bowo Alpenliebe, seleb Tik Tok.

Ada banyak tangkapan layar yang beredar, yang memperlihatkan dengan jelas nama-nama akun yang salah duga soal Bowo yang dimaksud RK. Bagaimana, jika pada saat yang sama, anak-anak mereka justru sedang memuja Bowo di Tik Tok?

Kalau kita coba bikin klaster, bisa disimpulkan bahwa ada sebagian orang tua yang telah memiliki preferensi politik tertentu, yang aktivitasnya di media sosial tidak jauh-jauh dari urusan benci dan membenci dalam konteks politik. Kalangan ini tidak mengenal Bowo.

Mereka lebih sibuk membenci bahkan mengumbar kebencian – sebagaimana yang terang-terangan muncul di deretan komentar pada postingan Ridwan Kamil.

Namun, pada saat yang sama, bahkan dalam medium linimasa yang sama, mereka sama sekali tidak mengenal sosok yang lagi dipuja banyak anak remaja. Dugaan paling jelas adalah mereka tidak mengetahui aktivitas media sosial anak-anaknya.

Inilah potret buram pengasuhan anak yang kemudian terbuka lebar oleh kebencian yang beredar dalam kolom komentar fotonya Ridwan Kamil. Padahal, kita ketahui bersama, di zaman edan ini, kontrol orang tua pada perilaku anak di media sosial menjadi suatu keharusan.

Anak-anak tidak bisa dilepas begitu saja di media sosial. Sudah banyak kejadian, akibat ulah anak di media sosial, orang tua jadi kena batunya.

Bagaimanapun, orangtua harus mengambil peran dalam memantau hal-hal yang dilakukan anaknya di media sosial, termasuk jika anaknya menyukai Bowo dan kemudian minta jajan Rp 80 ribu untuk bisa meet and greet dengan remaja yang katanya tampan itu.

Dalam pola pengasuhan modern adalah logis jika orang tua berteman di media sosial dengan anak, baik secara terang-terangan maupun dengan akun anonim.

Dalam pendekatan yang lebih sempurna lagi, orang tua dan anak akan bertukar kisah dan isi pikiran tentang apa yang beredar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk media sosial.

Orang tua yang dimaksud dalam tulisan ini tampak begitu bebas menaruh komentar di media sosial pesohor, tanpa mereka tahu bahwa anak-anak mereka sedang sibuk dengan Tik Tok, sedang sibuk dengan Bowo, sedang menikmati duet dengan Bowo.

Lantas, masa depan anak seperti apa yang kita harapkan dengan orang tua yang lepas pengawasan seperti ini?

Tampaknya, negeri ini memang harus menikmati bonus demografi dengan kombinasi paling suram: anak-anak fokus pada hal-hal yang kurang berfaedah, sedangkan orang tua lebih peduli untuk membenci, alih-alih mengawasi anak-anaknya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.