Orang Sering Keluhkan Bahan Pangan, Kini Saatnya Anak Petani Bicara

Orang Sering Keluhkan Bahan Pangan, Kini Saatnya Anak Petani Bicara

Ilustrasi (Shree Vallabh via Pixabay)

Akhir-akhir ini lalu lalang berita tentang Indonesia darurat regenerasi petani. Kabar yang tidak menyenangkan bagi yang mendaku negara agraris.

Berita krisis petani muda tersebut dilengkapi dengan data-data memprihatinkan. Mulai dari persentase jumlah alumni jurusan pertanian yang enggan bertani hingga anak petani yang tak berminat mengikuti jejak keluarganya.

Tersebutlah hanya 37% pemuda dari keluarga petani yang berminat jadi petani, sisanya 63% tidak berminat menjadi petani. Saya anak petani dan saya termasuk dari 63% itu.

Dari CNN hingga Tirto, beberapa alasan anak petani tak lagi berminat menjadi petani, antara lain pertanian butuh modal besar, butuh waktu lama, dan tidak menjanjikan masa depan. Namun, tidak satupun dari alasan tersebut yang menjadi alasan saya tidak mengikuti jejak bapak sebagai petani.

Konon, ini kata ibu, bapak pernah berkata di awal pernikahannya bahwa ia akan sangat senang sekali apabila memiliki lima anak laki-laki. Alasannya sederhana, ia akan punya regenerasi yang akan melanjutkan kariernya. Sebagai petani.

Duhai Allah yang Maha Pemungkin Doa, doa bapak terkabul. Bukan cuma lima, tetapi enam saudara saya semuanya laki-laki. Meranalah ibu, sebab tak ada yang membantunya di dapur. Keluarga saya tergolong keluarga patriarki. Dulunya.

Demi mempersiapkan anak-anaknya menjadi petani, bapak membeli lahan seluas-luasnya di dua kampung. Anak-anaknya dilatih sejak kecil menjadi petani. Sawah, gunung, tebing, lembah, dan sungai adalah training centernya.

Pada pagi-pagi sekali, saya sudah bangun mengeluarkan sapi dari kandangnya. Lalu mandi di sumur dekat rumah, setelah itu berangkat dinas ke sawah.

Saat masih bocah ingusan kelas 2 SD, saya sudah pandai membajak sawah dengan memakai jasa sapi – bukan traktor – meski tentu tak selihai bapak. Saya sudah pandai mengarahkan arah sapi sambil memukul punggungnya. Maafkan saya sepi, eh sapi.

Herriii… heriiii… ho ho La Bolong… La.”

Herri itu istilah bahasa petani di kampung ketika mengarahkan sapi terutama saat membajak sawah. Sampai sekarang, sampai saya mengambil jurusan Linguistik di Amrik pun, masih belum tahu artinya. Masih misteri. Mungkin hanya sapi, petani, dan Allah yang tahu.

Baca juga: Tutorial Bertani yang Cocok dengan Selera Anak Milenial

Saya dibiarkan bapak membuat sawah-sawah kecil. Saya olah sendiri. Tanami padi sendiri. Hasilnya cukup satu sampai tiga liter beras. Melihat keterampilan itu, bapak sudah sangat yakin akan ada penerusnya setelah kelima kakak saya membandel dengan merantau hingga ke Malaysia. Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Dua di antaranya memang akhirnya kembali menjadi petani. Sisanya bekerja di kota. Dibandingkan dengan kakak-kakak yang bekerja di kota, kakak di kampung sebagai petani sebenarnya memiliki penghasilan lebih menjanjikan.

Almarhum kakak pertama dalam sekali panen merica bisa meraup untung puluhan juta. Keuntungan ini bisa bertambah ketika panen cengkeh atau hasil perkebunan lainnya.

Walau begitu, saya tetap tak berminat terjun langsung sebagai petani. Saya berkeras untuk melanjutkan kuliah. Saya tetap mengarahkan mereka kelak menjadi petani dengan memilih jurusan pertanian, tetapi mereka tetap harus kuliah lebih dahulu.

Mereka boleh jadi petani, tetapi harus menjadi petani cerdas. Menjadi terdidik agar tidak mudah direndahkan dan dibodohi oleh mereka yang berpendidikan adalah alasan utama mengapa saya ‘memberontak’.

Sudah cukup kenyang melihat bapak – seperti juga petani-petani tak berpendidikan di kampung – diperalat oleh mereka yang berpendidikan tinggi.

Di zaman keemasannya, bapak memiliki kebun cengkeh, cokelat, kopi, dan perkebunan lain dengan hasil yang cukup melimpah. Tetapi beberapa orang berpendidikan tinggi yang seharusnya membantunya justru menipunya, termasuk pejabat di kampung yang seharusnya melindungi warganya.

Sudah menjadi rahasia umum, mereka yang bekerja sebagai petani di kampung memang berpendidikan rendah dan seringkali menjadi korban penipuan, karena mereka polos dan mudah dikelabui.

Itu pulalah yang dialami bapak berkali-kali. Pernah, seorang sales asuransi mendatanginya ketika habis panen. Konon, asuransi itu untuk masa depan saya dan adik yang bungsu.

Menurutlah bapak demi anak-anaknya. Disetornya lima juta rupiah. Bagi kami, jumlah itu tidak kecil apalagi di tahun 1998. Apa daya bapak ditipu.

Pernah pula seorang pengusaha datang ke kebun. Diangkutnya berkubik-kubik kayu terlebih dahulu. Pengusaha itu memberikan uang muka. Sisanya menyusul setelah laku.

Bapak percaya sebab ia orang kaya dan lulusan SMA. Tetapi bapak ditipu juga rupanya. Pedagang lain yang membodohi bapak juga tak sedikit.

Artikel populer: Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Dan, yang paling membekas dan menyesakkan ketika beberapa hektare tanah yang telah diolah, ditanami jambu mente, dan tanaman-tanaman lainnya, namun diambil paksa oleh seorang bangsawan dan berpendidikan tinggi di kampung.

Bapak yang tidak pernah sekolah itu bisa apa. Inti dari semuanya adalah petani dengan derajat pendidikan rendah sangat rentan ditipu.

Saya ingin cukupkan pembodohan itu pada bapak. Saya tidak ingin terulang kembali kepada keluarga saya juga kepada para petani di kampung.

Saya tidak ingin ada lagi caleg yang datang ke rumah membodohi petani dengan janji pupuk palsu. Saya juga tidak ingin tanah petani direbut karena tidak mampu mengungkapkan pembelaannya di pengadilan.

Hal lain yang menyebalkan menjadi petani adalah persepsi di mata masyarakat yang belum banyak berubah. Petani masih dipandang tidak berpendidikan, tidak pintar, tidak intelek, dan ketinggalan zaman. Kampungan.

Jika petani ke kota, mereka dilihat sebagai orang kampung yang kulitnya legam hitam, yang pakaiannya apa adanya, dan tentu jarang melihat mal. Mereka ditertawai, jika masih gugup naik tangga elevator.

Di kampung juga sama. Mereka yang petani tidak diperlakukan sama dengan mereka yang sarjana. Ketika ada acara, yang sarjana akan dipersilakan sepenuh hormat, sedangkan petani dilayani sekenanya saja.

Ketika petani datang ke bank, puskesmas atau kantor camat, stafnya lebih sering melayani dengan wajah cemberut. Berbeda jika yang datang adalah guru, pejabat, bangsawan atau orang kaya, mereka akan tersenyum lebar sembari membungkuk.

Maka wajar saja, jika petani selalu merasa inferior, selalu merasa disepelekan sebab memang demikianlah kenyataan sosialnya.

Dalam dunia percintaan, petani tidak masuk kategori calon menantu idaman. Bagi calon mertua, petani tidak menjanjikan masa depan cerah.

Sementara bagi gadis-gadis, petani juga bukan calon suami idaman. Mereka menginginkan calon suami yang gagah dan kulitnya putih seperti di FTV-FTV itu. Bagi kami, petani yang setiap hari terpapar matahari ya mana bisa. Apalagi, petani yang belum sukses.

Para calon istri idaman itu melirik saja kepada para petani sudah patut disyukuri. Bagi gadis dan orang tuanya, petani itu tidak keren. Yang keren itu yah PNS, berseragam tentara atau polisi, yang honorer dengan tulisan ‘LINMAS’ di lengan baju seragamnya, atau yang berdasi.

Kemudian, yang kerjanya di kantor, yang berjas, yang bermobil walau semuanya bisa saja dari hasil korupsi. Merekalah daftar calon suami idaman. Yang petani mah lewat.

Jadi, jika kelak – dan memang akan begitu – Indonesia darurat petani, beras dan bahan pangan harus diimpor, harganya melangit, ya jangan salahkan kami anak-anak petani yang ogah menjadi petani.

Terus kalau beras habis mau makan apa kanda? Makan tuh cinta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.