Ilustrasi single. (Image by adamtepl from Pixabay)

Nyatanya masih banyak orang yang sulit atau memang enggan memahami bagaimana perempuan lajang bisa bahagia. Kalau nonton video Narasi Signature di YouTube berjudul “Kalau Cewek Mah Bebas: Cara Jawab Kalau Ditanya Kapan Nikah”, ada beragam alasan dari para narsum dan komentar netizen. Saya pun sempat komen begini:

“Saya tahun ini udah mau 40 dan santai saja tuh, meski masih lajang. Mau menikah atau nggak, lihat gimana nanti. Saya nggak akan lantas ngemis-ngemis minta dinikahi cuma karena kemakan nyinyiran orang. I’ll get married when I want to, not because I have to or people think I should!”

Ada yang merespons positif, tapi banyak yang julid. Ada laki-laki yang bilang, “Pertu donk kamu. Ntar alot tau.” Komentar itu disertai emoji ngaqaq, padahal nggak lucu. Melecehkan, iya.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Intinya banyak yang nggak terima kalau perempuan lajang tetap bisa bahagia. Sejak dulu, perempuan lajang – apalagi yang sudah berusia di atas 30 – harus bergelut dengan stigma sosial. Yang paling sering dicap “perawan tua” atau “nggak laku” hingga dianggap pembenci laki-laki atau anti pernikahan. Terbukti, lelaki lainnya bilang, “Bagus mbak. Perempuan bagusnya jangan nikah.”

Padahal, sudah jelas bukan itu maksudnya. “Nggak mau nikah kalau alasannya salah. Beda lho,” kata saya. Tapi rasanya jawaban itu percuma saja, karena sebenarnya dia cuma mau nyindir. Dia ngomong lagi, “Bagusnya dirimu jangan nikah mbak, nanti kalo nikah nggak bisa berkarir loh. Ini kan jamannya perempuan harus mandiri.”

Tuh kan, misogini check

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Dia maunya perempuan lajang harus selalu tampak menderita dan merasa kesepian. Yang satu frekuensi sama dia itu banyak. Salah satunya ada yang nyeletuk begini – masih dari laki-laki – “Apa kamu gak ingin membangun sebuah keluarga demi masa depanmu??”

Selanjutnya bisa kita simak, bahkan perempuan yang setuju bahwa bahagia itu pilihan pribadi, bukan perkara status, juga jadi sasaran…

“Ah… yang benar? Emang kamu gak ingin membangun sebuah keluarga demi masa depanmu?” kata dia kepada seorang netizen perempuan.

“Mbak udah menikah belum?” ujarnya kepada perempuan yang lain.

“Mbak sendiri juga belum menikah ya??” lanjut dia. Kali ini kepada perempuan yang lain lagi.

Seorang lelaki menimpali, “Memang sekarang sudah di akhir zaman. Jadi nggak heran perempuan nggak butuh laki-laki.”

“Mau kiamat ya…”

Baca juga: Pada Mulanya adalah Kata, lalu Berakhir Jadi Mansplaining

Okelah, semua manusia bebas berpendapat. Mau seelok atau sebelok apa. Mau bebal kayak apa. Faktanya, apa pun ekspresi perempuan secara terbuka, selalu diusik oleh masyarakat yang misogini bin patriarki. Memang melelahkan sih berhadapan dengan orang-orang kayak gitu. Nggak ngomong semakin terpinggirkan, giliran bersuara lantang banyak yang cari gara-gara. Dibilang feminazi lah, SJW lah.

Bacoottt…. Eh?

Heran ya, semua yang dilakukan perempuan, seolah-olah berkaitan dengan para lelaki tersebut. Berpakaian terbuka dianggap menggoda, pintar dan punya karier bagus dibilang jadi saingan, mengungkapkan perasaan bahagia ketika melajang dibilang mau kiamat.

Padahal, bisa jadi berpakaian terbuka karena cuaca panas. Atau, karena perempuan itu memang suka aja. Terus, bisa jadi perempuan yang pintar karena nggak mau menyia-nyiakan biaya sekolah yang sudah dikeluarkan oleh orangtuanya. Lalu, apa salahnya punya karier mentereng? Daripada merasa tersaingi, mending perbaiki kualitas diri.

Artikel populer: Lihatlah, Mereka bahkan Bergembira di Atas Derita Para Janda

Nah, untuk urusan kebahagiaan, tentu kita tahulah bahwa setiap orang bahagia atau tidak bahagia dengan caranya masing-masing. Entah mereka yang lajang, pacaran, FWB-an, ataupun menikah.

Singkatnya, wahai kamu-kamu yang masih saja julid dengan ekspresi perempuan, ketahuilah bahwa itu nggak mesti berkaitan atau menjadi urusan kalian. Jadi, bapernya dikurang-kurangi yaa… Nggak baik lho buat kesehatan. Lagian, nggak ganggu penghasilanmu juga, kan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini