Ilustrasi (Photo by @thiszun from Pexels)

Saya pernah curhat perihal cinta tak terbalas pada seorang teman laki-laki. Saya bilang, saya pasti terlalu jelek menurutnya. Kepadanya, saya katakan kalau banyak perempuan tidak memprioritaskan ketampanan ketika jatuh hati pada laki-laki, lalu kenapa nyaris semua laki-laki masih saja memprioritaskan kecantikan?

Jawabnya, “Kebanyakan laki-laki memang sukanya yang cantik. Tapi yang begitu-begitu bisa dibikin kok, asal punya duit.”

Seolah mengiyakan keburukrupaan saya, dia pun menyatakan produk kecantikan adalah solusinya. Alih-alih membesarkan hati yang dilanda insekyur, ini malah bikin saya semakin muak dengan frasa ‘cantik’.

Sebagai anak hasil persilangan gaya konvensional antara sel telur dan sperma ras Jawa golongan abangan, saya tak memiliki ciri kaukasoid yang melekat sedikit pun. Tumbuh sebagai anak desa yang setiap hari diterpa terik matahari juga membuat kulit semakin cokelat.

Baca juga: Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Tumbuh dewasa, saya masih kurus dengan buah dada kempes. Botol kecap bahkan terlihat lebih seksi. Diamati dari sisi manapun, tidak ada yang bisa dibanggakan dari aurat saya, jika sebuah kebanggaan merujuk pada iklan-iklan busana, kosmetik, dan akun-akun selebgram tengik itu.

Seorang pemikir Prancis, sebutlah namanya Jacques Lacan, pernah bercerita tentang bagaimana idealitas kita dibangun atas citraan-citraan simbol, baik bahasa maupun visual. Citraan itu lalu mengendap di sanubari dan mengontrol selera individu.

Perihal ketubuhan, citraan-citraan di sekitar kita sesak oleh replika-replika ras kaukasoid sebagai idealitas rupawan, melalui reklame, sinema, patung, sampul buku, bahkan iklan pil pencahar sekalipun. Di Instagram, selain akun puisi-puisi patah hati, akun yang mencitrakan perempuan cantik juga selalu berlimpah followers.

Dalam dongeng-dongeng pada umumnya, perempuan miskin yang cantik dan hidup menderita akan dilamar oleh laki-laki kaya. Jika bukan kebalikannya, laki-laki miskin yang naksir perempuan kaya dari kelas borju atau bangsawan. Mau laki-lakinya miskin atau kaya, perempuannya harus cantik, kalau jelek berarti dia sedang dikutuk seperti kisah drama animasi Shrek.

Baca juga: Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Di kebanyakan film, sekalipun yang dipaparkan adalah tokoh perempuan tangguh, keras, cerdas, pemberani, buntutnya harus ditempelin paras cantik. Dian Sastro tidak cukup digambarkan cerdas dan multi talenta, dia juga harus menyimbolkan diri cantik secara jasmani.

Selain prasyarat, cantik itu jadi selera pasar. Driver ojol atau penjual tahu goreng bakal viral kalau cantiknya menandingi Nia Ramadhani.

Maka, hanya Eka Kurniawan yang menganggap cantik itu luka, sementara tak satupun gadis di dunia menghendaki tampil buruk rupa. Maklumlah, jika perempuan berbondong-bondong ke klinik kecantikan atau membeli berbagai produk skincare dan kosmetik, semiskin apapun dia. Kita semua ikut melanggengkan hasrat memilah-milah mana cantik mana buruk rupa, sementara kapitalisme memperkuat persepsi dikotomis ini.

Suatu waktu, kepada teman laki-laki yang lain, saya ajukan lagi pertanyaan tentang mengapa banyak laki-laki yang memprioritaskan tampang? Padahal, perempuan tidak selalu memprioritaskan tampang. Kali ini, jawabannya lain dari teman sebelumnya, “Banyak perempuan memang tidak memprioritaskan ketampanan, tapi kemapanan.”

Baca juga: Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Jawaban memang beda, tapi bias tetaplah ada. Prasangka bahwa perempuan diidentikkan dengan kerupawanan dan laki-laki diidentikkan dengan kemapanan. Bahkan, di sebuah forum rumpi-rumpi para lelaki yang merasa tidak tampan, satu di antara mereka pun ada yang nyeletuk, “Cara untuk menutup kejelekan muka kita itu cuma pake duit, bro.”

Tidak semua perempuan terlahir rupawan dan tidak semua laki-laki terlahir dari keluarga kaya. Tidak semua perempuan mampu mengubah penampilan – bagaimanapun upaya dan biayanya – juga tidak semua laki-laki berhasil punya karier cemerlang di usia muda. Maka, dalam perjodohan, tuntutan perempuan cantik dan laki-laki mapan itu tidakkah sama-sama memberatkannya?

Ada banyak kualitas yang lebih memuliakan akal perempuan, sebab cantik bukan segalanya. Wahai sisters, beruntunglah jika pasanganmu tidak terobsesi akan muka cantik dan tampilan menarik. Cowok yang begitu punya selera kualitas berdasarkan otak, bukan nafsu.

Artikel populer: Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Begitupun dengan kualitas laki-laki, kaya itu bukan segala-galanya. Percuma pasanganmu tajir tapi menganggap istri sebatas properti. Jadi, bro… kalau pasanganmu tetap mendukung dan sayang ke kamu meski kondisimu masih sangat jauh dari kemapanan, dia pasti mempertimbangkan kualitas-kualitas lain dari dirimu.

Jika memang kebanyakan cowok suka yang cantik dan cewek suka yang lebih mapan, maka mereka yang tidak memasang cantik dan mapan sebagai kualitas utama dalam memilih pasangan itu serupa apa? Bekantan?! Langka dan perlu dijaga??

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini