Ilustrasi feminis. (Image by Marc Pascual from Pixabay)

Di jagat internet, perempuan yang tengah mengkritik ketidakadilan gender sering disindir dengan sebutan “feminazi”. Sindiran yang digunakan untuk membungkam perempuan, karena ada orang-orang yang merasa terusik dan tidak percaya diri. Sama halnya ketika mereka kerap memanggil perempuan dengan sebutan “betina”.

Sayangnya banyak perempuan – termasuk yang baru mengenal feminisme – ikut mengamini istilah feminazi dan percaya bahwa kelompok tersebut eksis, tanpa memahami maksud dan tujuan sebenarnya dari istilah tersebut, serta esensi dari feminisme itu sendiri.

Alhasil, para perempuan tersebut merasa berbeda dengan kelompok yang disebut-sebut sebagai feminazi, dan turut meliyankan perempuan lain. Namun, kita tak bisa menyalahkan mereka.

Sindiran soal feminazi ditujukan kepada perempuan yang berupaya membongkar konstruksi sosial. Menggugat falogosentrisme – cara berpikir baku yang mengabaikan kebutuhan psikologis perempuan, sehingga cenderung bias.

Baca juga: Merebut Kembali Kata “Betina” Sebagaimana Kata “Bitch”

Istilah feminazi (feminis + Nazi) sendiri dipopulerkan pada awal 1990-an oleh Rush Limbaugh, seorang pemandu gelar wicara di radio dan komentator politik berhaluan konservatif di Amerika Serikat. Rush menganggap perempuan yang memperjuangkan aborsi dan tidak membutuhkan laki-laki sebagai feminazi.

Orang seperti Rush tidak mau memahami alasan yang mendasari hal itu. Lagi pula, apa yang salah jika perempuan tidak membutuhkan lelaki? Ada perempuan yang lesbian kok, tentu tidak membutuhkan lelaki. Ada pula yang heteroseksual, tapi bisa berdaya dengan dirinya sendiri secara finansial maupun seksual.

Justru, orang seperti Rush yang teriak “feminazi tak butuh lelaki” adalah orang yang rapuh, karena merasa dirinya tidak berharga apabila tak bisa memiliki perempuan. Ia menunjukkan kerapuhannya dengan menjatuhkan perempuan, semacam ngambek gitu deh karena nggak bisa membuat perempuan tunduk.

Baca juga: ‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Sesungguhnya orang yang suka melontarkan istilah feminazi dan betina kepada perempuan adalah orang yang tidak percaya dengan dirinya sendiri, sehingga ia merasa perlu membuat orang lain merasa kecil dengan cara menghina.

Orang-orang yang tidak paham konsep kesetaraan gender secara substansif dengan entengnya bakal teriak soal feminazi. Lantas, perlukah kita merasa kecil dan marah karena dipanggil dengan sebutan feminazi atau betina? Ya tidak perlu. Cukup ditertawakan saja.

Kalau kita pusing menanggapi cemoohan mereka, isu-isu perempuan yang krusial bisa tenggelam dengan twitwar dan meme-meme yang nggak penting alias seksis misoginis itu.

Emma Watson adalah salah satu orang yang tidak peduli dipanggil dengan sebutan feminazi. Menurut dia, tuduhan itu invalid bagi dirinya. Lagi pula, Emma tidak butuh pengakuan dari para lelaki misoginis bin patriarkis. Tanpa validasi dari mereka, Emma tak akan berhenti melakukan apa yang dia rasa benar.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Tentu banyak hal dari aktivisme Emma Watson yang perlu dikritik, namun semangat dan keteguhannya untuk terus belajar, walaupun dicaci-maki, patut diacungi jempol. Dia tidak menyerah untuk mendalami feminisme.

Hinaan dan manipulasi secara psikologis untuk membuat kita merasa down akan selalu datang. Itu adalah konsekuensi dari apa yang kita lakukan, apalagi bicara tentang keadilan.

Semisal, Suwarni Pringgodigdo yang merupakan seorang aktivis dari organisasi Isteri Sedar. Di Kongres Perempuan Indonesia II, ia bersuara keras menentang poligami. Ia pun mengkritik Soekarno yang berpoligami.

Ketika berpidato di Kongres Perempuan, Suwarni mengecam laki-laki yang suka berpoligami atau poligini. “Kaum laki-laki tindak-tanduknya seperti ayam jago,” kata Suwarni menggambarkan tindak-tanduk lelaki yang beristri banyak.

Setiap Suwarni menyebut “ayam jago”, laki-laki yang hadir dalam kongres dan duduk di barisan belakang akan gaduh, lalu menirukan suara berkokok ayam jantan dan tertawa kecil.

Artikel populer: Emily in Paris dan Upaya Membongkar Male Gaze dari Belakang Layar

Dari sejak zaman pra-kemerdekaan Indonesia, aktivis perempuan selalu mendapatkan perisakan. Namun, apakah mereka berhenti karena beberapa lelaki menirukan suara ayam jago? Tentu tidak.

Sebab itu, istilah feminazi seharusnya tidak membuat kita sebagai perempuan merasa kecil. Tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang kita suarakan dan lakukan. Rasa bersalah itu adalah hasil manipulasi agar perempuan tidak lagi bersuara dan trauma terhadap aktivisme.

Jika kamu mulai merasa bersalah dan meragukan diri sendiri hanya karena dipanggil feminazi, itu berarti mereka berhasil mempengaruhimu. Karena itu, buat apa meladeni ocehan mereka? Kita juga tidak butuh validasi dari para lelaki misoginis.

Jadi kalau dipanggil feminazi, cuekin aja.

1 KOMENTAR

  1. cuma mau meluruskan…
    gwrakan feminist tidak salah…
    namun penjelasan tentang feminazi di sebut untuk kaum feminist garis keras atau radikal yang tidak mau mendengarkan dan hanya mau di dengar…
    feminazi juga berdampak buruk pada kaum feminist yang memperjuangkan haknya secara benar dan jujur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini