Yang Tak Selalu Menyenangkan saat Lebaran selain Ditanya Kapan Lulus dan Nikah

Yang Tak Selalu Menyenangkan saat Lebaran selain Ditanya Kapan Lulus dan Nikah

Ilustrasi (Alexandra via Pixabay)

Ketika membaca tulisan ini, Anda barangkali berada di perjalanan menuju kampung halaman. Sesekali membuka ponsel, bukan untuk menyelami jejaring informasi, melainkan untuk mengecek waktu, menerka-nerka kapan sampai tujuan.

Imaji tentang kampung halaman kembali terbentuk dan itulah yang membuat Anda tabah melakukan perjalanan menyiksa ini. Imaji bisa mencium aroma masakan ibu, setelah melihat senyumnya mengembang di muka rumah menyambut kedatangan.

Sementara itu, di rumah, tak ada yang berubah. Catnya sedikit mengelupas di sana-sini, memang, tetapi masih sama seperti tahun lalu. Pohon di samping rumah tumbuh lebih subur, dan kerindangannya membuat matahari pagi tak lagi mampu menerobos ke kamar masa kecil Anda.

Anak-anak tetangga berlarian di jalanan kampung, dan mereka menyapa dengan keintiman yang tak dibuat-buat. Setahun lalu, anak-anak tersebut belum sebesar itu, tetapi hanya butuh setahun untuk membuat Anda percaya bahwa waktu benar-benar berjalan sedemikian lesat.

Imaji-imaji di atas barangkali terlalu diromantisir, tetapi percayalah bahwa romantisme adalah faktor utama yang menggerakkan jutaan orang melakukan migrasi berbarengan di momen Lebaran.

Pemudik membayangkan masa lalu yang menenteramkan, sesuatu yang tidak mereka dapati di tanah perantauan. Sementara orang tua, atau siapa pun yang dituju oleh pemudik, juga membayangkan hal yang sama, yakni mengingat masa lalu ketika si pemudik masih kecil dan menggemaskan, lalu tiba-tiba harus pergi merantau.

Namun, sama seperti apa pun di dunia ini, ritual mudik juga memiliki dua sisi yang berseberangan. Tak selamanya momen lebaran semenyenangkan angan-angan.

***

Jika Anda adalah pemudik, tentu tahu bahwa terdapat jarak ratusan kilometer yang mesti ditempuh untuk pulang. Sejumlah itu pula yang menanti saat kembali ke kota kelak.

Pada hari-hari biasa, jarak sejauh itu bisa ditempuh dalam waktu beberapa jam, tetapi momen mudik akan melipatgandakannya hingga mencapai level memuakkan.

Anda sudah bersaing sengit dalam memperoleh tiket kendaraan dan kesabaran kembali diuji setelahnya; bus yang ditumpangi ternyata busuk bukan main. Suspensinya keras, pendingin udaranya tak bisa disetel, dan sopir bertampang sangar di depan sana merokok seolah tak ada hari esok.

Tak berapa lama kemudian Anda tidur dan bermimpi, dan ketika terbangun mendapati bahwa bus itu tak beranjak ke manapun. Anda melongok ke kaca depan dan melihat kemacetan mengular hingga cakrawala. Kemudian, tidur dan bangun lagi untuk mengetahui bahwa perjalanan bakal berlangsung begitu lama.

Setelah matahari terbit dan terbenam beberapa kali, sampailah di tujuan. Saat menumpang becak atau ojek, kejengkelan menguap perlahan untuk digantikan oleh kecemasan. Beberapa hari lagi Idul Fitri tiba, keluarga besar berkumpul, dan Anda tahu itu adalah momen yang lebih berat ketimbang dihajar kemacetan.

Lalu tibalah momen itu. Anda duduk di sofa yang nyaman, dikelilingi oleh sanak saudara yang memandang ke arah Anda, menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling menggentarkan ini: kapan kamu lulus kuliah? Kapan kamu menikah? Tidakkah kamu kepingin punya momongan?

Itu adalah situasi yang pelik. Bagaimanapun, tidak mungkin membohongi keluarga sendiri, tetapi kejujuran yang pahit akan berujung pada sesi wejangan berlarut-larut yang sama sekali tidak Anda butuhkan.

Pada akhirnya momen itu berakhir. Barangkali telinga Anda memerah sekaligus mendadak terserang migrain. Tapi, pada intinya, Anda selamat dan segera memasuki momen berikutnya yang tak kalah menjengkelkan.

Kecuali Anda dibesarkan oleh seorang anti-sosial garis keras, sudah pasti Anda memiliki teman masa kecil. Dan, momen lebaran selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengadakan reuni.

Itu sebetulnya acara yang menyenangkan. Bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama yang terserak di pelbagai penjuru bumi, lalu memutar romansa masa lalu yang berhubungan dengan kenakalan dan kegilaan khas anak muda.

Idealnya begitu. Namun, reuni ternyata telah berubah menjadi ajang perbandingan kesuksesan.

Teman Anda yang kaya raya mengisahkan proses jatuh bangunnya dalam menjalankan usaha. Teman yang religius membagikan deskripsi siksaan dan anugerah dari Yang Kuasa.

Seolah tak mau kalah, teman yang menikah di usia muda menukilkan perjalanan bahagia membangun mahligai rumah tangga. Sementara teman yang kacau hidupnya, entah kenapa tak satu pun menampakkan batang hidungnya.

Di situlah Anda kini, duduk sambil memegang segelas limun dingin yang tak berkurang isinya, meski telah berjam-jam tersaji.

Anda, seorang yang melajang dan tak religius dan bekerja di perusahaan yang kerap memalsukan alamat demi menghindari kejaran petugas pajak, tak memiliki apa pun sebagai pembanding argumen. Hidup ini, tiba-tiba saja, menjadi suatu kutukan.

Liburan berlalu lebih cepat ketimbang kedipan mata, dan sudah waktunya berkemas. Pada malam terakhir sebelum kembali ke perantauan, ibu masuk ke kamar dan membantu melipat baju, serta tak lupa menyisipkan harapan mengenai pencapaian yang mesti Anda raih.

Anak yang berbudi hanya bisa mengiyakan, dan itulah yang Anda lakukan tanpa tahu kapan hal itu bisa diwujudkan.

Di bangku penumpang, Anda memutar ulang segala hal yang terjadi pada momen lebaran kali ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Anda dihinggapi rasa bersalah yang berlarat-larat.

Utang pembuktian itu semakin lama semakin mendesak untuk dilunasi, dan kemendesakan itu mengejar Anda lebih gigih daripada debt collector kelas wahid.

Pencapaian adalah simbol kemenangan para perantau yang tak kunjung Anda menangkan.

Bus pun melaju untuk kembali menjebak Anda ke dalam kemacetan yang melelahkan, rutinitas yang menyebalkan, yang menumbuhkan benih romantisme baru tentang kampung halaman yang mesti dituntaskan pada Lebaran tahun depan.

Begitu seterusnya?

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.