Saat Laki-laki Berkencan dengan Perempuan yang Tampak Lebih Tua

Saat Laki-laki Berkencan dengan Perempuan yang Tampak Lebih Tua

Ilustrasi perempuan (Photo by Ashton Bingham on Unsplash)

“Kenapa nggak nyari yang muda, Om? Kalo muda kan bisa beranak pinak gitu.”

Kutipan tersebut merupakan komentar seorang warganet Indonesia di salah satu portal berita entertainment yang sedang membahas tentang hubungan Keanu Reeves dan Alexandra Grant.

Ketika mereka menghadiri sebuah acara di Los Angeles dan berpose bersama di karpet merah, media berlomba-lomba memberitakan jalinan asmara antara keduanya, karena menurut publik ini pertama kalinya Keanu memperkenalkan kekasihnya setelah bertahun-tahun.

Keanu Reeves adalah salah satu aktor Hollywood yang paling dicintai tidak hanya karena bakatnya, tapi juga kerendahan hati dan jiwa sosialnya. Maka, ketika kisah asmaranya mencuat, fans turut bergembira, namun tidak sedikit juga orang yang mempertanyakan keputusan Keanu untuk mengencani perempuan yang nampak lebih tua darinya. Padahal, Alexandra sebenarnya berusia 46 tahun, sedangkan Keanu berumur 55 tahun. Menurut beberapa orang di internet, Alexandra beruntung bisa berkencan dengan Keanu.

Baca juga: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Dalam foto yang banyak beredar, Alexandra tidak sungkan memperlihatkan rambut abu-abunya. Keanu yang diklaim awet muda, jika diperhatikan sebenarnya juga tidak kelihatan muda-muda amat. Kerutan terlihat di wajahnya dan beberapa helai uban menyembul dari rambut dan jenggotnya. Intinya, menurut saya, keduanya tampak normal. Tetapi, perhatian warganet terhadap penampilan lebih banyak diarahkan pada Alexandra.

Dalam masyarakat kita, perempuan kerap dituntut untuk memenuhi standar kecantikan tertentu, tidak peduli betapa mustahilnya itu untuk dicapai. Semisal, tuntutan untuk tampil langsing, muda, dan bebas kerutan. Padahal, menua merupakan proses alamiah yang tidak terelakkan.

Namun, ketika kita dikondisikan untuk mengasosiasikan nilai self-worth dengan penampilan fisik, usaha apapun akan dilakukan untuk memenuhi standar tersebut, termasuk mengeluarkan banyak uang untuk perawatan dan operasi plastik.

Sebab itu, menua menjadi momok bagi sebagian perempuan karena pada usia tertentu, terutama mulai dari pertengahan usia 30-an, perempuan dinilai tidak menarik lagi dari segi penampilan fisik dan aktivitas seksualnya.

Baca juga: Pacaran Lama-lama Akhirnya Ambyar juga

Berbeda dengan laki-laki yang semakin bertambah umur, mereka dianggap semakin matang dan menarik. Mereka relatif lebih dihargai dengan makin banyaknya pengalaman dan pencapaian dalam hidup seiring dengan bertambahnya usia. Ini dibuktikan dengan Keanu Reeves, George Clooney, Atalarik Syah, dan Jeremy Thomas yang meskipun telah memasuki usia kepala empat bahkan lebih, mereka tetap mampu menarik perhatian fans perempuan yang bahkan jauh di bawah usia mereka.

Orang-orang yang nyinyirin penampilan Alexandra Grant tampaknya tidak peduli dengan latar belakangnya atau menganggap kepribadian dan pencapaian adalah nomor dua. Hal ini mengingatkan saya pada berita-berita soal perempuan berprestasi tapi selalu ditambahi embel-embel ‘muda dan cantik’ atau berita para istri menteri yang diadu-adu kekeceannya.

Tidak hanya soal penampilan, terkadang perempuan juga dikondisikan untuk meletakkan self-worth pada kemampuan reproduksinya. Menurut Umi Oktyari Retnaningsih dalam jurnalnya “Indonesian Educated Unmarried Career Women: Gender Inequality, Discrimination, and Prejudices”, laki-laki seolah memiliki keistimewaan untuk menikahi perempuan yang jauh lebih muda karena kepercayaan bahwa laki-laki masih dapat bereproduksi hingga usia 50 tahun bahkan lebih.

Sedangkan perempuan yang telah berusia 35 tahun ke atas kesuburannya kerap dipertanyakan, terutama di Indonesia di mana memiliki anak diyakini merupakan aspek penting dalam pernikahan.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Bahkan, berdasarkan hasil pencarian singkat saya melalui Google, pembahasan seputar penuaan dan kemampuan reproduksi laki-laki berpusat pada pembahasan tentang “apakah menopause laki-laki nyata”, “ternyata pria juga bisa menopause”, dan tema sejenis lainnya. Penggunaan istilah ‘menopause’ untuk fase yang sebenarnya disebut andropause untuk laki-laki juga menunjukkan bahwa fase ini lebih banyak dihubungkan dengan perempuan.

Maka, tidak mengherankan ketika warganet Indonesia yang komentarnya seolah-olah perempuan paruh baya ‘tidak layak’ untuk dikencani karena dianggap telah melampaui ‘expiration date’ atau ‘masa  kedaluwarsa’. Padahal, pasangannya satu dekade lebih tua darinya. Namun, itu tidak dipermasalahkan.

Artikel populer: Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Perempuan bukanlah bahan makanan dan barang jualan di toko yang memiliki masa kedaluwarsa. Ketika kita meletakkan nilai perempuan pada penampilan fisik dan kemampuan reproduksi semata, kita memperlakukan perempuan layaknya sebuah obyek tanpa mempedulikan kepribadian dan keunikan lainnya yang melekat pada diri mereka sebagai manusia.

Sungguh, penyederhanaan yang fatal apabila kita berpikir bahwa Alexandra Grant beruntung hanya karena ia berkencan dengan Keanu Reeves. Alexandra dan kita adalah manusia seutuhnya. Lagipula, Alexandra telah menjadi seniwati, filantropis, dan penulis jauh sebelum bertemu Keanu.

Deskripsi yang tepat adalah, Alexandra Grant dan Keanu Reeves beruntung telah mengenal satu sama lain dan saling menginspirasi. Sebaiknya kita lebih fokus pada kualitas diri seseorang, bukan kuantitas umur mereka.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.