Ilustrasi pupus. (Photo by Dmitry Schemelev on Unsplash)

Pasti ada sebagian dari kita yang kepincut dengan seseorang karena status sosialnya. Apakah dia anak pengusaha tajir, anak pejabat, atau pejabat itu sendiri. Bahkan, tak sedikit perempuan yang secara sadar memilih untuk menjadi kekasih pejabat, meski pejabat tersebut sudah menikah.

Jika tidak mendapatkan lelaki seperti itu, mereka jadi uring-uringan karena merasa tidak berharga. Padahal, mengejar lelaki karena status sosialnya justru semakin menurunkan harga diri dan motivasinya terlihat tidak tulus.

Ya gimana, sudah silau duluan dengan status sosialnya sampai menjatuhkan harga diri untuk mengemis cinta bahkan minta dinikahin. Apalagi, jika melibatkan orangtua yang mengidam-idamkan dan menyiapkan anak perempuannya menjadi semacam trophy wife atau istri bak piala agar mendapatkan suami yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi, dan tentunya kaya.

Baca juga: Ngapain Ngemis-ngemis Minta Dinikahin?

Dalam hal ini, perempuan diberi kesempatan mengenyam pendidikan hanya untuk mendapatkan suami mapan, alih-alih menjadikan perempuan sebagai sosok berdikari, termasuk soal kesejahteraan.

Pola-pola mendidik anak perempuan sebagai trophy wife ini juga dianut oleh keluarga-keluarga borjuis. Pernikahan anak perempuan menjadi semacam transaksi sosial yang dianggap bisa menguntungkan kedua pihak.

Tentunya itu terjadi karena mereka masih menerima nilai-nilai patriarki, yang memposisikan perempuan untuk selalu bergantung pada lelaki. Namun, sebaiknya kita tidak menghakimi mereka karena lingkungannya yang membentuk kondisi tersebut. Mereka sering kali tidak tahu bahwa ada pilihan lain dalam menjalani kehidupan ini.

Seorang tokoh dunia bernama Cher ketika diwawancarai Jane Pauley pada 1996, sempat bercerita bagaimana ibunya menyuruh dia untuk menikah dengan lelaki kaya. Kemudian, Cher membalas, “Bu, saya ini lelaki kaya. Saya tidak butuh menikah dengan lelaki kaya.”

Baca juga: Setia adalah Pilihan, Selingkuh Itu Sebuah Kesadaran

Lantas, bagaimana kalau ternyata sudah pacaran cukup lama atau bahkan baru sebentar, terus ditinggal bahkan di-ghosting oleh orang yang selama ini dianggap memiliki status sosial lebih tinggi?

Saatnya memulihkan diri, lupakan dia.

Perempuan tak semestinya ngemis-ngemis dan mengejar lelaki karena status sosialnya. Bagaimana kalau memang lelakinya ternyata tidak suka? Masa harus dipaksa? Sudahlah, buang saja fantasi itu. Kamu juga tidak mau kan, kalau dipaksa menikah dengan orang yang tidak lagi kamu sukai?

Gini deh, bukankah lebih baik perempuan sendiri yang meraih status sosialnya dengan hidup mandiri? Apalagi, kalau memang berasal dari keluarga yang cukup memiliki privilese untuk bisa sekolah ke jenjang yang tinggi.

Baca juga: Yang Paling Berbahaya dari ‘Ghosting’, Bukan Cuma Kisah Horor dalam Percintaan

Lagi pula, kandasnya sebuah hubungan – apakah itu sudah terjalin selama bertahun-tahun atau sehari sekalipun – adalah bagian dari kehidupan berelasi. Yang menikah saja bisa cerai, apalagi pacaran? Apa… baru gebetan?

Ghosting sendiri merupakan sebuah istilah; ditinggal tanpa penjelasan, mendiamkan pasangan tanpa sebab, atau bahkan hilang tanpa kabar. Saya pun pernah melakukannya, sebelum menyadari bahwa korban ghosting bisa terjebak dalam lingkaran menyalahkan diri sendiri. Sebab itu, segera lupakan dan pulihkan diri.

Ayolah, kita adalah manusia-manusia berdaya. Perempuan yang berdaya untuk pulih, atau bahasa kekiniannya healing. Perempuan yang mampu menghadapi kesedihan, tak melulu menuntut lelaki untuk ‘bertanggung jawab’ atas kesedihan itu. Sudah terlalu lama kita berada dalam bayang-bayang patriarki yang menempatkan perempuan untuk selalu bergantung pada lelaki.

Artikel populer: Survivor Patah Hati, Termasuk Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Beda hal kalau sudah menikah, lalu di-ghosting. Atau, ketika dimanipulasi dan dieksploitasi secara seksual dengan janji nikah, apalagi kalau menyebabkan kehamilan tidak direncanakan akibat eksploitasi seksual. Kita bisa menuntut nafkah untuk anak atau melaporkannya ke polisi, jika ia melakukan kekerasan seksual.

Sudah saatnya menjadi perempuan berdaya yang tidak menggantungkan masa depan pada lelaki, termasuk mereka yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi. Perempuan harus berani menghadapi kesedihan, sebab hidup ini hanya serangkaian pertemuan dan perpisahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini