Ilustrasi desa. (Indhira Adhista/Pixabay)

Banyak sekali perselisihan akibat perbedaan letak demografis dan budaya antara desa dan kota. Di antara segala isu yang sering kali beralih menjadi twitwar, kali ini mari membahas hubungan perbedaan tersebut dengan ketimpangan relasi gender yang sudah mengakar kuat dan lestari di bumi kita (HAH KITAA??!!)

Setelah membaca buku ciamik tentang 10 perempuan muda yang mengulas ulang karya 10 perempuan penulis masa lampau, barulah saya mendapat teori bahwa hubungan lintas desa-kota ini ternyata erat dengan ketimpangan gender di masyarakat.

Bab tersebut ditulis oleh Giovanni Dessy Austriningrum yang mengulas seraya mengenalkan ulang S. Rukiah, seorang penulis perempuan yang lahir di Purwakarta pada 1927 dan meninggal pada 1996. Menariknya, S. Rukiah yang sebenarnya lahir dari keluarga yang cukup berada – ayahnya bekerja sebagai pemborong untuk salah satu instansi pemerintah – namun memiliki cara pandang inklusif. Tentu saja sangat progresif di masanya yang masih relevan hingga kini.

Giovanni D. A. menuliskan, “Rukiah sering kali menggambarkan imaji dan lintasan desa-kota, di mana desa acap diasosiasikan dengan ciri feminin karena berperan sebagai sumber makanan dan material (dapur), lokasi keluarga, tempat beristirahat yang tenang, dan persembunyian (fungsi reproduksi) tentara atau gerilyawan, selain digambarkan lugu dan tidak maju dibandingkan kota.” (Giovanni D. A. dkk, Yang Terlupakan dan Dilupakan, Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2021, hlm. 35)

Baca juga: Isu Kelas Sosial dalam Pencarian Kebahagiaan ala Squid Game

Nyatanya, orang kerap kali mengibaratkan perdesaan atau kampung halaman yang lekat dengan rupa perempuan: mengayomi, merawat, menyembuhkan, menghasilkan sumber daya, seperti seorang ibu. Sedangkan kota dengan lebih maskulin: sebagai tempat bekerja, penentu keputusan, penghasil uang, lebih memiliki power, lebih banyak tahu, lebih maju, lebih pintar, dan lain-lain.

Hal itu membuat derajat kampung dianggap lebih rendah dari perkotaan. Sejalan dengan pemikiran patriarki dimana pemegang maskulinitas tempatnya lebih di atas, maka segalanya harus dilihat berdasarkan standar kota. Alhasil, tempat-tempat yang jauh dari jantung kota dianggap tertinggal. Atau lebih tepatnya, ditinggalkan.

Contohnya, di Twitter pernah heboh karena salah satu pendapat orang kota yang menilai kesejahteraan masyarakat di perdesaan yang jauh dari standar. Bahkan untuk merasa bahagia saja, warga kampung harus mengikuti standar bahagia warga kota.

Sabar dulu kawan… kalau mau buru-buru meluapkan emosi, coba kita telaah pelan-pelan dan sedikit berkaca pada diri sendiri. Kalau diresapi lagi, apakah kita juga pernah berperilaku seperti itu, secara sadar ataupun tidak?

Baca juga: Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Misalnya kita sedang berada di desa, lalu melihat ibu-ibu mengayuh sepeda, membawa gabah di belakangnya, tanpa alas kaki, kemudian dalam hati, kita membatin, “Duh, kasian sekali yaa.” Loh, kenapa harus kasihan? Kenapa standar kenyamanan juga harus merujuk pada standar ibu-ibu di kota? Apa benar ibu-ibu di desa tadi sedang tidak baik-baik saja dengan apa yang ia lakukan?

Secara tidak sadar, masyarakat kota yang dianggap lebih maskulin menaruh derajat desa di bawah mereka. Setelah pikiran patriarki yang menjelma dalam beragam bentuk dan model ini, kita (setidaknya saya) pun sebenarnya sedang melanggengkan sistem patriarki itu sendiri.

Di sisi lain, desa yang dinilai kurang maju dan lebih inferior dibandingkan kota tadi, masih harus dieksploitasi. Gambaran desa yang subur, ramah, dan mengayomi diambil sepihak oleh orang-orang kota untuk dijadikan barang jualan. Ya, persis seperti ketubuhan perempuan dijual oleh kapitalis.

Orang-orang kota yang merasa lebih powerful acap kali terlena dengan polesan tentang desa yang cantik ala media-media iklan. Padahal, desa ya desa saja. Tempat yang tentunya juga punya banyak problem yang perlu diselesaikan. Justru, perdesaan tadi memiliki banyak masalah setelah kedatangan orang-orang kota yang hanya mempergunakannya untuk memuaskan kebutuhan mereka tanpa dibarengi sikap tanggung jawab.

Baca juga: Memahami Anti Feminis-feminis Club

Contohnya, Jogja (hehehe). Media-media iklan memoles keramahan dan keasrian Jogja sedemikian rupa, sehingga pelancong dari segala penjuru dunia singgah berkunjung. Berbagai hotel instagramable, kofisyop hidden-gem dengan tema itu-itu saja dan beberapa pantai ‘perawan’ disuguhkan dengan berbagai cara. Tentu tidak terburu-buru menunjuk itu salah, toh, roda ekonomi berputar di sana dari hulu ke hilir.

Tapi nyatanya, Jogja juga tidak hanya pantai yang cantik, kofisyop hidden-gem, dan resort-resort surga. Apalagi angkringan, hujan, dan senja. Jogja adalah kota dengan berbagai masalahnya juga. Termasuk, masalah upah minimum yang tidak layak serta fenomena klitih yang tak kunjung dianggap serius.

Memoles desa secara serampangan tanpa mau melihat permasalahan yang juga terjadi di sana, saya pikir sama kejamnya dengan memajang tubuh-tubuh molek pramugari tanpa dibarengi cuti menstruasi yang berjalan baik. Atau, penanganan serius masalah kekerasan seksual yang sudah jadi rahasia umum, rentan dialami oleh profesi tersebut.

Sementara itu, para pemuja patriarki yang kerap terjangkit penyakit-penyakit toxic masculinity tidak ada habisnya mengejar standar hidup. Saya di Yogyakarta, yang sering kali merasa lebih superior dari Gunungkidul, misalnya, akan merasa lebih inferior dari orang-orang Jakarta. Kerap kali merasa bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah seperti ‘mbak-mbak SCBD’ dengan setelan bak eksekutif muda. Padahal, SCBD ki panganan jenis opo yo wes embuh (padahal SCBD tuh makanan jenis apa juga gak tahu).

Artikel populer: Perempuan Boleh Bekerja, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku?

Kita sebagai yang lebih inferior atau menurut S. Rukiah lebih feminin akan mendongakkan kepala dan mengangguk setuju pada standar-standar yang dibentuk oleh masyarakat di tempat yang dianggap lebih maskulin. Karena begitulah, sistem patriarki bekerja.

Kita mengangguk setuju pada standar kelulusan sekolah yang ditentukan orang Jakarta, tren fashion orang Jakarta, bahkan juga cara berbicara orang Jakarta. Which is goals banget kalau bisa like literally like them, no debat!

Nah, ternyata sekitar 70 tahun yang lalu, seorang perempuan sudah dapat mengurai satu polemik ruwet ini dalam akar permasalahan klasik. Beliau adalah S. Rukiah – yang diperkenalkan ulang kepada generasi sekarang oleh Giovanni D. A. – lalu saya tuai teorinya dalam esai pendek. Menarik sekali memang, betapa menulis dapat membuat kita saling terkoneksi.

Terakhir, saya ingin mengutip kalimat seorang teman yang sedang berjuang tesis dengan konsentrasi ekofeminisme, “Itulah mengapa alam selalu akan sama secara linguistik dengan perempuan, sama-sama objek, sama-sama diperkosa sistem.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini