Pikiran Ngawur seputar Rok Makin di Atas, Prestasi Makin di Bawah

Pikiran Ngawur seputar Rok Makin di Atas, Prestasi Makin di Bawah

Ilustrasi via Pexels

Setahun lalu, seorang anak perempuan pelajar SMA memenangi tes adu cerdas dalam kontes debat internasional. Namun, sayangnya netizen Indonesia menghujat siswi tersebut, lantaran ia memakai pakaian yang dianggap terbuka.

Di ajang Asian Games pun, komentator Jebret tidak ada hentinya mengomentari penampilan atlet perempuan. Alhasil, penonton televisi tidak bisa fokus mengikuti jalannya pertandingan. Komentatornya begitu berisik dan mengganggu, terlebih cameraman yang selalu menyorot wajah penonton perempuan di sela pertandingan.

Selain itu, seorang DJ perempuan terus disalahkan karena berpakaian terbuka. Netizen menyalahkan pakaiannya yang menyebabkan ia dilecehkan.

Padahal, profesi seorang DJ adalah menyajikan musik untuk dinikmati. Menjadi DJ yang bekerja malam hari dengan pakaian terbuka tidak untuk disentuh seenaknya tanpa persetujuan.

Sayangnya, dari sekian banyak peristiwa, masyarakat cenderung lebih memperhatikan apa yang dikenakan perempuan ketimbang prestasi atau profesi. Perempuan tidak dinilai dari kepintarannya, melainkan dari fisiknya.

Sementara itu, dalam 10 tahun terakhir, sekolah negeri banyak yang mengubah seragam siswi dari rok sedengkul menjadi rok panjang hingga mata kaki. Alasannya agar tidak mengganggu pandangan para guru dan siswa.

Tak hanya di dalam negeri, di luar negeri juga ada yang begitu. Mereka masih dipaksakan mengikuti aturan pakaian tertentu. Bahkan, mereka memaksa siswi mengenakan pakaian yang tidak cocok untuk musim panas. Alasannya, pakaian yang minim bisa membuat siswa gagal fokus dalam belajar.

Di sisi lain, ada pula dosen dan guru laki-laki yang menyalahgunakan relasi kuasanya untuk melecehkan murid perempuan dengan beragam modus. Para pengajar tersebut bahkan menyalahkan murid perempuan mengapa mereka terlalu menarik.

Padahal, semua tahu, tujuan anak perempuan bersekolah dan kuliah untuk menimba ilmu. Bukan untuk mencari perhatian laki-laki.

Baca juga: Saran untuk Kamu Agar Berhati-hati Memuji Tubuh Seseorang

Ironisnya, produsen jilbab ternama pernah menampilkan iklan yang bertuliskan “Rok makin di atas, prestasi makin di bawah.”

Sudah jelas tidak ada hubungannya antara pakaian dan prestasi. Pakaian yang kita kenakan tidak bisa dijadikan penentu dari pencapaian seseorang.

Sebegitu banyak deretan prestasi perempuan Indonesia di dunia. Tapi, bagi sebagian orang, rasanya belum afdol kalau para perempuan tersebut tidak menutup rapat tubuhnya atau kalau bisa jangan terlalu cantik.

Bentuk penilaian terhadap perempuan yang hanya melihat penampilannya adalah bentuk objektifikasi yang mendegradasi manusia.

Daripada mengatur tubuh dan pakaian perempuan, mending mengajarkan murid laki-laki untuk menghormati murid perempuan apa adanya. Bukan melihat perempuan dari penampilannya saja.

Dalam esai di Magdalene ditulis bahwa penggunaan celana rangkap oleh siswi di sekolah sudah dianggap sangat normal. Padahal, bukan termasuk seragam wajib sekolah.

Kebiasaan itu berusaha mengaburkan masalah sesungguhnya, dimana murid laki-laki suka mengintip celana dalam perempuan. Mereka akan bangga, jika mengetahui warnanya. Kemudian, menceritakan itu ke teman laki-laki. Semakin banyak yang diintip, mereka semakin bangga.

Anak laki-laki diberikan pembenaran atas ‘keisengan’ mereka dan tidak diberikan hukuman akibat kelakuannya. Tidak heran, jika aparat kepolisian enggan mengurusi kasus kekerasan seksual.

Anak laki-laki tidak diajarkan untuk menghargai tubuh perempuan. Pendidikan agama di sekolah yang terus digaungkan tidak dapat menghentikan kekerasan seksual ini. Bahkan, semakin menjadi-jadi.

Daripada terus menakar prestasi perempuan dari penampilannya saja, lebih baik kita melihat masalah ini lebih dalam. Sebab, pengekangan tubuh perempuan melalui pengaturan pakaian merupakan bentuk objektifikasi di dunia pendidikan.

Hal ini jelas menyembunyikan fakta yang sesungguhnya bahwa terdapat kekerasan seksual yang sistemik yang sudah lama tertanam dalam sistem pendidikan kita.

Artikel populer: Kami Dandan untuk Bersenang-senang, Bukan untuk Bikin Kalian Senang

Sistem pendidikan kita telah gagal untuk mengajari anak laki-laki menghormati perempuan. Hal ini terbukti dari jutaan komentar yang tiada habisnya menghakimi pakaian perempuan di ranah pendidikan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Selain itu, mengatur tubuh perempuan juga mengirimkan pesan yang salah kepada anak perempuan itu sendiri. Perempuan sudah diobjektifikasi sejak usia muda dan ini merusak persepsi atas tubuhnya sendiri. Terlebih, minimnya pendidikan soal itu.

Akibatnya, banyak perempuan yang menganggap tubuhnya sebagai sumber malapetaka, terutama di usia pertumbuhan. Padahal, bagian tubuh perempuan, misalnya buah dada, adalah sumber utama penghidupan kita sebagai manusia. Kenapa kita tidak bisa menghargainya?

Dampak lainnya adalah perempuan tidak dapat leluasa beraktivitas, karena nyaris tidak ada ruang publik yang menjamin keamanan dan kenyamanan. Ini dapat mempengaruhi produktivitas murid perempuan untuk belajar dan meraih prestasi.

Jutaan perempuan di muka bumi ini, termasuk saya, mengalami disforia dan ketidaksukaan terhadap tubuh sendiri. Banyak perempuan yang tidak dapat menjelaskan perubahan fisik akibat pubertas, karena masyarakat terus menganggap ini sebagai lelucon dan eksploitasi.

Guru atau dosen perempuan pun tidak banyak mengambil tindakan. Bahkan, banyak dosen laki-laki yang tidak dipecat akibat perbuatannya hanya karena kampus yang menjadi tempat mereka mengajar tidak mau kehilangan akreditasi.

Terlepas apapun kepercayaanmu tentang bagaimana seharusnya tubuh perempuan, bukan tempat kita untuk menilai, menghakimi, hingga mengganggu perempuan dalam berpakaian.

Kapan kita menyadari bahwa potensi perempuan melampaui dari apa yang dia kenakan? Ini bahkan menjadi salah satu perjuangan Kartini bahwa perempuan memiliki potensi yang sepatutnya dikembangkan. Bukan untuk ditakar-takar seenaknya, terlebih dari penampilannya saja.

Kita sebaiknya menyediakan ruang belajar yang aman dan nyaman, serta memberi ganjaran yang setimpal kepada anak laki-laki agar paham bagaimana caranya menghormati tubuh perempuan. Kamu sendiri paham nggak?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.