Ilustrasi start-up. (Photo by Headway on Unsplash)

Sudah banyak film yang mengangkat tentang riwayat Steve Jobs sang pendiri Apple yang punya sumbangsih besar dalam produksi gawai mahal. Begitu juga dengan Bill Gates yang pernah dibuatkan film dokumenternya oleh channel Youtube komunitas Flat Earth. Tak ketinggalan kisah pria yang bikin Facebook, Mark Zuckerberg, dikomersialkan dalam film bertajuk The Social Network.

Sebenarnya, sineas Indonesia juga sempat mengeluarkan film biopik berjudul Sundul Gan yang mengangkat kisah pendiri Kaskus, tapi sayang nggak ngangkat, gan.

Lalu, muncul serial komedi Amerika Serikat berjudul Silicon Valley yang seolah menjadi parodi dari cerita heroik para tokoh teknologi terkemuka tadi. Tersebutlah Richard Hendricks yang perawakannya sebelas duabelas dengan Mark Zuckerberg. Richard adalah pemuda pada umumnya di Silicon Valley yang mengejar mimpi menjadi pendiri perusahaan rintihan, maksudnya rintisan.

Dalam serial komedi ini ada tokoh bernama Peter Gregory yang diceritakan sebagai investor sukses. Namun, dalam setiap seminarnya, Peter selalu mengajak para pemuda untuk berhenti kuliah dan fokus mengejar kesuksesan di luar kampus.

Baca juga: Di Balik Saling Contek Antar Portal Belanja Indonesia

Seruan Peter tersebut adalah sarkasme yang tengil. Mengingat, sebagian besar CEO perusahaan rintisan (start-up) teknologi meninggalkan bangku kuliah dan orang-orang menjadikan fase drop out sebagai excuse, awal kesuksesan layaknya para tokoh terkenal tersebut. Kenapa hanya fokus di bagian gagal menyelesaikan kuliah, bukannya melihat usaha dan kerja kerasnya secara keseluruhan?

Richard Hendricks yang menemukan algoritma kompresi data revolusioner menjadi rebutan dua tokoh besar di Silicon Valley. Gavin Belson pemimpin sebuah perusahaan sebesar Google menawarkan 10 juta dolar untuk membeli aplikasi Pied Piper buatan Richard. Sementara, Peter Gregory menawarkan investasi sebesar 200.000 dolar untuk kepemilikan saham 10%.

Sebenarnya, cerita Silicon Valley bakalan langsung tamat jika Richard menerima tawaran 10 juta dolar yang sempat membuatnya muntah-muntah itu. Namun, Richard memilih membesarkan ‘bayinya’ dan melihat sendiri ‘sang anak’ tumbuh. Demi sebuah romantisme menjalankan start-up.

Namun, merintis usaha tak mudah. Richard bersama rekan-rekannya melalui banyak cobaan dan rintangan. Seperti skandal pelanggaran hak cipta dan persaingan di dunia bisnis yang kejam. Bahkan, Richard pernah didepak dari jabatan CEO di perusahaannya sendiri.

Baca juga: Di Balik Toko ‘Online’ Ada Kerja Perempuan yang Terabaikan

Pada musim keenam, Richard berbicara di depan kongres selayaknya Mark Zuckerberg yang sempat dituduh mengumpulkan data pengguna. Namun, tokoh jagoan kita benar-benar punya ideologi internet yang sehat. Dia menolak aktivitas penyelewengan data pengguna untuk kepentingan iklan.

Bahkan saking baik hatinya, ketika tahu bahwa kecerdasan buatan Pied Piper berbahaya bagi privasi global (termasuk ancaman bocornya kode nuklir), Richard memilih untuk menggagalkan peluncuran produknya. Supaya ending dunia tidak seperti di film Terminator.

Tapi dasar serial HBO, bagian akhir Silicon Valley sama bikin patah hatinya kayak Game of Thrones. Richard berlagak Jon Snow dan menikam Daenerys Targaryen. Dia rela usahanya selama enam season menjadi sia-sia demi menyelamatkan dunia. Setidaknya, dengan begitu, dia tidak punya beban moral.

Seandainya, dulu dia menerima 10 juta dolar untuk melepaskan karyanya, mungkin dia nggak rugi-rugi amat. Namun, dia sama sekali tidak menyesali keputusannya tersebut. Sebab sebuah mimpi layak diperjuangkan dan diri sendiri berhak diberi kesempatan.

Baca juga: Drama Start-Up dan Perempuan yang Rentan terhadap Impostor Syndrome

Kisah rintihan serupa bisa kita temukan juga di sebuah drama Korea Selatan berjudul Start-Up. Ceritanya, Korsel punya semacam Silicon Valley dan diberi nama Sand Box. Nah, konsep Sand Box ini lahir dari kegagalan seorang pengusaha pada 15 tahun lalu.

Diceritakan, seorang ayah dua anak diceraikan istrinya karena resign dari perusahaan dan ingin memulai bisnis sendiri. Sang ayah ditinggalkan oleh istri dan putri sulungnya. Bersama putri bungsunya, sang ayah memulai usahanya.

Namun, usahanya dalam membuat website kuliner tidak membuahkan profit. Ternyata kerja keras saja tidak cukup.

Begitu ketemu titik terang, sang ayah mengalami kecelakaan dalam perjalanan bertemu investor, tetapi masih bertahan hidup. Barulah setelah rapat dan mendapatkan pendanaan dari investor, sang ayah malang ini meninggal dunia dalam perjalanan pulang.

Investor sempat mendengar curhat sang ayah bahwa menjalankan bisnis itu keras. Jika jatuh, seperti jatuh di aspal (mengingat dirinya memang baru kecelakaan dan secara harfiah jatuh di aspal). Seandainya menjalankan bisnis seperti seorang anak bermain ayunan di atas sekotak pasir, pastilah tidak akan sesakit itu walaupun jatuh berkali-kali.

Artikel populer: Jika Drakor Start-Up Diadaptasi Menjadi Sinetron Indonesia

Dari situlah, sang investor terpantik untuk merealisasikan ide Sand Box (kotak pasir). Semacam Rumah Siap Kerja ala Sandiaga Uno untuk para pebisnis pemula menjalankan usahanya. Sebab setiap pelaku bisnis di Sand Box akan dapat fasilitas sendiri berupa kantor beserta printilannya, dan yang terpenting dapat gaji.

Konsep Sand Box yang menjadi zona aman generasi masa kini itu lahir dari kisah rintihan seseorang di masa lalu. Nyatanya, rintihan pun bisa menjadi inspirasi supaya generasi mendatang tidak terjatuh di aspal yang sama.

Untungnya, pengusaha pemula di Indonesia tidak perlu mengalami jatuh di aspal. Soalnya masih banyak jalan yang belum diaspal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini