‘Review’ Tidak Biasa Film Black Panther

‘Review’ Tidak Biasa Film Black Panther

Marvel Studios

Pernah terbayang bagaimana Indonesia sekarang kalau kita tidak pernah dijajah bangsa kulit putih? Ada yang bilang Thailand tidak dijajah, tapi ya begitu doang. Tidak salah, sih. Thailand memang tidak dijajah, tapi bangsa kulit putih pada saat yang sama juga menguasai perekonomian Asia Tenggara selama beratus-ratus tahun. Mengeruk kekayaan alam dan memperkaya negara mereka sendiri.

Kita yang terbiasa menjadi negara bekas jajahan mungkin sulit membayangkan betapa majunya kalau tidak terjajah. Misalnya, bisa jadi kita sekarang memiliki perekonomian yang lebih stabil dan mungkin sudah bisa kirim manusia ke bulan. Bisa jadi juga, identitas kita akan jauh berbeda dari identitas ke-Indonesia-an saat ini.

Begitulah perasaan saya saat menonton Black Panther. Dalam film itu, Wakanda adalah representasi negara minoritas yang kaya dan sangat maju, karena memiliki hak penuh atas sumber daya alam tanpa harus tergerus ketamakan penjajah.

Jika narasi yang dibangun oleh sineas kulit putih tentang Afrika melulu soal kelaparan, kemiskinan, dan perang saudara, Wakanda menampilkan representasi bangsa Afrika yang kaya, necis, dan tidak pernah miskin.

Lebih dari sekadar representasi, Black Panther menampilkan identitas ke-Afrika-an yang penuh martabat, bukan sebagai olok-olok, bukan sebagai tokoh sampingan penuh kelakar.

Black Panther dan Wakanda adalah narasi penting bagi kelompok minoritas. Lebih dari sekadar representasi kaum minoritas dalam media populer, persoalan rekonstruksi identitas ke-Afrika-an dalam Black Panther sangatlah krusial.

Rekonstruksi identitas ke-Afrika-an yang ditampilkan oleh Black Panther dianggap berbahaya bagi kelompok mayoritas Amerika, sehingga dianggap penting untuk disabotase.

Bagaimana tidak, orang kulit hitam penyembah nenek moyang, kemungkinan tidak seagama dengan mayoritas kulit putih Amerika, memiliki perangkat teknologi tercanggih yang dapat memenangkan perang melawan kulit putih. Mereka tidak pernah miskin, bahkan sangat kaya dan dapat membeli tanah milik kulit putih di salah satu negara bagian paling mahal di Amerika.

Marvel Studios

Representasi ini sangat jarang muncul dalam media, sama jarangnya dengan representasi orang Tionghoa ataupun Papua sebagai tokoh utama di Indonesia. Sebab itu, kalau ada orang Tionghoa berprestasi tapi tidak beragama tertentu, kelompok mayoritas jadi blingsatan. Hal-hal yang jarang – atau mungkin tidak pernah – direpresentasikan, memang seringkali sulit diterima oleh masyarakat.

Kembali ke Black Panther, pendobrakan status quo tak hanya muncul dalam satu-dua adegan saja, melainkan inheren sepanjang cerita. Misalnya saja, berbeda dengan film Hollywood yang suka sekali membenturkan perempuan, Black Panther menyatukan tiga perempuan luar biasa dalam sebuah tim yang saling mendukung, bahkan ketika mereka berbeda pendapat sekalipun.

Perempuan juga tidak ditampilkan sebagai simbol seks. Tidak seperti Wonder Woman yang baju perangnya lebih banyak belahan dada dan minim perlindungan, ksatria Wakanda (seluruhnya perempuan) menggunakan pakaian perang sungguhan.

Selain itu, Black Panther dengan santainya mempertukarkan peran umum laki-laki dan perempuan. Salah satunya adalah ketika laki-laki ditampilkan dalam fungsi perawat dan pelindung, perempuan mengambil tugas sebagai panglima perang.

Black Panther juga tidak malu-malu menyetarakan peran laki-laki dan perempuan. Adalah wajar bagi laki-laki untuk merasa emosional, dan wajar bagi perempuan untuk keras kepala dan teguh pendirian.

Wakanda dan Black Panther adalah narasi penting dalam politik identitas bagi kelompok minoritas, termasuk perempuan dan kulit hitam. Terakhir kali, Hollywood memiliki tokoh utama pahlawan berkulit hitam adalah Blade, 20 tahun lalu.

Marvel Studios

Berulang kali wacana mengenai pahlawan berkulit hitam dilontarkan, sayangnya status quo di Hollywood sulit dilawan. Bahkan untuk pahlawan perempuan sekaliber Wonder Woman pun harus menunggu 40 tahun sebelum tampil di layar lebar sejak serialnya muncul pada tahun 70-an.

Lebih dari itu, sang sutradara Ryan Coogler juga menampilkan kemarahan dan frustrasi atas penindasan kepada kelompok kulit hitam oleh mayoritas kulit putih di Amerika dengan sangat ciamik. Bagaimana negara mengangkangi hak-hak dasar dan melemahkan hak hidup kelompok kulit hitam, yang ditunjukkan dengan gamblang melalui obsesi tokoh antagonis Killmonger untuk angkat senjata melawan penindasan.

Killmonger bukanlah sekadar penjahat haus kuasa tipikal film-film superhero. Ideologi dan kemarahan Killmonger memiliki dasar logika yang dapat dibenarkan. Bahwa kelompok mayoritas adalah penindas, maka Wakanda harus berbuat sesuatu untuk membantu mereka yang terlindas.

Killmonger juga membuka percakapan penting tentang keberpihakan. Jika selama ini raja-raja Wakanda hanya berpihak pada kesejahteraan warganya semata, Killmonger menantang hal itu dengan satu pertanyaan: “Apa yang akan kalian perbuat agar dunia juga dapat memberikan kesejahteraan bagi kelompok-kelompok tertindas?”

Killmonger tidak sendiri, pesan-pesan anti-kolonialisme juga disajikan dengan terbuka dan tidak subtil di sepanjang film. Misalnya, saat Shuri memanggil Ross sebagai penjajah. Lebih dari itu, Killmonger juga ditampilkan sebagai seorang  penduduk asli Oakland, tempat di mana organisasi Black Panther terbentuk di tengah pergerakan hak-hak sipil di Amerika.

Sebab itu, Black Panther menjadi penting untuk menggoyang status quo dalam film-film Hollywood. Industri raksasa yang dipimpin oleh kelompok pria kulit putih ini lebih suka menghindari risiko. Maka, representasi dalam industri pun akhirnya ‘keputihan’, karena takut kehilangan pasar.

Marvel Studios

Bahwa Black Panther mendulang sukses besar, menjadi bukti bahwa penggambaran realitas yang mendobrak obsesi terhadap kulit putih tidaklah berisiko buruk, asal digarap dengan serius.

Bicara soal ‘keputihan’, salah satu yang paling penting sekaligus membawa kita kembali kepada kenyataan kapitalistik ala Hollywood dalam Black Panther adalah upaya untuk tetap menempatkan Ross, seorang pria kulit putih, agen CIA, sebagai penyelamat dunia.

Ini semacam penegasan bahwa pada akhirnya, kita sebagai kelompok non-kulit putih tetap tidak bisa menang sepenuhnya tanpa pria kulit putih.

Seorang profesor favorit yang berasal dari Afrika selalu memulai hari pertama dalam kelas Politik Konservasi dengan menggunakan analogi pemburu dan harimau. Katanya,  dunia ini tidak pernah mendengarkan narasi perburuan dari kacamata harimau. Narasi perburuan seutuhnya dikuasai oleh cara pandang si pemburu.

Kita tidak memberi ruang dan tidak memberdayakan harimau untuk menceritakan kisahnya sendiri. Karena itu, cara pandang kita memandang konservasi dan memandang Afrika pun berat sebelah. Pasalnya, pengetahuan kita seutuhnya berasal dari si pemburu.

Satu-satunya cara agar kita mengetahui apa yang dirasakan harimau adalah dengan memberinya ruang dan kekuatan untuk menceritakan kisahnya sendiri.

Sama halnya dengan perebutan narasi dari si pemburu, Black Panther adalah ajang kelahi politik identitas dan perebutan narasi dari penjajah kulit putih.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.