2 Hal yang Seharusnya Menjadi Resolusi Tahun Baru

2 Hal yang Seharusnya Menjadi Resolusi Tahun Baru

(Photo by Bagus Renaldy on Unsplash)

Selama setahun penuh kita disuguhi pelbagai peristiwa yang merontokkan harapan indah yang kita semai pada awal 2017: skandal mega korupsi, pilkada teriuh dalam sejarah umat manusia, dan akting tak meyakinkan seorang pesakitan.

Itu tak berarti tahun 2017 lebih remuk ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Dari pengalaman kita menjadi tahu bahwa tak ada tahun yang sungguh sempurna untuk dikenang selayaknya mengenang ciuman pertama.

Namun, yah, tak keliru juga bila memasukkan tahun 2017 ke dalam daftar tahun terburuk pada era milenium.

Bagaimanapun, kita sudah melalui ritual perdebatan tahunan mengenai hari Natal, dan tahun baru selalu menghadirkan harapan baru. Maka, alangkah tak elok bila kita tidak membuat resolusi apa pun untuk tahun 2018.

Resolusi, kita tahu, memberi kita tujuan konkret. Tanpa memiliki tujuan, kita akan berjalan secara serampangan atau malah tidak berjalan ke mana pun, kemudian dengan konyolnya kita menyebut itu pencapaian.

Adalah benar bahwa kenyataan hidup sehari-hari berpotensi untuk meremukkan resolusi indah yang kita tetapkan, dan itu merupakan cerita lama. Namun, di situlah salah satu kegunaan penting resolusi: setidaknya kita tahu apa yang kita remukkan.

Masih ada cukup waktu untuk Anda membikin resolusi. Bukan maksud saya untuk mengintervensi harapan syahdu Anda, tetapi ada baiknya bila Anda mempertimbangkan beberapa hal yang saya sodorkan di sini untuk Anda jejalkan ke dalam daftar resolusi.

Sekarang, duduklah semanis mungkin dan mulailah menyimak apa-apa yang saya sarankan.

1. Harapan agar tetap berpikiran waras

Ini adalah harapan terbaik yang sudah selayaknya Anda masukkan sebagai salah satu resolusi saban tahun. Pikiran waras, mari kita sepakati saja, adalah aset paling berharga yang dimiliki manusia, bahkan lebih berharga ketimbang memiliki tubuh yang sehat. Jika Anda meragukan hal ini, silakan tengok kondisi Stephen Hawking.

Memiliki pikiran yang waras tampaknya menjadi agak lebih penting lagi pada 2018. Saya menduga, dan biasanya dugaan saya benar, akan terjadi banyak peristiwa yang menghantam kewarasan Anda tanpa ampun pada 2018. Itu ada hubungannya dengan pilkada serentak dan masa transisi sebelum pemilu.

Boleh jadi Anda merupakan seseorang yang apolitis, dalam arti Anda selalu merasa pusing dan mual ketika mendengar berita politik. Namun, sebaiknya Anda tahu bahwa kegilaan bisa menghantam siapa saja.

Pilkada Jakarta bisa Anda jadikan parameter mengenai kegilaan macam apa yang bakal Anda hadapi nanti. Masyarakat terbelah ke dalam beragam kubu, dan tugas utama sebuah kubu adalah membuktikan bahwa kubu manapun selain dirinya itu tak lebih dari sekumpulan idiot.

Itu sesuatu yang mengerikan, tentu saja, terutama bila Anda dan orang-orang yang Anda sayangi berdiri di kubu yang berlainan.

Jika pilkada belum cukup memberikan sensasi seperti berada di dalam panci presto, masih ada satu fase tambahan yang tak kalah menyenangkan: fase transisi pemilu.

Anda tahu bahwa pemilu akan diselenggarakan pada 2019, dan sebaiknya Anda juga tahu bahwa orang-orang di atas sana bakal memamerkan manuver-manuver berbahaya yang membuat kemampuan Sukhoi tampak menggelikan.

Pada masa presiden sebelumnya, manuver politik tersebut tak berdampak secara signifikan selain membuat mantan presiden kita menjadi jarang menelurkan album.

Namun, hal serupa tampaknya sulit terulang: presiden yang sekarang lebih senang membangun jalan ketimbang bermusik, dan separuh masyarakat membencinya sebesar kecintaan separuh masyarakat yang lain.

Kebencian dan kecintaan yang nyaris fanatik adalah sarana terbaik untuk memecah belah persatuan. Atau, dalam lingkup yang lebih sempit dan spesifik, mengempeskan kewarasan seseorang.

Karena itulah, saya menyarankan Anda untuk memasukkan resolusi yang ini ke dalam daftar. Sebab, Anda tentu enggan menjadi pribadi yang sama sekali lain, yang tertawa girang di perempatan jalan dan menangis tersaruk-saruk di tempat yang sama, saat tahun 2018 berakhir.

2. Harapan agar tetap hidup

Jika situasi Indonesia bakal memanas pada 2018, tidak demikian halnya dengan situasi dunia secara umum: Finlandia akan tetap menjadi yang terbaik di sektor pendidikan, Somalia akan tetap menjadi yang terbaik di sektor kemiskinan, dan Amerika Serikat akan tetap menjadi yang terbaik untuk urusan membikin negara lain berang.

Negara yang disebut terakhir ini sudah sedemikian mahir membuat jengkel orang, tak terkecuali presiden berwajah imut di Semenanjung Korea sana, yang mati-matian membikin bom atom demi menghapus Amerika dari peta, sembari melupakan sebuah fakta penting bahwa rakyatnya membutuhkan lebih banyak makanan ketimbang lebih banyak uranium.

Kabarnya, bom atom tersebut telah memasuki fase akhir pengembangan. Presiden imut itu juga telah menemukan cara untuk mengirim puluhan mega ton nuklir langsung ke daratan utama Amerika, dan tentu saja kita tidak bisa mengharapkan Amerika bakal mengucapkan terima kasih seraya memberi pelukan.

Itulah faktanya: perang nuklir sebentar lagi meletus. Jika ada sesuatu yang tidak perlu kita pusingkan, maka itu adalah negara mana saja yang berperang untuk kedua belah pihak yang berseteru.

Kita sebaiknya mulai mengambil kalkulator dan mulai menghitung berapa kali bumi bakal hancur bila semua stok senjata nuklir digunakan.

Kaum pesimis berkata bahwa bumi akan hancur sebanyak sembilan kali, sementara kaum optimis percaya kalau bumi tidak akan hancur lebur lebih dari dua kali.

Manapun pendapat keduanya yang Anda amini, faktanya bumi akan hancur oleh perang nuklir, dan belum ada cara untuk merekatkannya kembali hanya untuk dihancurkan lagi agar sesuai dengan perhitungan matematis tadi. Maka, sudah sepantasnya Anda mencemaskan perang.

Alih-alih bersikap manis agar ketegangan dunia mereda, Amerika baru-baru ini menyampaikan dukungannya kepada Israel yang berencana memindahkan ibu kotanya ke Jerusalem dari Tel Aviv.

Itu rencana yang tepat untuk memulai sebuah pertikaian, sebab Jerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama samawi, dan pendudukannya bakal membuat negara agamis manapun meradang. Yah, kecuali negara Israel sendiri, tentunya.

Oleh sebab itu, harapan agar tetap hidup merupakan harapan paling realistis untuk Anda pada tahun 2018.

Memang kemungkinan Indonesia menjadi medan perang atau ikut perang amatlah kecil, tetapi bila dua puluh ribu senjata nuklir melibatkan dirinya di kancah perang nanti, Anda akan memiliki peluang hidup yang lebih kecil lagi ketimbang peluang Indonesia di atas.

Dan, semakin kecil lagi peluang Anda bila ada nol koma nol sekian persen senjata nuklir tersebut yang, entah bagaimana, malah berkunjung ke rumah Anda.

Begitulah. Hanya dua hal tersebut yang bisa saya sarankan untuk Anda jadikan resolusi.

Tentu kita berharap situasi akan baik-baik saja: pilkada berlangsung dalam kedamaian yang nyaris surgawi, para politisi mendadak enggan bermanuver dan mulai memikirkan rakyatnya sekeras ia memikirkan saldo tabungannya, dan perang dunia tak pernah terjadi lagi.

Namun, apa pun situasinya, tetap waras dan tetap hidup merupakan syarat utama untuk Anda menjalani kehidupan yang fana ini dengan kegembiraan.

Andai Anda hidup tetapi tidak waras, Anda akan tetap gembira meski sering tak sesuai konteks, sementara bila Anda waras tetapi tidak hidup, Anda pun tetap akan bergembira meski berada di dimensi yang berbeda.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.