Resolusi untuk Film Nasional, Salah Satunya tentang Dilan 1991

Resolusi untuk Film Nasional, Salah Satunya tentang Dilan 1991

Ilustrasi Film Dilan 1991 (courtesy of Max Pictures)

Setiap tahun, selalu bikin resolusi. Namun, dalam perjalanannya, resolusi itu terlupakan dan akhirnya tidak tercapai hingga pergantian tahun. Saya malah lebih banyak menghabiskan waktu di bioskop untuk menonton film daripada berusaha mewujudkan resolusi.

Nah, daripada bikin resolusi untuk pencapaian pribadi tapi nggak kesampaian, mending bikin resolusi untuk film 2019. Untuk film impor, nggak perlu dibahas lah ya. Paling tentang bagaimana cara Avengers dan Captain Marvel mengalahkan Thanos, setelah penonton dibikin kentang alias kena tanggung di Avengers: Infinity War.

Lalu, apakah April nanti akan menjadi akhir yang indah bagi penggemar Marvel Cinematic Universe setelah menyimak selama satu dekade? Ditambah Game of Thrones musim terakhir yang mulai tayang pada bulan yang sama. Anak nonton pastinya bakal menggelinjang pada caturwulan pertama 2019.

Tapi, yang mau dibahas kali ini adalah film nasional. Sebab, selama 2018, film Indonesia menjadi primadona di negeri sendiri. Dilan 1990 menjadi film terlaris pada 2018 dengan capaian 6 juta penonton.

Baca juga: Agar Kamu Nggak Kecewa-kecewa Amat, saat Nonton Film dari Sebuah Novel

Selain itu, Suzzanna yang diperankan Luna Maya pun berhasil lahir kembali, walaupun harus bernafas dalam kubur. Danur Universe juga semakin menjadi-jadi; dalam setahun bisa rilis tiga film dalam waktu berdekatan. Sementara, kesuksesan AADC dan sekuelnya menginspirasi film Eiffel… I’m in Love untuk dibikin lanjutannya setelah sekian tahun.

Nostalgia ternyata masih menjadi jualan yang ampuh selama 2018. Setidaknya itu juga diaminkan oleh Rano Karno dengan membuat Si Doel the Movie. Menyusul, Wiro Sableng yang kembali beraksi di dunia persilatan Tanah Air untuk merebut angka 212 yang belakangan lebih tenar di Monas.

Yang lebih mengejutkan lagi dari 2018, pencapaian film biopik tokoh politik bisa menyaingi jumlah penonton film horor. Dari luar negeri, ada Bohemian Rhapsody. Dari dalam negeri, kita punya A Man Called Ahok.

Kisah hidup Ahok ternyata tidak kalah menarik dengan cerita mistis tentang Jailangkung, Kuntilanak, atau Boneka Sabrina. Teman Ahok yang pernah sukses mengumpulkan sejuta KTP untuk Ahok kembali mengulang kesuksesan dengan mengumpulkan lebih dari sejuta penonton.

Baca juga: Bagusan Film Ahok atau Hanum & Rangga, ya?

Sampai tulisan ini dibuat, sebanyak 13 judul film berhasil menembus angka sejuta penonton. Tentunya, pada tahun-tahun berikutnya, saya berharap film lokal bisa lebih baik dan terus mendongkrak minat nonton masyarakat agar industri kreatif semakin maju. Jadi, inilah harapan saya untuk film nasional pada 2019.

Dilan 1991

Novel Pidi Baiq yang diangkat ke layar lebar ini viral sejak trailer. Pemilihan cast Iqbaal Ramadhan sempat menuai kontroversi. Namun, ketika film tayang, ternyata akting Iqbaal sebagai Dilan nggak jelek-jelek amat. Presiden aja sampai nonton.

Namun, film Dilan 1990 masih punya beberapa kekurangan. Yang paling kasar, adegan ibunya Dilan nyetir mobil, tapi kaca mobilnya green screen. Semoga ke depannya tidak ada lagi. Kalaupun pakai editan, tidak ketahuan.

Saya yakin film Dilan 1991 nanti juga laku keras. Walaupun ceritanya bakal mematahkan hati banyak orang (kalau mengikuti alur di buku). Namun, cerita ini sebaiknya tidak berhenti di Dilan 1991. Saking sukanya, penonton pasti menginginkan film ini tayang setahun sekali. Setelah Dilan 1991, berharap ada Dilan 1992, Dilan 1993, Dilan 1994, dan seterusnya.

Baca juga: Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)

Misalnya Dilan 1998, Dilan ikut demo menurunkan presiden. Dilan 2016, Dilan ikut Aksi Damai 212. Dilan 2018, Dilan ikut Harbolnas 12.12. Sampai Dilan 2019, Dilan dan Milea beda pilihan capres sampai debat hebat.

Namun, dengan kekuatan cinta, mereka tetap bertahan walaupun berseberangan. Dilan udah jarang kasih puisi ke Milea, lebih sering kasih link berita kampanye hitam.

Sukamiskin Redemption

Kalau tokoh politik berpengaruh seperti Ahok difilmkan bisa laris manis, kita coba berpikir sebaliknya. Bagaimana kalau ada film tentang napi tipikor di Lapas Sukamiskin? Menarik, bukan? Ketika tokoh antagonis dapat spot light.

Sampai saat ini, The Shawshank Redemption masih menjadi film terbaik versi rating IMDb. Nah, Sukamiskin Redemption bakal jadi versi lokalnya. Premis ceritanya tentang napi yang mencoba kabur dari lapas, tapi tidak berhasil. Dia putar otak. Akhirnya dia membuat selnya seperti rumah sendiri dengan fasilitas mewah.

Sementara itu, orang-orang biasa di luar lapas malah terpenjara oleh keadaan. Dengan kekuasaannya, dia membuat logika terbalik: bui sesungguhnya adalah di luar kurungan.

Film Raffi Ahmad

Melalui rumah produksinya, Raffi Ahmad sudah merilis setidaknya setengah lusin judul film sepanjang 2018. Yang mengejutkan dari semua film tersebut, Raffi mengaku tidak mengalami kerugian. Memang ya Aa’ Raffi sudah seperti Raja Midas: apa yang disentuhnya jadi emas.

Artikel populer: Film Bohemian Rhapsody Mengganjal di Hati, Sebuah Kritik

Getol bermain di genre horor, RA Pictures sempat merilis trilogi film Arwah Tumbal Nyai. Film ini dibagi tiga; part Arwah, part Tumbal, dan part Nyai. Luar bioskop! Untung saja, Raffi Ahmad tidak memproduseri film Si Manis Jembatan Ancol, nanti filmnya bisa-bisa dibagi tiga; Part Si Manis, Part Jembatan, dan Part Ancol.

Promosi film Arwah Tumbal Nyai terbilang unik. Sebab, tiket nontonnya bisa ditukar dengan minyak goreng dan beras. Ini menarik. Rumah produksi mana yang peduli dengan kebutuhan dasar penontonnya: sembako.

Jadi, kalau nanti disuruh emak beli minyak, bisa melipir ke bioskop dulu. Toh, pulangnya bawa minyak juga. Semoga ke depannya RA Pictures bisa memberikan hadiah yang lebih merakyat daripada sembako, misalnya sepeda. Pak Jokowi pasti ikut nonton.

Dengan gemilangnya ide cerita dan promosi film yang dicetuskan, Raffi Ahmad membuat resolusi tahun 2019. Ia siap rilis film sebulan sekali. Wow. Benar-benar produktif.

Gara-gara film Rafathar sukses mencapai 400 ribuan penonton, Raffi Ahmad percaya diri kelak film-film mendatangnya akan laku jua. Namun, saran saya, jangan cepat-cepat bikin sekuel Rafathar. Daripada bikin film, mending bikin adik untuk Rafathar dulu.

Nah, dari situlah nanti sekuel Rafathar akan punya judul yang sama dengan nama anak kedua Raffi dan Gigi. Satu anak, satu film. Banyak anak, banyak film, banyak rezeki. Nggak percaya? Lihat Gen Halilintar.

3 COMMENTS

  1. Sebelum membaca bio penulisnya yang seorang comedy blogger, saya sudah menduga kalau tulisan ini lucu. Iya, tapi lucu doang gitu. He he he.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.