Rencana Menikah dan Beli Rumah Hingga Batas Waktu yang Belum Ditentukan

Rencana Menikah dan Beli Rumah Hingga Batas Waktu yang Belum Ditentukan

Ilustrasi (Photo by Andrew Itaga on Unsplash)

Belakangan ini, setiap kali membuka Instastory, pasti nemu setidaknya tiga hal: kondangan, nikahan, dan honeymoon. Ada benarnya omongan orang, musim kawin menjadi musim ketiga di Indonesia selain kemarau dan hujan. Biasanya itu setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Beberapa teman ada yang menikah di gedung atau hotel, ada pula yang di rumah, atau kombinasi keduanya. Nggak ada postingan menikah di KUA. Nggak instagramable banget, kan?

Bagi pasangan yang menikah, tentu saja postingan kebahagiaan dengan tangan menyimbolkan “love ala Korea berlanjut ke tempat-tempat sejuk atau eksotis keesokan harinya. Apa lagi kalau bukan ena-ena bulan madu alias honeymoon? Hmmm…

Mungkin, ada yang merasa ketinggalan melihat teman, apalagi seumuran, yang menikah lebih dulu. Padahal, menikah bukan balapan karena yang balapan adalah stasiun. Tapi yang bikin penasaran, kok bisa punya uang untuk menikah and honeymoon in this economy?!

Lalu, saya coba mencari bala bantuan di media sosial khusus sambat: Twitter. Mau menggalau di Instagram rasanya kurang aesthetique. “Kok iso do nduwe duit nggo rabi + hanimun sih?” Cuit saya di Twitter.

Ternyata, teman-teman yang belum menikah dan tentu saja belum bisa honeymoon juga mempertanyakan hal yang sama. Bahkan, ada yang dengan hopeless-nya bilang, “Saya tidak punya uang, jadi saya belum menikah, apalagi honeymoon.”

Baca juga: Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Kemudian, perbincangan berlanjut hingga sampai pada satu hipotesis bahwa menikah adalah privilese. Tajuk media belakangan ini yang menyatakan bahwa milenial tidak bisa beli rumah sejujurnya kurang lengkap. Jangankan beli rumah, menikah aja susah.

Namun, berkat Instagram, menikah menjadi ajang pamer bagi sepasang mempelai dan/atau orangtuanya, terutama setelah merebak pernikahan para selebgram yang instagramable. Ditambah, algoritma yang bikin pengguna makin sering melihat postingan serupa, jika sering explore/like unggahan pernikahan.

Sebagai catatan, milenial di sini merujuk pada orang yang lahir antara tahun 1981-1996. Vice pernah memberitakan seberapa mahalnya pernikahan yang indah dipandang lewat Instagram itu. Menurut penulisnya, ada yang berani merogoh kocek Rp 934 juta demi foto bunga yang bagus. Wow… Kalau saya sih, uang Rp 900 juta itu bisa buat… eh tunggu, kamu itu sobat misqueen, mana paham? Baiqla…

Tapi untuk urusan kawin-mawin ini, saya coba flashback ketika negosiasi gaji dengan calon atasan. Waktu itu, saya mengajukan nominal yang kemudian dianggap terlalu tinggi, dengan alasan kebutuhan hidup di kabupaten tempat tinggal saya masih amat murah.

Karena negonya juga santuy, saya pun mengungkapkan beberapa alasan di balik pengajuan nominal tersebut, salah satunya: “Biar bisa nabung buat nikah.” Lalu, si bos mengernyitkan dahi. “Nikah kan dibiayain orangtua,” katanya.

Baca juga: Utang Nggak Utang Asal Kawin

Nah, orang-orang kayak si bos itu nggak cuma satu-dua jumlahnya di Indonesia. Mereka berpikir calon mempelai nggak perlu mikirin bujet pernikahan, karena itu menjadi tanggungan orangtua. Padahal, tabungan untuk pernikahan sepaket dengan biaya bulan madu, modal hidup, hingga beli rumah dong. Eh, buat DP cicilan KPR deng.

Menikah dan berumah tangga bukan kayak lulus SMP, lanjut SMA. Tinggal jalanin aja kalau sudah nemu yang cocok. Lain hal memang kalau ortunya tergolong crazy rich. Tapi, bagaimana dengan generasi milenial yang dilahirkan dan tumbuh di keluarga kelas menengah, terutama menengah ke bawah?

Belum lagi, kalau ia dibesarkan oleh single parent. Ada perasaan tahu diri terhadap orangtua yang sudah susah payah membesarkan kita. Meskipun, kadang-kadang kita pernah menuntut dibelikan ini-itu, tapi giliran ibu minta dibelikan garam di warung sebelah, kita masih saja mengelak “lima menit lagi”.

Rasa tahu diri itu pada gilirannya akan membuat kita paham, entah oleh kesadaran sendiri atau karena sejak awal sudah ditanamkan oleh orangtua, bahwa untuk menikah harus mengumpulkan uang sendiri. Sebab, orangtua pun tak bisa berhemat untuk menabung. Mengapa bisa begitu? Ya karena untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sudah habis.

Masalahnya kemudian, kita pun mendapat pekerjaan yang hasilnya juga nggak bisa ditabung. Jangankan untuk beli rumah, menikah saja jadi rencana yang masuk kolom “hingga batas waktu yang belum ditentukan”.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Pertama-tama, marilah kita menilik kemungkinan membeli rumah. Katakanlah mau beli rumah subsidi dari pemerintah di pinggiran Yogyakarta yang harganya Rp 130 juta-an. DP Rp 14 juta, sisanya dicicil Rp 800 ribu selama 15 tahun.

Lha, kalau gaji hanya UMR Yogya ditambah sedikit, untuk DP saja harus ekstra ngirit selama 14 bulan (misalnya menabung Rp 1 juta per bulan). Itu baru rumah subsidi, lho. Kalau rumah yang bukan subsidi dan letaknya hanya sedikit mendekati kota saja, harganya sudah nggak masuk hitungan kalkulator hidup ini.

Tren semacam ini ternyata juga terjadi di Korea Selatan, seperti yang dilaporkan Tirto. Ternyata, 46% milenial di Korsel beranggapan bahwa mereka nggak akan bisa beli rumah karena korporasi di sana dikuasai segelintir elit saja. Sebagai substitusi dari perasaan kecewa tidak bisa membeli rumah, mereka melampiaskannya dengan gaya hidup yang cenderung berfoya-foya.

Makanya, kalau melihat teman-temanmu kayaknya setiap hari menonton konser, traveling ke sana-sini, beli barang mewah, ngopi yang Rp 50 ribu-an per gelas 2 kali sehari, nggak usah iri. Bisa jadi itu juga bentuk kekecewaan mereka seperti milenial Korsel. Huhu, sediii… Di Indonesia juga perusahaan-perusahaan dikuasai oleh segelintir elit saja.

Elit-elit ini bukan hanya menancapkan kukunya di bidang tertentu, melainkan membentuk konglomerasi yang membawahi segala bidang, mulai dari properti, tambang, media, sampai ritel. Celakanya, banyak pula pemilik grup perusahaan-perusahaan itu yang jadi politisi.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Mereka literally menguasai hajat hidup banyak orang. Kalau ada yang menjegal langkahnya di dunia bisnis, mereka punya cukup power untuk memengaruhi langkah para pembuat kebijakan di negeri ini agar dapat menjadi simbiosis mutualisme dengan bisnisnya.

Sampai di sini sudah paham kan, betapa fucked up-nya hidup kita para kelas menengah ngehek tanpa privilese yang hobi sambat ini?

Mereka juga lho yang membuat pandangan orang tentang rumah berubah dari semula kebutuhan pokok (papan) menjadi ‘rumah adalah bentuk investasi’. Mereka punya bisnis properti, mereka juga punya media. Kita bisa apa?

Lantas, bagaimana soal biaya menikah? Memangnya berapa sih rata-rata anggaran untuk sebuah pesta pernikahan? Sekitar Rp 61 juta untuk 500 undangan di Yogyakarta, tahun 2016, menurut Hipwee. Dengan asumsi inflasi 5% per tahun, jumlah ini meningkat menjadi sekitar Rp 70 juta. Tentu biaya ini nggak saklek, bergantung pada jumlah tamu, pilihan katering, venue, dan lain-lain. Di kota lain, tentu biayanya berbeda.

Silakan hitung sendiri, berapa banyak kamu harus menabung setiap bulan agar bisa menikah pada tahun yang kamu dan pasanganmu inginkan?

“Jangan nabung doang dong. Investasi tuh kayak yang dibilang Minjou.”

Investasi itu buat jangka panjang, lho. Memangnya bisa menjamin nilai investasi beneran naik signifikan selama 1-2 tahun ke depan? Kalau untuk kebutuhan jangka pendek, harusnya nabung. Katanya, sih. Kata admin akun-akun finansial sih gitu. Saya juga nggak tahu, wong belum nabung dan investasi.

Sudah, ah. Ayo kita ngopi yang segelas Rp 50 ribu-an aja habis ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.