Relasi Dilan dan Milea tentang Penaklukan, Beda dengan Rangga dan Cinta

Relasi Dilan dan Milea tentang Penaklukan, Beda dengan Rangga dan Cinta

Rangga-Cinta, Dilan-Milea (Miles Film dan Instagram)

Kurang dari dua pekan sejak penayangannya di layar lebar Indonesia, film Dilan 1991 sudah ditonton oleh empat juta pengunjung. Bukan sesuatu yang mengherankan, karena sebelumnya kisah cinta Dilan dan Milea juga menyedot perhatian jutaan orang.

Gombalan Dilan yang berupa “Jangan rindu itu berat. Kamu gak akan kuat, biar aku saja” sukses dijadikan banyak caption di unggahan media sosial. Tentunya akan disusul dengan “Nanti kalau jaket ini aku pinjemin aku sakit, kalau aku sakit siapa yang jagain kamu?” Itu..

Kata-kata memang menjadi senjata utama Dilan, hingga akhirnya panglima tempur ini berhasil memenangkan hati Milea. Layaknya kebanyakan tokoh utama perempuan pada umumnya, karakter Milea dihinggapi sindrom Helen of Troy; kecantikannya diperebutkan lelaki di sekelilingnya.

Kisah seperti ini pernah kita temui dalam roman populer lainnya, semisal Bella Swan di serial Twilight, Tita di Eiffel I’m in Love, hingga Ani di Gitar Tua Oma Irama.

Pada sepuluh menit pertama di film Dilan 1990, lewat ‘Daftar Orang yang Mau Jadi Pacarmu’ yang dituliskan Dilan, kita tahu sudah ada lima pria yang ingin menjadi pacar Milea. Sampai di film selanjutnya, sekalipun Dilan dan Milea sudah resmi berpacaran, masih kita temui pria-pria lain yang tertarik dengan Milea. Wajar, mengingat cerita ini berpijak di atas premis ‘Milea cantik idola pria’.

Akhirnya, seperti Scott Pilgrim versus The World, Dilan juga harus menghadapi pria-pria yang menginginkan Milea.

Baca juga: Dilan 1991 Pecah Sejak dalam Trailer. Andai Dilan Pacaran dengan Milea pada 2019

Misalnya, pada film Dilan 1991, saat adegan kedatangan Dilan pada saat sesi belajar privat Milea dengan Kang Adi di rumahnya. Terganggu dengan kehadiran Dilan, Kang Adi pun menunjukkan kuasanya dengan kalimat “Milea harus belajar”. Tentu maknanya bukan sekedar kepedulian terhadap kehidupan akademik Milea, namun juga menunjukkan posisinya sebagai guru privat saat itu sedikit lebih tinggi dibanding Dilan.

Tak ingin kalah dengan Kang Adi, Dilan sendiri akhirnya mencoba merebut kembali kuasa tersebut dengan membawa rombongan geng motornya ke rumah Milea. Selain mengerubungi Kang Adi yang mendadak ciut karena kalah jumlah, Dilan juga merangkul Milea sambil mendeklarasikan hubungan mereka.

Namun, rangkulan dan pengakuan itu bukan untuk Milea, tapi untuk Kang Adi. Seperti kucing yang suka mengencingi daerah teritorinya sebagai penegasan dominasi, Dilan seakan berkata, “Milea sekarang milikku!”

Maskulinitas Dilan sesungguhnya tak jauh berbeda dengan karakter protagonis pria pada umumnya. Karakter yang kalau boleh saya ramal, kalau diterima di Hogwarts pasti masuk asrama Gryffindor.

Dilan jago bertarung, ditambah dengan kecenderungan untuk melindungi orang-orang yang dipedulikannya. Sekalipun kita dibuai dengan kemampuan Dilan dalam berkata-kata, pada akhirnya Dilan lebih memilih adu kekuatan ketimbang berdiplomasi. Kualitas ini begitu penting porsinya dalam kelanjutan cerita.

Dilan juga percaya diri dan penuh perhitungan. Pada awal cerita, Dilan tidak sekadar menerapkan metode ‘pepet terus jangan kasih kendor’ pada Milea. Kehadirannya terjadi melalui banyak pertimbangan, sehingga sulit ditolak oleh Milea yang memang tidak begitu tegas.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Dia pun bisa hadir begitu intens, lalu menghilang dan membuat Milea bertanya-tanya. Sikap Dilan tersebut membuat Milea menyalahkan dirinya sendiri. Seperti saat hilangnya Dilan yang dikira Milea akibat ‘cemburu’ ke Nandan dan Kang Adi, atau Hugo.

Narasi romansa yang terjadi antara Dilan dan Milea adalah tentang penaklukan. Tak jarang Dilan mengabaikan keberatan-keberatan Milea atas kehadirannya. Misalnya, ketika Milea berulang kali berkata jangan saat Dilan ingin berkunjung ke rumahnya. Namun, hal itu dibingkai menjadi sesuatu yang romantis atas dasar perjuangan bagi rasa suka yang mendalam.

Begitu pula tindakan pendekatan Dilan pada Milea lainnya. Sehingga tentunya, sebagai pembuktian bahwa cinta itu nyata (ditambah keberuntungan janggal berupa hubungan Milea dengan Benni yang antagonis), perilaku obsesif tersebut diganjar dengan keluluhan hati dari Milea.

Satu hal yang terlupakan di sana adalah nihilnya pertukaran wacana antara sepasang kekasih ini. Milea – yang akhirnya luluh, menganggap penolakan Dilan atas larangan Milea sebagai suatu hal yang manis. Tentu, selalu menyenangkan rasanya menjadi pihak yang diperjuangkan.

Namun imbasnya, dalam konflik hubungan mereka selanjutnya Milea bertanya-tanya (lalu menangis dan menyalahkan diri sendiri) mengapa Dilan tak mau mendengarkan pendapatnya, dalam hal ini tentang berkelahi?

Baca juga: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Mengingat perkelahian Dilan adalah isu utama dalam hubungan Dilan dan Milea, sungguh menyedihkan rasanya melihat bagaimana reaksi Dilan atas kegelisahan Milea tentang hal ini. Misal, saat Milea bertanya, “Boleh nggak aku nggak suka kamu ikut-ikutan geng motor?” Sebuah pertanyaan submisif yang meminta izin untuk merasakan sesuatu ini ditanggapi dengan candaan uwuwu yang romantis.

Namun, di balik segala hal yang manis itu, Dilan pada dasarnya tidak menghargai dan manganggap penting pendapat Milea. Contohnya lagi ketika Milea mendatangi Dilan ketika berkumpul sebelum penyerangan. Reaksi Dilan adalah tentang Milea tahu dari mana dan mengelak untuk menghadapi keresahan Milea. Lalu, ketika buah pikiran Milea tidak diindahkan, atas dasar apa dan untuk apa dirinya dicintai?

Relasi ini berbeda dengan cerita Rangga dan Cinta, karakter dalam film roman remaja populer lainnya, Ada Apa dengan Cinta? (AADC). Hubungan Cinta dan Rangga terjadi atas kesepakatan kedua pihak. Pertemuan mereka berlanjut atas ajakan dan penerimaan.

Misal, perjalanan ke kios buku atau kafe. Di sana, Rangga mengajak, lalu Cinta mengiyakan. Kedatangan Cinta ke rumah Rangga pun dibingkai sebagai bentuk kepedulian, bukan satu hal yang obsesif.

Rangga maupun Cinta juga sama-sama menghargai batasan privasi satu sama lain. Sekalipun Rangga juga memiliki perasaan sayang pada Cinta, dia tetap menyepakati keinginan Cinta untuk ‘gak usah ketemuan lagi’. Perasaan gengsi adalah hal personal yang harus mereka selesaikan masing-masing, bukan menjadi luntur karena pendekatan intens dari salah satu pihak secara terus menerus.

Artikel populer: Seandainya Dilan, Rangga, dan Fahri Berada dalam Satu Grup WhatsApp

Karakter Rangga pada dasarnya cukup berbeda dengan protagonis kebanyakan. Dia bukanlah apha-male, kerjaannya menulis puisi dan membaca buku sastra. Adegan berkelahi yang terjadi adalah bentuk pembelaan diri karena dikeroyok gengnya Borne.

Proses penyelesaian konflik yang terjadi antara Rangga dan Cinta juga hadir lewat dialog-dialog yang ada isinya, bukan gombalan semata. Berbeda dengan Dilan, Rangga menghargai Cinta sebagai subjek setara.

Sebagai salah satu film terlaris Indonesia yang memiliki basis penggemar yang besar, film Dilan sekali lagi mengulangi stereotip romantika yang sudah populer. Bahwa semua bisa dilakukan atas nama cinta. Perasaan yang dalam terhadap seseorang adalah justifikasi untuk melakukan hal-hal obsesif tanpa persetujuan orang terkait. Perilaku tersebut dibingkai menjadi gestur romantis; sebagai perjuangan untuk mendapatkan kemenangan.

Bayangkan, seandainya setelah segala hal yang dilakukan Dilan kepada Milea (menemani di angkot, mengirimi hadiah, tahu rumah juga Tuhan-nya, sampai memukuli Anhar), Milea menolak Dilan karena dia tak salah memilih pacar sewaktu di Jakarta, sehingga tak memiliki perasaan apapun pada Dilan? Milea tak lagi menjadi protagonis cerita, dia akan menjadi si antagonis yang tak punya hati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.