Realita Ryme City yang Terlupakan dalam ‘Detective Pikachu’

Realita Ryme City yang Terlupakan dalam ‘Detective Pikachu’

Ilustrasi (Legendary Entertainment)

Ryme City adalah sebuah kota rekaan dalam film Pokemon: Detective Pikachu. Dalam film yang dibintangi Ryan Reynolds dalam bentuk makhluk imut kuning berbulu ini, Ryme City adalah kota yang dibangun seorang miliarder pencinta Pokemon, Howard Clifford, di mana manusia dan Pokemon bisa hidup berdampingan secara harmonis.

Imaji tentang kota yang harmonis ini cukup sering diusung oleh banyak film. Mulai dari kelinci dan harimau berteman di Zootopia sampai zombi dan manusia di film Warm Bodies. Dalam dunia yang terpecah akibat perbedaan, imaji kota multikultural seperti ini memang menggiurkan.

Secara general, Detective Pikachu berkisah tentang petualangan Tim Goodman bersama Pikachu di Ryme City. Awalnya, Tim tinggal di Leaventown, sebuah kota biasa di mana Pokemon tinggal di alam liar dan ditaklukkan oleh manusia. Keberangkatan Tim dari Leaventown ke Ryme City mengisyaratkan bagaimana penggambaran relasi manusia dengan Pokemon di Detective Pikachu.

Jika film Pokemon sebelumnya menggambarkan hubungan manusia dan Pokemon sebagai trainer dan monsternya, pada film ini manusia dan Pokemon hadir berdampingan sebagai partner.

Baca juga: Mengungkap Sisi Lain Venom yang Terhubung Langsung dengan Kita

Di Ryme City, kita bisa melihat gerombolan Pancham (Pokemon serupa panda) bersantai di taman bambu bersama manusia lainnya. Selain itu, ada Ambipom atau semacam monster berwujud monyet berbulu ungu yang asyik nangkring di tangga darurat apartemen. Sedangkan Pidgeotto, Comfey, dan Flabebe berterbangan di antara gedung tinggi, seperti halnya Dodrio dan Charmander jalan-jalan di tengah kota.

Di permukaan, Ryme City berhasil dihadirkan sebagai ekosistem harmonis yang terdiri dari banyak populasi dalam satu habitat ruang kota. Namun, apa benar seperti klaim yang diungkapkan oleh Howard Clifford bahwa masyarakat di Ryme City hidup berdampingan secara setara?

Karena itu, marilah kita melihat lebih jauh…

Di Ryme City, boleh jadi Ambipom tampak hidup berdampingan dengan manusia. Ambipom tampak wajar untuk keluar masuk apartemen dan berkeliaran di pasar malam. Namun, tanpa rumah yang pasti, tidak jelas di mana mereka melakukan prosesi buang hajatnya.

Sepenting apa kita memikirkan di mana Pokemon buang air besar dan kecil di sebuah kota yang tidak nyata dapat dilihat dari realita kita sehari-hari. Dalam dunia nyata, persebaran eek makhluk bukan manusia bisa membangun keresahan di penjuru kota.

Baca juga: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Misalnya di Clifton yang berada di pinggiran Bristol, Inggris. Di sana, warga memasang duri-duri tajam pada pohon di lingkungan permukiman mereka. Tujuannya untuk mencegah kedatangan burung-burung merpati yang sering membuang hajat di mobil-mobil mewah semacam Audi hingga Aston Martin.

Hal yang sama juga terjadi di Hougang, Singapura, di mana burung-burung merpati diracun lewat makanan untuk mengurangi persebaran eek mereka yang dianggap mengganggu kebersihan kota.

Jadi bukan tidak mungkin, tanpa tempat pembuangan yang jelas, feses-feses para Pokemon di Ryme City juga akan mengganggu warga kota. Misalnya, pengunjung pasar malam merasa terganggu ketika melihat Ambipom buang hajat. Akhirnya seperti cerita kebanyakan, sekelompok warga mengajukan aduan ke pemerintah yang berujung pada razia penangkapan Pokemon di pasar.

Selain urusan buang air, makanan para Pokemon juga bisa menimbulkan konflik dengan warga kota. Charmander boleh saja membantu penjual makanan menyalakan api kompornya. Namun, sebagai omnivora, Charmander yang berkeliaran di pasar malam akan mengganggu pengunjung yang sedang makan di sana.

Baca juga: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Bayangkan, ketika seorang pengunjung sedang menikmati santapan malamnya di kedai kaki lima, datanglah Charmander menghampiri lalu menatap penuh iba sambil bersuara, “Chaaarmander!” Si pengunjung akhirnya memberi sedikit makanannya. Habis makanannya, Charmander kembali mengeong. Si pengunjung mengusir Charmander dan melihatnya mengais sampah untuk mengisi rasa lapar. Bisa jadi, Charmander akhirnya dianggap monster gembel dan dijadikan bit dalam panggung komedi yang kontroversial.

Di kehidupan nyata, perihal makan-memakan ini tidak main-main. Di Australia, misalnya, cukup lumrah terjadi mass-culling pada kucing dengan alasan kegiatan makannya menyebabkan kepunahan spesies makhluk hidup yang lain. Sampai saat ini, Pemerintah Australia tercatat sudah membunuh ratusan ribu kucing.

Selain makan dan buang air, terkadang persoalan keberadaan makhluk lain saja bisa dianggap mengganggu. Jika melihat dari layar kaca, Pikachu mungkin tampak menggemaskan dan minta diuwel-uwel. Namun kenyataannya, tak semua manusia bisa hidup berdampingan dengan monster bagai hewan pengerat tersebut.

Bisa jadi ada manusia yang merasa terganggu dengan lengkingan “Pika! Pika!” di tengah malam karena mengganggu tidurnya. Bisa jadi pula kandungan elektrik dalam tubuh Pikachu dianggap membawa radiasi buruk ke tubuh manusia (sekalipun tanpa bukti yang jelas, namun mitos ini sudah mendarah daging), sehingga banyak stigma manusia untuk menjauhinya.

Artikel populer: Membayangkan ‘Superhero’ Marvel Beraksi di Indonesia

Dengan demikian, bukan tak mungkin jika Tim Goodman yang tiba-tiba menemukan Pikachu di rumah, malah membuangnya di pasar malam. Apalagi, Tim dan monster kuning itu tidak memiliki relasi istimewa.

Semenjak masuk ke Ryme City, kita pun disajikan dengan infrastruktur kota yang dibangun demi kepentingan manusia semacam Howard Clifford. Kedatangan pertama Tim di kota ini disambut dengan deretan gedung tinggi dan pusat perbelanjaan yang gigantis. Di sisi lain, tampak permukiman penduduk berupa deretan apartemen khas Eropa dan Amerika Timur yang berjejer rapat. Kita juga dibawa ke pasar malam yang kental nuansa Asia Timur.

Padahal, Pikachu adalah makhluk komunal yang biasanya tinggal di daerah hutan dan biasa makan buah beri. Sementara, sekawanan Ambipom biasanya hidup bergelantungan dari ranting pohon satu ke pohon lain sambil mencari kacang-kacangan.

Namun, setelah gagal melawan buldoser yang menghancurkan rumahnya akibat aktivitas pembukaan lahan seperti orangutan di kehidupan nyata, Ambipom tampaknya harus beradaptasi dengan bergelantungan di tangga darurat dan tiang listrik.

Sekalipun didaku sebagai kota ramah Pokemon, pembangunan Ryme City masih mengacu pada kota manusia-sentris yang bersifat kapitalistik. Imaji kota utopis masih tentang pencakar langit berhiaskan sedikit tanaman seperti fiksi lainnya. Kehidupan alami Bulbasaur pun terjadi pada bagian kota yang jarang, eh belum terjamah pembangunan.

Padahal, Ryme City bisa menjadi kota dengan definisi yang baru, di mana keberadaan makhluk lain juga dijadikan pertimbangan dalam proses pembangunan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.