Di Sana Kulihat Rasisme, di Sini Kusaksikan Vandalisme

Di Sana Kulihat Rasisme, di Sini Kusaksikan Vandalisme

Mesut Ozil (Twitter/@MesutOzil1088)

Piala Dunia 2018 boleh saja sudah usai. Namun, perhelatan akbar itu menyisakan cerita yang tak selesai-selesai. Bukan tentang drama VAR (Video Assistant Referee), bukan pula soal kegagalan Messi FC Argentina, apalagi tentang Kolinda Grabar-Kitarovic, presiden Kroasia itu.

Ini tentang anak manusia bernama Mesut Ozil.

Kegagalan Jerman di Rusia sangat mengejutkan. Beberapa orang kena imbasnya, mulai dari penampilan buruk sang kapten, Manuel Neuer, hingga strategi pelatih Joachim Low yang mulai tak efektif. Tapi, tidak ada yang menerima kritik lebih besar daripada Mesut Ozil.

Kritik yang ditujukan Ozil bukan soal permainannya di lapangan. Ia diragukan loyalitasnya terhadap Jerman setelah berfoto dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Ozil bertemu Erdogan di London pada Mei 2018 dalam sebuah acara amal. Ia tak sendiri, tapi bersama Ilkay Gundogan dan Cenk Tosun yang juga memiliki darah Turki.

Ozil sempat mengatakan bahwa ia berfoto dengan Erdogan untuk menghormati darah leluhurnya yang orang Turki. Ozil juga menyebutkan, meski ia berkewarganegaraan Jerman, Turki mendapatkan porsi yang sama di hatinya.

Saya kira sikap Ozil seperti seorang anak yang pulang kampung untuk menemui orang tuanya. Itu tidak berlebihan, malah menjadi sikap yang mesti dicontoh. Meski seseorang sudah sukses, tapi tak melupakan dari mana ia berasal.

Meski demikian, Ozil akhirnya memilih untuk mundur dari Timnas Jerman. Pemuda berusia 29 tahun itu sempat mengunggah pernyataan panjang yang menuduh Federasi Sepak Bola Jerman ‘rasis’ dan ‘tidak menghormati’. “Saya orang Jerman ketika kami menang, namun dikatakan imigran ketika kami kalah,” kata Ozil.

Ia juga mengaku menerima surat-surat bernada kebencian dari para pendukung Jerman. “Sepertinya saya dinilai kurang Jerman. Kawan saya Lukas Podolski dan Miroslav Klose tak pernah disebut sebagai Polandia-Jerman, jadi mengapa saya disebut Turki-Jerman? Apakah karena ini (terkait dengan) Turki? Apakah karena saya Muslim?” keluh Ozil.

Federasi Sepak Bola Jerman sendiri sudah membantah secara tegas tuduhan Ozil. Mereka juga menyesalkan keputusan Ozil yang mundur dari timnas.

Peristiwa di atas seolah membuka luka lama dalam sepak bola dunia. Rasisme nyatanya belum mati. Di tengah berkibarnya bendera Fair Play dan slogan Say No to Racism, rasisme masih menjadi racun.

Ia bisa menyerang siapa saja, bahkan pemain hebat sekelas Ozil yang telah ikut memberikan gelar Piala Dunia bagi negaranya, Jerman, dan meraih gelar pesepakbola terbaik Jerman sebanyak lima kali!

Ozil pun tidak sendiri. Sebelumnya banyak terjadi kasus rasisme dalam sepak bola dunia. Zen RS dalam buku Simulakra Sepak Bola menceritakan bagaimana perlawanan rasisme oleh Dani Alves dalam bentuk mimikri (peniruan).

Dalam sebuah pertandingan, Alves mendapatkan lemparan pisang dari suporter lawan. Pisang dianggap sebagai simbol makanan kera. Tapi, Alves dengan santai memilih untuk memakan pisang tersebut daripada membalas suporter lawan dengan kata-kata kasar.

Tentu, aksi Dani Alves tidak sesuai dengan ekspektasi orang-orang yang menghinanya. Sudah menjadi hal jamak dalam kehidupan bahwa seorang penghina akan merasa puas, kalau orang yang dihina bereaksi sesuai ekspektasi mereka, seperti marah-marah, mengamuk, sedih, dan lainnya.

Namun, Dani Alves menunjukkan sikap yang berlawanan dari ekspektasi si penghina. Ia bersikap dingin, bahkan terkesan nyeleneh, sehingga berhasil menggagalkan maksud dan tujuan si penghina yang bertindak rasis tersebut.

Sikap pengunduran diri Ozil dari timnas Jerman juga merupakan bentuk dari perlawanan terhadap rasisme. Ozil merasa apa yang telah ia berikan pada negaranya tidak dihargai sama sekali.

Pada dasarnya, rasisme melegitimasi perbedaan warna kulit, etnis, bahasa, status sosial, dan keyakinan beragama. Ia bergerak di atas permukaan, bersifat fisikal, bisa terlihat langsung oleh indera kita. Tapi, jangan lupa, isu rasisme terkadang dibalut dengan unsur politik.

Rasisme bisa menutupi dan mengaburkan akar persoalan yang sesungguhnya. Bisa jadi isu rasisme sebagai upaya menutupi masalah utama kegagalan Jerman di Piala Dunia. Atau, bisa jadi lebih dari itu. Mengkambinghitamkan seseorang lebih mudah daripada mengakui kesalahan sendiri.

Saya teringat kutipan yang cukup terkenal dari Alm Gus Dur, “Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu.”

Dalam konteks Ozil, saya mungkin bisa tambahkan. “Tapi, jika kamu tak berhasil memberikan yang terbaik, orang akan mempertanyakan apa agamamu dan sukumu…”

Sementara itu, di tengah duka sepak bola dunia yang kehilangan salah satu pemain berbakat akibat rasisme, para pencinta sepak bola Indonesia pun sedang dirundung kesedihan. Tapi bukan soal rasisme, melainkan vandalisme para suporter.

Mental mereka terlalu lemah untuk menerima kekalahan tim favoritnya. Mereka melampiaskannya dengan merusak kursi-kursi penonton di Stadion Jakabaring, Palembang. Terlebih, stadion itu menjadi salah satu venue Asian Games 2018.

Jika Stadion Jakabaring tidak bisa diperbaiki tepat waktu sebelum pembukaan Asian Games, wajah Indonesia tentu akan tercoreng di mata negara-negara Asia. Jika urusan menjaga fasilitas umum saja susah, bagaimana menjaga nama baik bangsa dengan sebuah prestasi?

Vandalisme suporter merupakan persoalan lama yang membekap sepak bola di Tanah Air. Begitu juga dengan rasisme dalam sepak bola dunia. Keduanya menjadi persoalan yang tak pernah selesai-selesai.

Persoalan ini baru akan benar-benar lenyap, jika setiap sendi penunjang sepak bola diisi dengan mereka yang kuat, sehat secara akal, dan mental.

Sepak bola harus terus melawan rasisme, vandalisme, fasisme, dan kawan-kawannya. Sebab sepak bola adalah bentuk lain dari revolusi yang menjunjung kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan.

Sepak bola harus hadir demi kebahagiaan umat manusia, bukan sebagai alat untuk terciptanya masalah baru. Apalagi, masalah-masalah lama yang tak kunjung selesai, seperti rasisme dan vandalisme.

Ah, katanya kau beradab?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.