Film Nougat dalam Quarantine Tales (BASE Indonesia)

Film omnibus Quarantine Tales seolah merangkum kejadian sepanjang tahun yang isinya hanya karantina, isolasi mandiri, dan PSBB. Inilah kaleidoskop 2020 versi kumpulan film pendek. Kisah-kisah semasa karantina.

Quarantine Tales berisi lima film pendek karya lima sutradara. Salah satunya adalah Dian Sastrowardoyo yang mengarahkan film berjudul Nougat. Seperti film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), Nougat menyuguhkan kisah hidup anak kedua yang terhimpit kepentingan sang kakak dan adik. Adalah Ajeng yang diperankan oleh Adinia Wirasti.

Karakter Ajeng mengingatkan pada karakter Tri di film pendek Lemantun. Keduanya sama-sama masih tinggal di rumah orangtua. Sementara, kakak-adik sudah punya kehidupan masing-masing di luar rumah. Tri dan Ajeng betah tinggal di rumah demi merawat kenangan bersama keluarga yang begitu berharga.

Sepanjang durasi film Nougat, penonton hanya akan menyaksikan tiga bersaudari yang video call dengan rentang waktu 10 tahun. Dari mulai pakai Skype hingga WhatsApp.

Baca juga: Deket Doang, Jadian Nggak: Menyoal “Kita Ini Apa?” di NKCTHI

Tentu saja, adegan tersebut punya vibe yang 2020 sekali. Bukankah pada tahun 2020 kita mendapati teman-teman lama berdatangan? Mereka mengajak video call beramai-ramai demi mengusir rasa sepi selama swakarantina di tengah pandemi.

Selain video call berjamaah, yang lekat dengan masa pandemi adalah prank. Baik prank yang dilakukan penguasa kepada rakyat maupun prank yang dilakukan kreator konten kepada korbannya.

Film pendek Prankster dalam Quarantine Tales cukup mewakili fenomena meresahkan itu. Di sini digambarkan bahwa aksi iseng tukang prank bisa mengubah hidup seseorang karena menimbulkan trauma. Begitu pula dengan cyberbullying yang tak kalah merusaknya.

Prank dan cyberbullying adalah pandemi di internet. Dan, kita mesti menghentikan penyebaran virusnya dengan mulai memanusiakan manusia, baik di dunia nyata maupun maya.

Daripada nge-prank dan merisak, mending berkarya atau memasak. Dua aktivitas positif yang populer selama pandemi. Bisa juga melakukan keduanya: memasak, lalu menuliskan resepnya menjadi sebuah karya berupa buku resep. Itulah yang dilakukan Chef Halim di film pendek Cook Book, masih di film omnibus Quarantine Tales.

Baca juga: Jika Elite Politik Jadi Peserta MasterChef Indonesia

Saat di rumah saja, Chef Halim dapat panggilan video dari perempuan asing yang mengaku sebagai manusia terakhir di bumi. Singkat kata, mereka menjadi sepasang penyintas pandemi yang harus bertemu demi menyelamatkan umat manusia. Mirip seperti premis film Ice Age, dimana dua mamut harus berkembang biak agar spesiesnya tidak punah.

Namun, ternyata, semua itu hanya khayalan. Chef Halim mengalami halusinasi dan berfantasi karena kelamaan berdiam diri di rumah. Selanjutnya, buah lamunan tersebut ditulis menjadi novel.

Sayang, ide ceritanya ditolak mentah-mentah oleh editor. Sebab, kisahnya tak sesuai dengan isi kitab suci. Sang editor meneruskan rangkuman ayat suci bahwa hari kiamat hanya menyisakan orang-orang bejat. Tak ada namanya kisah cinta dua manusia terakhir di bumi.

Lalu, Chef Halim teringat trauma masa lalu. Kekasihnya jadi korban kerusuhan ’98. Nyatanya, ‘kiamat’ telah terjadi dalam hidupnya. Ketika orang-orang bejat merenggut kebahagiaannya.

Baca juga: Seumpama Indonesia Me-remake Drakor Reply 1988 Jadi Reply 1998

Berlanjut ke film selanjutnya berjudul Happy Girls Don’t Cry. Berbicara tentang fenomena remaja putri dari keluarga miskin yang kecanduan gadget. Suatu hari, gadis itu mendapatkan hadiah PC mahal setelah menang giveaway yang diadakan oleh seorang influencer.

Dari situ, dia mulai berencana menjadi kreator konten seperti idolanya dengan memanfaatkan gadget barunya. Namun, kedua orangtuanya berkeras untuk menjual PC tersebut supaya bisa membayar cicilan motor dan sewa rumah. Hadiah itu malah menjadi masalah baru.

Film bergenre dark comedy ini mencoba memotret fenomena seleb medsos yang suka kasih giveaway ke followers. Hadiah itu bisa jadi harapan baru bagi followers. Namun, untuk mendapatkannya, tak jarang followers harus menjual derita dan kisah sedih. Sementara, seleb medsos makin kaya karena jumlah followers tambah banyak.

Sebuah metafora untuk rakyat kecil yang harus dianggap miskin dulu untuk bisa dapat bantuan sosial. Nyatanya bansos itu tak banyak membantu. Sebab, nilai manfaatnya sudah dikorupsi oleh pejabat yang berwenang membagikannya.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Terakhir, ditutup dengan film berjudul The Protocol. Ketika seorang kriminal mendapati sang partner in crime wafat setelah meriang dan batuk-batuk. Membuat tokoh utama tersebut harus mencari cara untuk mengubur mayat temannya tanpa berisiko tertular virus.

Namun, jauh sebelum kejadian itu, seharusnya mereka tidak keluar rumah untuk kegiatan yang tidak penting-penting amat, apalagi merampok yang jelas-jelas negatif. Kalaupun terpaksa beraktivitas harus swab test dulu.

Film omnibus ini sebetulnya masih bisa ditambahkan dengan cerita tentang para pemimpin yang menyepelekan pandemi pada awal tahun. Lalu, mulai ketat ketika korban sudah berjatuhan. Eh, longgar lagi menjelang pilkada. Selesai hajat, mulai ketat lagi dengan memberlakukan rapid test antigen sebagai syarat perjalanan.

Kemudian, ditambah cerita berjudul Dark Joke. Berkisah tentang pelawak yang bangga dengan semboyan kemanusiaan di atas agama. Sejak awal tahun, dia mengolok-olok agama dan kepercayaan orang lain. Korban banjir pun dijadikan olok-olok.

Eh, menjelang akhir tahun, dia bikin lelucon gelap tentang anak kelaparan di Afrika. Mungkin kemanusiaan di atas agama, tapi ternyata dark joke masih di atas kemanusiaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini