Asyiknya Pura-pura Miskin supaya Masuk Sekolah Favorit

Asyiknya Pura-pura Miskin supaya Masuk Sekolah Favorit

Ilustrasi (Instagram/Ganjar_Pranowo)

Seperti bau bangkai yang akan selalu menemukan hidung, seperti itu juga kebohongan akan terungkap. Biasanya, kebohongan pertama akan selalu diikuti kebohongan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Belum lama ini, media massa melaporkan bahwa banyak calon siswa yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk masuk dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dan SMK di Jawa Tengah. Padahal, mereka ditengarai berasal dari keluarga mampu.

Orang tua calon siswa memanfaatkan Permendikbud No 14/2018 tentang PPDB. Di aturan itu memang mengatur soal kewajiban sekolah memberikan kuota 20% untuk keluarga miskin. Tujuannya agar keluarga miskin bisa sekolah, bisa mendapatkan hak yang sama seperti mereka yang mampu.

Nah, sebagai respons atas persentase PPDB, beberapa sekolah melakukan berbagai upaya. Mulai dari pengecekan ulang hingga menggandeng polisi untuk mengusut siapa saja yang diduga menipu dengan memanfaatkan SKTM.

Ujung-ujungnya, pengumuman PPDB Jawa Tengah sempat diundur demi meminimalisir kecurangan.

Sebetulnya masalah seperti itu tak hanya terjadi di SMA atau SMK. Di perguruan tinggi juga ada. Saat saya kuliah di salah satu kampus di Jawa Barat, banyak teman yang mendapatkan bantuan biaya pendidikan alias Bidikmisi.

Namun, teman-teman yang menerima Bidikmisi itu tidak semuanya miskin. Bahkan, ada yang lebih makmur dari saya, meski sama-sama tinggal di kos-kosan.

Ketika saya bersandar pada mie instan terutama saat tanggal tua, dia malah bersandar pada mekdi. Ketika saya kalap menabung dan mencari kerja sambilan untuk membeli sesuatu, dia tak pernah kerepotan untuk urusan belanja bulanan.

Dan, ketika saya harus menahan rasa rindu dari kamu rumah, dia malah bisa pulang beberapa kali dalam satu minggu. Ishh…

Suatu waktu, saya pernah bertanya di mana letak miskinnya sobatku itu? Sobat misquen-ku itu menjawab, “Faktanya, kita semua miskin karena semua yang kita miliki titipan dari Allah.”

Warbyasah…

Balik lagi soal SKTM dalam proses penerimaan peserta didik baru. Kenapa sih banyak orang tua yang pura-pura miskin, bersekongkol, berbohong bersama anaknya hingga merampas hak orang yang semestinya?

Bayangkan, kalau praktik itu terjadi secara masif dan terus berulang-ulang, bonus demografi seperti apa yang kita peroleh pada 2030?

Saya rasa semuanya jelas bahwa kebohongan dilakukan demi menguntungkan diri sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Ya kalau begini boro-boro anugerah, yang ada bencana demografi.

Perilaku seperti Pinokio ini – entah apanya yang bakal panjang – sudah dibuktikan secara empiris oleh peneliti dari University College London dan Duke University. Kesimpulannya, seperti dilansir NPR, manusia memang sangat mudah untuk ‘naik kelas’ ke ‘pembohong profesional’.

Peneliti merekrut 80 orang dengan rentang usia 18 hingga 65 tahun untuk penelitian ini. Dalam hasil pemindaian otak, peneliti melihat bagaimana reaksi otak saat kebohongan pertama dan selanjutnya.

Pada kebohongan pertama, otak manusia menunjukkan respons emosional yang kuat. Respons berupa penolakan terjadi, karena tahu bahwa perilaku itu tidak benar. Namun, setelahnya, otak tak melakukan penolakan, karena secara perlahan kebohongan sanggup ditoleransi otak.

Lagipula, bagaimana tidak terbiasa berbohong, kalau di era kekinian orang melulu soal gengsi?

Dengan dalih manusia adalah makhluk sosial, menularlah ide seperti udara dalam interaksi. Dari ide itu, seseorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

Nah, dari situ, muncul pemikiran yang kira-kira begini. Jika seseorang tidak sama atau tidak lebih unggul dari orang lain, tak ada bedanya dengan remah-remah kol: tak berfaedah.

Pada konteks SKTM dalam proses penerimaan peserta didik baru, mungkin banyak orang tua yang merasa malu, kalau anaknya gagal masuk ke sekolah favorit. Malu, karena tidak sama atau tidak lebih unggul dari orang tua lainnya, saudaranya, atau tetangganya.

Itu mengapa dilakukan segala cara, salah satunya berbohong, untuk mencapai tujuan yang sekilas sih tampak ‘mulia’. Bahkan, ada pula yang merasa asyik-asyik saja dan bangga karena bisa mengelabui birokrasi.

Ya benar, banyak orang yang menganggap bahwa kebohongan sebagai bagian dari aktualisasi diri. Namun, perlu diingat, merendahkan diri dengan pura-pura miskin adalah golongan orang-orang yang tidak bersyukur.

Tuhan tidak sebercanda itu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.