Punk Tak Lagi Berideologi Kiri, Sebagian Menjadi Islami

Punk Tak Lagi Berideologi Kiri, Sebagian Menjadi Islami

Ilustrasi (pixabay.com)

Hikmawan Saefullah, PhD Candidate in Politics, Murdoch University

Gerakan punk terkenal karena prinsip anti-kemapanan mereka yang ditandai dengan selera musik dan gaya busana yang urakan. Berawal di tahun 1970-an di Inggris dan Amerika Serikat, gerakan subkultur ini menjadi global dan muncul di berbagai wilayah dengan cita rasa lokal.

Di Indonesia, band-band punk mulai bermunculan pada tahun 1990-an. Peran mereka sangat penting dalam membesarkan aktivisme kiri yang mendorong kejatuhan Soeharto.

Tapi, menariknya, setelah rezim Orde Baru runtuh, sebagian gerakan punk di Indonesia yang terdiri gerombolan ‘anak nakal’ berubah menjadi sebuah kelompok orang-orang saleh. Mereka membangun sebuah generasi baru subkultur punk yang mereka sebut punk Islami.

Tahun-tahun awal gerakan punk di Indonesia

Antara tahun 1996 dan 2001, wajah musik bawah tanah di Jawa, Sumatera, dan Bali menjadi pusat penting bagi gerakan kiri radikal.

Anak-anak punk lokal mengadopsi ideologi-ideologi kiri, seperti sosialisme dan anarkisme, untuk menentang rezim otoriter Orde Baru. Ideologi ini dengan cepat menjadi dominan dalam belantika musik lokal dengan kemunculan kolektif punk berhaluan kiri, seperti Forum Anti Fasis di Bandung, Jawa Barat, dan Front Anti-Penindasan di Surabaya, Jawa Timur.

Kelompok-kelompok punk lokal bekerja sama dengan organisasi mahasiswa sayap kiri terkemuka, Partai Rakyat Demokratik (PRD), karena visi mereka yang sama untuk menggantikan sistem otoritarian dengan sistem yang lebih demokratis.

Walaupun jumlah mereka relatif sedikit, kelompok-kelompok ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan aktivisme dalam komunitas musik bawah tanah.

Munculnya punk yang saleh

Wajah punk di Indonesia hari ini berubah drastis dibanding akhir 1990-an. Punk Islami mulai muncul setelah kejatuhan rezim kediktatoran Soeharto pada tahun 1998.

Punk Muslim adalah sebuah band punk lokal yang merepresentasikan wajah baru gerakan punk di Indonesia.

Didirikan pada tahun 2007 oleh individu punk jalanan Budi Khaironi, Bowo, dan aktivis kemanusiaan Ahmad Zaki, Punk Muslim memberdayakan anak-anak jalanan di kawasan kumuh Jakarta dengan memberikan pendidikan agama, perlindungan sosial, dan membuat mereka bisa berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Mereka juga memerangi stereotip negatif punk lewat kegiatan-kegiatan keagamaan untuk membantu para anggota mereka berintegrasi kembali dengan masyarakat. “Gara-gara tato, banyak dari mereka yang mendapat kesulitan ketika melamar pekerjaan dan berusaha agar diterima masyarakat,” kata Zaki.

Fans Punk Muslim tersebar sampai Surabaya di Jawa Timur, Bandung, Bogor, Depok, dan Bekasi di Jawa Barat. Selain bermain musik, mereka juga berusaha mengimbangi rutinitas mereka dengan membaca Qur’an, menghadiri pengajian dan berdakwah di jalanan.

Di samping Punk Muslim, ada juga The Fourty’s Accident (Surabaya), Ketapel Jihad (Depok), Anti Mammon (Bogor) dan Melodi Maker (Jakarta). Band-band berbasis Jakarta lainnya meliputi TengkorakKodusa, dan Purgatory, yang terkait dengan kelompok musik bawah tanah yang menjadikan Islam sebagai basis ideologisnya, One Finger Movement atau yang dikenal dengan Komunitas Salam Satu Jari.

Bukan cuma soal konservatisme

Antropolog Belanda Martin van Bruinessen menekankan bahwa Indonesia sekarang melalui pergeseran ke arah konservatif (conservatif turn).

Penelitian saya sejalan dengan pandangan Bruinessen. Namun, dalam artikel saya “Nevermind the Jahiliyyah, here’s the Hijrah: punk and the religius turn in the contemporary Indonesian underground scene” yang diterbitkan dalam Punk & Post-Punk, saya juga menyatakan bahwa kemunculan kelompok-kelompok punk Islami di Indonesia bukan hanya disebabkan oleh radikalisasi keagamaan.

Islam Indonesia yang semakin konservatif – ditandai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2005 yang menolak sekularisme, liberalisme, dan pluralisme – turut berperan dalam kemunculan punk Islami.

Berdasarkan penelitian saya, banyak punk di Indonesia yang beralih ke Islam setelah fatwa itu keluar.

Namun, argumen bahwa kemunculan punk Islami hanya disebabkan oleh tumbuhnya “radikalisasi Islam” di kalangan anak muda Indonesia, tidak benar.

Sesungguhnya, kemunculan kelompok-kelompok punk Islami di era pasca-otoritarian Indonesia adalah hasil kombinasi tiga faktor penyebab – represi negara, komersialisme, dan meningkatnya konservatisme religius di masyarakat Indonesia.

Kontrol pemerintah sebelum dan sesudah reformasi melemahkan ideologi kiri di Indonesia. Penangkapan terhadap para aktivis kiri dengan tuduhan penghasutan telah membuat  kelompok-kelompok kiri, termasuk anak-anak punk, enggan menunjukkan atau terus mendalami paham kiri.

Sementara itu, komersialisme mengubah etos “Do-It-Yourself” (DIY) punk menjadi sebuah alat untuk mencetak keuntungan, sebagaimana ditekankan juga oleh para antropolog seperti Brent Luvaas dan Sean Martin-Iverson.

“Semua scene punk hardcore tampaknya hanya punya satu misi: menghibur audiens dan menjual merchandise,” kata Dani Tremor, vokalis band punk asal Bandung, Milisi Kecoa.

Dengan demikian, karena adanya tekanan politis dan ekonomi, gerakan punk di Indonesia kehilangan fondasi ideologis kirinya. Ini memunculkan sebuah jenis punk baru, jenis yang lebih banyak digerakkan oleh ajaran-ajaran Islam konservatif.

Kadar konservatisme yang berbeda-beda

Seperti gerakan-gerakan Islamis yang lain, gerakan punk Islami juga memiliki paham yang berbeda-beda terkait berbagai topik, termasuk demokrasi.

Punk Muslim, misalnya, memandang sistem demokrasi sebagai sesuatu yang haram, walaupun sebenarnya menurut mereka pandangan ini tidak berlaku dalam keadaan darurat. “Jika kita tidak memilih para pemimpin Muslim, nanti yang menang non-Muslim,” kata Aik dari Punk Muslim.

Sementara itu band trash metal Islami asal Jakarta GunXRose, yang mempunyai hubungan dengan kelompok Islam transnasonalis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sama sekali menolak sistem demokratis dengan alasan bertentangan dengan Syariat Islam.

Gerakan punk Islami di Indonesia relatif lebih konservatif dibandingkan rekan-rekan mereka di belahan lain dunia. Para anggota Punk Muslim dan Salam Satu Jari pada umumnya menentang penafsiran liberal atas Islam.

Mereka juga membenci pemikiran kiri, komunitas LGBT, dan penganut Syi’ah dan Ahmadiyyah. Mereka juga memandang pendekatan liberal punk Muslim Amerika Taqwacore terhadap Islam sebagai sesuatu yang “tidak Islami”.

Pendulum gerakan punk di Indonesia telah berayun dari predominasi paham kiri ke ke paham kanan. Transformasi ini menunjukkan sifat organik gerakan punk Indonesia, yang mudah dipengaruhi oleh perubahan-perubahan sosial, politik, dan ekonomi di era pasca-Orde Baru.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.