Clubhouse. (Photo by William Krause on Unsplash)

Media sosial baru bernama Clubhouse mendadak ngetren sejak Elon Musk menggunakannya. Tak terkecuali di Indonesia. Influencer dan seleb media sosial kompak memamerkan keseruan aplikasi obrolan radio ini.

Namun, tidak semua orang bisa menggunakan Clubhouse. Sebab, seseorang bisa masuk Clubhouse jika direkomendasikan oleh temannya. Istilahnya, bisa masuk kalau pakai orang dalam. Kalau di film Parasite disebut sebagai ‘rantai kepercayaan’. Tapi kalau di zaman orde baru namanya nepotisme.

Itulah yang menjadikan Clubhouse sebagai aplikasi yang eksklusif. Ditambah, pengguna ponsel berbasis Android belum bisa menggunakannya. Mungkin, inilah salah satu alasan Clubhouse terancam diblokir Kominfo. Selain karena Clubhouse belum terdaftar di Indonesia, Kominfo tidak mau terjadi kecemburuan (media) sosial.

Terlepas dari itu, Clubhouse cukup memberikan manfaat kepada para penggunanya. Sebab, room-room di Clubhouse seperti kelas-kelas di kampus dengan beragam tema perkuliahan. Dari mulai bahas perfilman sampai seluk-beluk dunia digital.

Kalau serial Stranger Things berlatar tahun 2021, barangkali bocah-bocah jagoannya tidak pakai walkie talkie untuk berkomunikasi. Mereka bisa ngobrol di room Clubhouse. Nanti ketika Will Byers terjebak di Upside Down, bisa minta tolong teman-temannya lewat Clubhouse: “Aku diburu Demogorgon. Selamatkan aku, guys!”

Baca juga: Orang Lajang Indonesia Mencari Kebahagiaan di Internet, tapi Sia-sia

Ketika Clubhouse bisa dijangkau oleh semua kalangan, aplikasi ini bisa dimanfaatkan oleh UMKM. Misalnya, Warung Burjo bikin room bertajuk “Pesan Antar Makanan”. Nanti pembelinya tinggal masuk room tersebut dan memesan makanan, “Mi goreng sama soda susu, A’. Antar ke kosan ya.”

Namun, belum lama media sosial ini eksis di dunia maya, sudah ada keluhan tentang pengguna yang tidak punya etika berbicara. Misalnya, memotong perkataan orang lain, eh ketika dapat jatah berbicara nggak ada remnya dan ogah disela. Perlu sosok yang bisa menengahi supaya obrolan tertib.

Dalam setiap room, untuk kenyamanan obrolan, setidaknya dibutuhkan public figure di bawah ini:

Karni Ilyas

Bung Karni sudah piawai menjadi moderator. Berhubung program televisi Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandunya sudah kukut, beliau bisa pindah ke Clubhouse. Nanti nama room-nya Indonesia Lawyers Clubhouse.

Indonesia Lawyers Clubhouse adalah ide yang bagus. Bisa lebih independen, terhindar dari isu kepentingan tertentu.

Baca juga: Jika Selebgram, Youtuber, dan TikToker Gelar Live Streaming Disuntik Vaksin

Dengan adanya Bung Karni di room, obrolan menjadi lebih terarah. Kalau ada yang melenceng dari tema, bisa diingatkan oleh beliau untuk tidak out of topic. Kalau ada yang ngomongnya nggak berhenti-henti, bisa disetop oleh beliau: “Gida rehad dulu sejedag.”

Najwa Shihab

Ketajaman insting jurnalistik Najwa Shihab alias Mbak Nana membuat setiap gelar wicara yang dipandunya terasa menarik untuk disimak. Beliau bisa memancing narasumber untuk bicara blak-blakan. Namun, saat narasumber beretorika dalam opini, beliau juga mampu skakmat setiap argumen yang lemah.

Kalau ada Mbak Nana di room Clubhouse, obrolan bisa menghibur tapi tetap berbobot. Lalu, di akhir obrolan, Mbak Nana akan memberikan notulen ala Mata Najwa yang berima.

“Gabung obrolan di Clubhouse, berguna untuk mereka yang haus. Haus akan ilmu pengetahuan dengan tema yang khusus. Merasakan panasnya diskusi ala kampus. Namun, jangan bicara terus-menerus. Sebab nanti rahang mulutmu bisa aus.”

Baca juga: Menebak Cara Najwa Shihab, Awkarin, dan Kekeyi jika Ikutan Main Among Us

Uya Kuya

Jika Deddy Corbuzier banting setir dari pesulap menjadi host, maka Uya Kuya lebih kreatif. Sebab Uya memasukkan unsur seni sulap ke dalam gelar wicara yang digawanginya.

Bermodalkan tisu magic yang dibakar, Uya Kuya bisa membuat siapa saja jatuh tidur, kemudian mengeluarkan unek-unek dan isi hati. Ending-nya, masalah selesai dengan elemen kejujuran.

Biar seseorang tidak berdusta selama berbicara di Clubhouse, perlu ada Uya Kuya di room yang sama. Namun, sebelum bicara, narasumbernya harus dihipnotis dulu. Dengan risiko, nanti room-nya dituduh settingan. Sebab namanya Room Uya.

Limbad

Limbad adalah jebolan ajang pencarian bakat sulap yang terkenal dengan personanya yang tak pernah bersuara sepatah kata pun. Namun, aksi sulapnya yang menakjubkan justru membuat orang speechless.

Dari sini, diamnya Limbad bisa menginspirasi orang lain. Bisa dibilang Limbad bukan sebatas sosok, tetapi juga sikap. Sebuah dedikasi dari prinsip diam itu emas. Biar diam, tapi tetap disegani.

Sikap ala Limbad ini diperlukan di Clubhouse. Sebab jika ada yang berbicara di room, mesti ada yang diam. Tapi diamnya nggak perlu sambil jilatin bara api, nggak ada yang bakal lihat juga sih.

Artikel populer: Selamat Datang di “Republik Rakyat TikTok”

Nissa Sabyan

Grup musik gambus bernama Sabyan bentukan Ayus ini mulai terkenal sejak cover lagu “Deen Assalam”. Di lagu tersebut, Nissa membukanya dengan bersenandung, “Hmmm hmmm hmmm.” Menemani penggemarnya setiap bulan puasa.

Saking fenomenalnya intro lagu “Deen Assalam” versi Sabyan tersebut, sampai ada kreator di YouTube yang membuatkan video khusus Nissa Sabyan bergumam “Hmmm” selama 1 jam. Bahkan, ada yang sampai 10 jam.

Kalau ada Nissa Sabyan di room Clubhouse tentunya bisa membuat orang merasa didengarkan. Nissa pun tampak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan. Sebab setiap ada yang berbicara, Nissa bisa menanggapi dengan bergumam “Hmmm hmmm hmmm”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini