Proklamasi, dengan Ini Kami Menyatakan Kemerdekaan Hati

Proklamasi, dengan Ini Kami Menyatakan Kemerdekaan Hati

Ilustrasi (Photo by William Randles on Unsplash)

Konon, revolusi kemerdekaan Indonesia penuh dengan tumpah darah. Dalam lagu kebangsaannya yang dinyanyikan dalam tempo 4/4 itu, Indonesia kita sebut sebagai tanah tumpah darahku.

Revolusi mana memangnya yang tidak menumpahkan darah? Revolusi Rusia juga dipicu oleh peristiwa ‘Minggu Berdarah’, dimana para buruh yang menyampaikan petisi ditembaki oleh tentaranya Tsar Nicholas. Jutaan rakyat Tiongkok mati kelaparan saat Mao menggagas revolusi kebudayaan. Che Guevara dieksekusi saat memimpin pasukan gerilyawan di Bolivia.

Begitupun dalam revolusi Iran, ribuan massa aksi di bawah seruan Ayatollah Khomeini tumbang terkena bidikan senapan militer Shah Reza Pahlavi. Entah di bokong, dada, atau kepala peluru itu menembus tubuh para demonstran, yang pasti semuanya menumpahkan darah.

Jika ada revolusi yang tidak menumpahkan darah, adalah revolusi menggulingkan kenangan mantan. Sebab, revolusi mantan adalah satu-satunya revolusi yang hanya menumpahkan air mata.

Baca juga: Siapa Sebetulnya yang Bikin Kita Jadi Baper?

Pada ingatan yang panjang nan melelahkan tentang kekejaman pada masa silam, kita senantiasa menolak lupa. Kita menolak lupa pada tragedi Jugun Ianfu di zaman kolonialisme Jepang dan pergundikan di zaman kolonialisme Belanda. Kita pun menolak lupa pada kekejaman seusai kemerdekaan, pada pembantaian ’65, dan kerusuhan Mei ‘98.

Satu-satunya lupa yang tidak akan kita tolak adalah lupa pada ingatan tentang mantan kekasih. Sayangnya, meski posisi kekasih tergantikan oleh siapapun, kenangan itu tetap eksis.

Seperti Indonesia di bawah rezim siapapun, kemiskinan tetap abadi, razia buku tetap niscaya, industri properti tetap membuka permukiman elit di mana-mana, makelar properti tetap semena-mena menaikkan harga, upah buruh tetap apa adanya.

Tidak ada rezim kekuasaan yang benar-benar nyaman, senyaman pelukan mantan. Tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka, begitupun perasaan yang benar-benar merdeka.

Maka, di setiap negara selalu ada kelompok warga yang menghimpun diri dalam serikat-serikat. Melakukan perlawanan sehari-hari guna melawan penindasan yang sering kali tidak kita sadari.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Tentu saja, kita bisa ikut long march belasan kilometer menyerupai lomba gerak jalan. Kita bisa berhenti memakai skincare sebagai wujud melawan industri kecantikan. Kita bisa bawa tumbler ke mana-mana demi melawan industri air minum kemasan, bahkan minum tanpa sedotan demi kelestarian lingkungan. Tapi, satu perlawanan yang paling sulit untuk bisa kita tunaikan adalah melawan kehendak hati merindukannya.

Kita sanggup mengikuti upacara bendera, bahkan tak hanya saat tujuhbelasan. Seterik apapun matahari pagi, selama apapun durasinya, dan pegal di kaki jadi taruhannya. Namun, pada satu upacara yang penuh keceriaan dengan rupa-rupa kudapan, kita justru enggan menghadiri, meskipun hanya sekadar mengisi presensi. Itulah upacara pernikahan mantan.

Apa kiranya yang membuat itu terasa sulit?

Mungkin, karena kita merasa menjadi satu-satunya manusia yang menanggung derita cinta. Kita sering lupa kalau negeri ini juga dibangun oleh banyak keringat orang-orang patah hati lainnya. Berkaca pada perjuangan-perjuangan revolusioner sebuah bangsa, tampaknya kita perlu mengorganisir diri dan berkonsolidasi dalam wujud gerakan sosial hingga partai politik.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Ketahuilah, kita memang berbeda mantan, tapi kita sama dalam beberapa aspek kehidupan. Selain cinta yang selalu kandas sebelum lamaran, upah pun selalu kandas sebelum akhir bulan, habis buat jajan kuota dan jalan-jalan demi perbaruan feed Instagram. Selain tampang yang pas-pasan, tabungan kita juga selalu pas-pasan dan mustahil untuk sekadar kredit kavling di perumahan. Selain pengganti mantan yang tidak sesuai kriteria, pekerjaan kita pun sering tidak sesuai cita-cita.

Untuk alasan-alasan itulah, tidak seharusnya kita merasa sendiri dan kesepian. Sudah saatnya kita menggagas sebuah platform digital yang mempertemukan para penyintas patah hati (orang-orang yang bertahan hidup dari derita cinta) untuk saling bertatap muka. Sebab, begitulah cara mengorganisir aksi massa di zaman sekarang.

Coba bayangkan, apa yang lebih membahagiakan dari bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang senasib dan sependeritaan?

Dengan saling menguatkan satu sama lain, kita bisa menggalang kekuatan besar. Membangun serikat yang berkomitmen untuk move on secara terhormat. “Jomblo bersatu tak bisa dikalahkan!” adalah jargon kita.

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Kekuatan orang-orang patah hati terletak pada sakit hatinya yang kian dalam. Potensi inilah yang bisa kita kelola menjadi ambisi meraih kesuksesan. Nantinya, kita bisa membangun jaringan bisnis dan menaruh kader kita di pemerintahan dan parlemen. Dengan begitu, program-program yang kita rancang akan mulus sebagai program nasional.

Bisnis-bisnis yang kita kelola pun bisa mulus dengan skema kerja sama pemerintah dan swasta (public-private partnership), dan aman di bawah ketiak undang-undang yang telah kita pesan. Serikat kita mapan, partai kita gilang gemilang, kadernya kaya raya. Akhirnya, dengan bangga kita bisa berkata, “Nyesel kan lo dulu mutusin gue!”

Dear kamerad, sebagai langkah awal, kita bisa membuat teks proklamasi terlebih dulu:

Proklamasi. Kami jomblo se-Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan hati. Hal-hal mengenai pemindahan perasaan, dll, diselenggarakan dengan cara bahagia dan dalam tempo yang tidak pakai lama.

Merdeka!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.