Ilustrasi online (Photo by Andrea Piacquadio from Pexels)

Coba bayangkan; saat kamu lagi asyik masyuk menyimak kuliah daring (online) dengan jaringan dan kuota internet yang berlimpah ruah, tiba-tiba pesan masuk datang mengabarkan bahwa seorang mahasiswa meninggal setelah terjatuh dari menara masjid karena mencari sinyal agar bisa gabung kuliah daring.

Itu yang saya rasakan beberapa hari lalu. Sebuah kabar yang menyadarkan bahwa privilese itu bukan mitos belaka. Saya yang di Jawa, sih, bisa santai tanpa pusing berpikir fasilitas penunjang, apalagi sampai bertaruh nyawa.

Kalau kisah cintamu yang terkatung-katung gegara corona – nggak bisa jalan bareng karena physical distancing sudah bikin hati cemas bukan kepalang, cerita tentang almarhum mahasiswa Unhas yang meninggal setelah terjatuh dari menara masjid tadi bisa jadi bikin hatimu ambyar total.

Bukan berarti ingin mendikotomikan rasa sedih, setiap orang punya jatah kesedihan masing-masing, tentu. Tetapi virus sialan ini bekerja dengan cara yang tidak beradab, ia bukan saja menguras kantung air mata, tetapi juga bikin lebih runyam tatanan kehidupan – yang memang sejatinya sudah runyam.

Baca juga: Kangen Pacar Mau Kencan, tapi ‘Physical Distancing’, Gimana?

Tak ada satu pun lini yang aman dari dampak pandemi Covid-19. Dari perkara adiluhung semisal ekonomi-politik, hingga kegiatan sepele semacam kebiasaan mabar game online di warung-warung kopi kesayangan. Semua tersendat.

Dan, tentu nasib pendidikan juga sama nelangsanya. Coba tanya dedek-dedek SMA angkatan 2020, yang oleh sebagian orang ditahbiskan sebagai generasi yang lulus lewat jalur ‘give away‘, hanya karena mereka tak melewati pelbagai halang-rintang dan jebakan lembar soal Ujian Nasional (UN). Padahal, hampir berulang setiap musim, kita sudah sering membahas sampai berbusa-busa bahwa UN adalah aktivitas nirfaedah.

Di satu sisi, mereka dianggap sebagai generasi ‘kacangan’ karena berhasil menjadi alumni dengan sejumlah ‘keistimewaan’. Di sisi lain juga harus terkatung-katung untuk meneruskan dan menentukan nasib. Memang sih, kata Chairil Anwar, nasib itu kesunyian masing-masing. Tapi ini kesunyiannya justru kolektif.

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Bagi yang mau lanjut ke strata pendidikan lebih tinggi, mereka terganjal prosedur penerimaan mahasiswa baru yang di beberapa perguruan tinggi masih belum jelas juntrungannya. Belum lagi, kampus favorit yang sudah jadi incaran dari jaman remaja semacam STAN, konon tak menerima mahasiswa tahun ini. Sedihnya berkali lipat.

Kelompok yang berniat langsung terjun ke dunia kerja, jelas tak kalah menyedihkan. Boro-boro menerima karyawan baru, sebagian perusahaan bahkan memilih memberhentikan pekerjanya karena terancam gulung tikar, sebagian bahkan di-PHK tanpa pemenuhan hak-haknya.

Mau berwirausaha, ya jelas bukan pilihan bijak, wong ekonomi lagi lesu. Maka dalam kondisi pelik semacam ini, menjadi pengangguran jelas bukan lagi ancaman, tapi keniscayaan. Bersiaplah menerima gunjing mulut ternganga dari segala arah.

Mau langsung kawin? Udah lah, nggak usah aneh-aneh dulu. Wkwk.

Baca juga: Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Di tingkatan paling dasar, program PPDB pun setali tiga uang nasibnya. Prosedur yang seluruhnya bergantung pada mekanisme onlen-onlen itu harus berhadapan dengan ancaman laten yang sama: pemerataan sinyal, kuota, kecanggihan gadget, dan sarana penunjang lainnya.

Masyarakat kita yang oleh politisi itu sering digembor-gemborkan siap menghadapi revolusi industri 4.0 nyatanya masih gagap dalam perkara elementer. Lha, orang profil bapak-ibunya di Facebook saja masih bekerja di PT CINTA SEJATI, kok mau cakap mengawang-awang soal kecanggihan industri?

Itu baru soal metode pendaftaran. Belum soal sukarnya pengalaman belajar daring, yang bagi masyarakat kita masih terlalu asing. Sama asingnya seperti kita, Dik.

Para pengajar yang gaptek – serius ini masih banyak – yang alih-alih memberikan bahan ajaran memadai, justru menekankan sejumlah tugas yang membebani. Sudah tahu lagi pandemi, kok nggak ada niatan barang sedikit pun untuk bikin murid atau mahasiswa happy. Pikir mereka, kuliah online itu cuma soal kasih tugas via japri, lalu urusan tuntas sudah. Kzl!!!

Artikel populer: Pleidoi Mahasiswa untuk Dosen yang Tergila-gila dengan Etika saat ‘Chatting’

Kampus-kampus belum juga memberi kebijakan dan kabar gembira. Soal diskon UKT yang sejak jauh-jauh hari sempat jadi wacana, eh malah kabarnya cuma PHP doang. Dari janji subsidi kuota internet, yang beberapa kampus masih juga ogah-ogahan merealisasikannya. Pikir mereka, kuliah daring bisa tersambung dan terhubung modal dengkul kali.

Banyak betul hal-ikhwal berkenaan dengan pendidikan kita yang semula ribet, menjadi sangat-ribet-banget-astaga-ampun. Kalau korban jiwa seperti contoh yang saya sebutkan di paragraf awal dianggap semata pelengkap statistik tanpa tindakan sigap dari mereka yang berwenang, ya sudah, pusing pala Barbie!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini