Ilustrasi anak (Photo by Katie E from Pexels)

Anak memang menjadi kebanggaan bagi orang-orang yang menghendaki anak itu lahir. Namun, rasa bangga tersebut sering kali berlebihan. Di masyarakat patriarkal dan kapitalis, anak kerap dipandang sebagai objek inferior, sehingga anak tidak memiliki kuasa dalam memilih.

Kita bisa lihat bagaimana selebritas di Tanah Air menjadikan anak sebagai konten. Mereka memanfaatkan keluguan anak ketika merekam momen orangtua mengerjai anaknya sendiri alias ngeprank. Sampai-sampai si anak memohon untuk dikasihani.

Tak seharusnya anak sampai mengemis minta dikasihani karena diperlakukan sedemikian rupa oleh orangtuanya sendiri. Bisa jadi sang anak merasakan kecemasan yang berlebih. Orangtua yang selama ini disanjung, memiliki kuasa lebih yang bisa membuat si anak kesal atau marah. Dampaknya, muncul ketakutan pada anak karena ia tak ingin mengalami hal serupa di kemudian hari.

Baca juga: Kredo Orangtua Zaman Sekarang, Banyak Anak Banyak Konten

Bayangkan, bagaimana psikis si anak? Tentu terluka oleh ulah orangtuanya sendiri. Dan, kita sebagai netizen malah menganggap ‘keluguan’ anak sebagai tontonan yang menggemaskan.

Apakah etis kita menjadikan anak sebagai konten di media sosial untuk mendulang like dan revenue?

Tentu saya pernah mempublikasikan foto-foto anak. Sering kali karena refleks, saya mengambil foto keponakan dan mengunggahnya di media sosial. Memang sih, ada kecenderungan dalam diri kita untuk memamerkan foto-foto anak yang menggemaskan, tapi sampai mana batas wajarnya? Lalu, siapa yang menentukan batas-batas tersebut?

Anggun C. Sasmi adalah figur orangtua yang tidak pernah menunjukkan foto wajah anaknya di media sosial. Kalaupun si anak muncul di foto, wajahnya selalu ditutup dengan stiker lucu-lucu atau lainnya. Ini karena Prancis memiliki peraturan bahwa orangtua tidak boleh mengunggah foto anaknya.

Baca juga: Menikah, tapi Nggak Mau Punya Anak, Boleh kan?

Di Prancis, anak bisa menuntut orangtua, jika orangtua mengunggah foto anak di media sosial. Sebab, tindakan tersebut dianggap melanggar privasi anak. Selain itu, Prancis ingin melindungi anak dari penculikan hingga predator seks anak.

Beberapa teman juga sering menutupi wajah anaknya ketika mengunggah foto anaknya. Dan, setiap unggahan, mereka selalu meminta izin kepada anaknya, “Boleh nggak ibu upload?”

Apa yang dilakukan Anggun dan beberapa teman perempuan saya itu merupakan upaya untuk menghargai privasi anak. Mereka menyadari bahwa mereka memang perlu melindungi identitas anak, dan anak punya andil untuk menentukan apakah boleh identitasnya diekspos ke publik atau tidak.

Sementara itu, sebagian orangtua masih menganggap anaknya sebagai ‘properti’. Mereka cenderung merasa bahwa anak adalah milik sepenuhnya orangtua, sehingga orangtua bisa melakukan apapun yang diinginkan pada anaknya. Bahkan, menjadikan anak sebagai konten prank.

Baca juga: Nyatanya Orangtua juga Butuh Pendidikan Seks, Bukan Cuma Anak-anak

Akibatnya, anak tidak memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri. Ini bisa mempengaruhi perilaku dan membuat dirinya tidak asertif, ketika ia hendak menolak sesuatu.

Sama halnya dengan foto teman. Hingga hari ini, kita pun masih sulit meminta izin ke teman sendiri ketika ingin mengunggah foto mereka atau foto dimana ada mereka. Padahal, meminta izin itu perlu. Bisa jadi mereka mau difoto, tapi tidak mau diunggah. Tentu izin difoto tidak sama dengan izin untuk mengunggah foto.

Seperti dilaporkan Forbes, mengunggah foto anak di media sosial juga dapat meninggalkan jejak digital yang akan sulit dihapus. Ini akan mempengaruhi masa depan anak. Identitas anak dapat dicuri, kemungkinan didiskriminasi, pelanggaran terhadap kerahasiaan, dan mengganggu tumbuh kembang anak.

Saya memang tidak punya anak. Kalaupun punya anak, bukan bermaksud untuk menghakimi kamu tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap dokumentasi anak. Tapi, ketika anak dijadikan bahan eksploitasi demi konten dan diekspos sedemikian rupa, tentu harus ditentang.

Artikel populer: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Lantas, bagaimana kalau tetap mengunggah foto atau video anak, tapi membatasi orang-orang yang bisa melihatnya? Mungkin itu bisa kita lakukan. Di Facebook, kita bisa memilih dengan siapa kita membagikan dokumentasi anak kita dengan memilih untuk mengunggahnya di list “keluarga”. Atau, di Instagram, kita bisa mengunggahnya untuk teman terdekat saja atau close friends sambil mengunci akun.

Namun, meski kita sudah memilih untuk membagikan dokumentasi secara terbatas, media sosial tertentu masih menyimpan dan memiliki hak atas foto yang kita unggah, dan jejak digitalnya masih ada.

Bagaimanapun, kita tak ingin anak terganggu kesehatan mentalnya, kan? Tak ingin anak kehilangan otoritas terhadap tubuh dan citra dirinya sendiri. Anak seharusnya hidup normal dan beraktivitas dengan penuh rasa aman, tanpa eksploitasi dan pelanggaran privasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini