Ilustrasi (Image by Nick Magwood from Pixabay)

Dalam kasus kekerasan seksual, semua bisa menjadi korban. Tak peduli kamu perempuan atau laki-laki. Agamamu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, atau Buddha. Kaya atau miskin.

Semakin hari, kasusnya pun semakin bertambah, alih-alih berkurang atau bahkan berhenti. Rata-rata yang menjadi korban adalah perempuan. Para korban juga memiliki latar usia, agama, pendidikan, dan status sosial yang bervariasi. Apakah ini masih dianggap sebagai persoalan yang biasa saja?

Ada bayi hingga nenek-nenek yang diperkosa. Bahkan, ada kasus dimana predator seks tak lagi menyasar makhluk hidup. Mayat pun bisa menjadi korban kekerasan seksual. Ngeri nggak tuh? Apalagi kamu yang cuma laki-laki, juga berisiko jadi korban, Bro!

Survei dari Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) yang melibatkan 62.224 responden menemukan bahwa 3 dari 5 perempuan (64%) dan 1 dari 10 laki-laki (11%) pernah mengalami pelecehan seksual. Perempuan memang terlihat 13 kali lebih berisiko.

Baca juga: Sebut Saja Perkosa, Kenapa Masih Pakai Istilah Setubuhi, Gagahi, dan Rudapaksa?

Sementara itu, pada 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah mengumumkan bahwa banyak anak laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual. KPAI mencatat, terdapat 122 anak laki-laki dan 32 anak perempuan menjadi korban. Sedangkan pada 2019, KPAI mencatat 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban 123 anak. Korbannya terdiri atas 71 anak laki-laki dan 52 anak perempuan.

Terlepas dari itu, kita pun pernah dikejutkan dengan aksi Reynhard Sinaga di Inggris sana, yang namanya kesohor sebagai predator seks. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari 100 laki-laki menjadi korban perkosaan yang ia lakukan. Namun, sekali lagi, tindakan kejahatan itu tak ada kaitannya dengan orientasi seksual.

Belakangan, media massa dan media sosial ramai membahas kasus ‘Gilang bungkus’. Konon, kasus tersebut bermula dari fetish yang dianggap aneh. Namun, yang salah dari itu, ketika dia tidak bisa mengontrol fetish-nya. Dia lampiaskan dengan cara yang merugikan orang lain, mengarah pada kekerasan seksual. Dengan dalih riset, ia memanfaatkan korban untuk pelampiasan nafsu.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Melihat hal tersebut, konsep tentang relasi kuasa hingga consent menjadi sesuatu yang sangat penting kita pahami. Sebab pemerkosaan bukan cuma soal tindakan penetrasi vagina secara paksa belaka.

Selain itu, pendidikan seks sejak dini juga tak kalah penting. Selain sebagai ilmu, juga sebagai metode preventif untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual di masa mendatang.

Selama ini, kasus kekerasan seksual seakan tak ada habisnya. Seperti mati satu tumbuh seribu. Baik di ruang publik, privat, atau bahkan di lembaga yang dianggap ‘aman’. Kekerasan seksual bisa muncul di mana saja, predatornya bisa siapa saja, malah kadang muncul dari orang-orang yang sehari-hari tampak ‘suci’.

Terlebih, ‘budaya memerkosa’ atau rape culture yang tumbuh dalam masyarakat kita, sehingga cenderung menormalisasi kasus-kasus kekerasan seksual, bahkan malah menyalahkan korban.

Baca juga: Aktivis Gerakan Sosial dalam Pusaran Kekerasan Seksual, Misoginis Total?

Hal yang paling mendasar adalah stigma yang didapat korban kekerasan seksual. Sering kali korban alih-alih didukung, justru korban dirisak, dikecam, hingga disudutkan. Ada empati yang hilang dari masyarakat kita. Parah..

Korban pun takut melapor dan terbuka. Seperti yang disampaikan Karen G. Weiss dalam studinya yang berjudul Male Sexual Victimization: Examining Men’s Experiences of Rape and Sexual Assault, bahwa hanya 30% perempuan dan 15% laki-laki dari seluruh korban kekerasan seksual yang mau melapor ke penegak hukum.

Nah, selama rapuhnya dukungan kita terhadap korban kekerasan seksual, terlebih hukum juga belum berpihak pada korban, para predator seks terus berkeliaran, bermutasi menjadi lebih bervariasi, dan berada di sekitar kita.

Artikel populer: Ketika Perempuan Curhat Jadi Korban Fakboi

Untuk berjaga-jaga agar tidak menjadi korban berikutnya, kita harus waspada penuh dan mulai menyadari bahwa saya, kamu, dan kita semua adalah orang-orang yang berisiko tinggi menjadi korban kekerasan seksual. Selain itu, cara pandang kita terhadap korban harus diubah, mulailah dari sekarang!

Dan, eitsss.. negara juga harus hadir untuk melindungi warga negaranya. Bisa dimulai dari pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Tidak sulit, kok! Jangan sampai rakyat terus-terusan di-PHP. Statusnya sudah pandemik, wahai bapak-ibu wakil rakyat yang terhormat!

Tanpa itu semua, lingkaran setan kekerasan seksual tidak akan pernah putus. Penjahat kelamin tidak memandang apa gendermu, agamamu, pendidikanmu, usiamu, atau bahkan jabatan atau status sosialmu. Di hadapan predator seks, kita semua sama. Sama-sama bisa menjadi korban.

Alerta, alerta..!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini