Prabowo, Rohingya, dan Bedil untuk FPI

Prabowo, Rohingya, dan Bedil untuk FPI

Prabowo Subianto (suratkabar.id)

Unjukrasa memang nggak asik, kalau nggak pasang angka cantik. Tapi, mau dibilang itu sebagai tren, sebetulnya nggak juga. Sebab, kelompok yang gemar memakai kode di buntut, ya mereka aja. Artinya, bukan sebuah gejala umum.

Belakangan, ada ‘Aksi Bela Rohingya 169′ di depan gerbang Monas, Jakarta. Tapi jangan tanya saya, angka 169 itu cantiknya di mana, kan yang penting kode-kodean aja dulu. Tapi, terlepas dari itu, apa yang mereka sampaikan patut diapresiasi.

Tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar memang harus dihentikan. Yah, meski masih banyak kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di negeri sendiri belum diselesaikan.

Yang menarik adalah kehadiran Prabowo Subianto. Kali aja, mantan danjen Kopassus itu ikut mendesak atau setidaknya berempati terhadap kasus dugaan pelanggaran HAM di dalam negeri. Tapi, Rohingya memang lebih menarik, sih.

Prabowo begitu heroiknya bicara soal Rohingya. Saking heroiknya, ia menyebut bahwa bantuan kemanusiaan yang diberikan Indonesia untuk warga etnis Rohingya sebagai bentuk pencitraan Presiden Jokowi.

Amien Rais pun tak mau kalah. Menurut dia, sedikit bantuan yang disalurkan Presiden Jokowi merupakan bentuk mencari simpati untuk pencitraan.

Ciyee… sesama mantan capres memang harus kompak. Pak Jokowi sih, kenapa waktu peringatan HUT RI bisa-bisanya para mantan presiden dan wakil presiden kompakan ngumpul di Istana? Ini mantan capres lho, kelihatan dari mukanya.

Jangan katakan pernyataan Pak Amien dan Pak Prabowo itu kental nuansa politis, oh tidak. Apa karena Prabowo adalah rival utama Jokowi pada Pilpres 2014 dan mungkin pada Pilpres 2019? Jangan mengada-ada.

Krisis Rohingya itu tragedi kemanusiaan, seharusnya bebas dari kepentingan politik. Sudah sepatutnya Indonesia sebagai sesama anggota Asean untuk membantu etnis Rohingya, terlepas itu pencitraan atau bukan.

Kalau bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya dibilang pencitraan, bagaimana dengan orang yang cuma mampu berempati dengan menggelar unjukrasa? Bagaimana dengan saya yang hanya bisa berempati lewat media sosial?

Eh tapi, tunggu dulu… Jangan buru-buru bilang kalau di media sosial juga pencitraan. Apa kabar revolusi Mesir? Bayangkan, ketika Mahmoud Salem berkata, “Suasana di Mesir hari ini berbeda. Terlalu banyak orang yang masih berkutat dengan mentalitas budak. Ini sangat membuat frustrasi”, kemudian disambut dengan ocehan, “Ah, pencitraan lo, Lem.”

Revolusi Mesir bermula dari media sosial. Dari Mesir merembet ke Tunisia, Libya dan lainnya atau dikenal dengan sebutan Arab Spring. Media sosial juga menggerakkan massa di Moldova, yang memprotes hasil pemilihan legislatif.

Di Hong Kong juga begitu. Masyarakat Hong Kong yang dipelopori oleh remaja berusia 17 tahun bernama Joshua Wong memanfaatkan media sosial untuk menggalang kekuatan aksi massa. Hingga akhirnya kita kenal sebutan ‘Revolusi Payung’.

Dan, kabar penggerudukan kantor YLBHI/LBH Jakarta yang menggelar ‘Asik Asik Aksi’ menyikapi #DaruratDemokrasi juga dari media sosial. Kita pun bisa tahu Pak Jokowi lagi main sama cucu juga dari media sosial.

Balik lagi soal Rohingya. Selama ini, Myanmar telah memberikan kepercayaan kepada Indonesia untuk ikut menyelesaikan krisis Rohingya. Sebab, Asean yang menganut prinsip non-intervensi, tidak mampu berbuat banyak.

Indonesia sendiri sudah merespon cepat krisis Rohingya melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menawarkan proposal proteksi terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar. Ia juga bertemu dengan Aung San Suu Kyi, penasihat negara yang juga pemimpin Myanmar secara de facto.

Namun, apakah upaya pemerintah Indonesia sudah maksimal? Tentu masih ada beberapa kekurangan. Namun, mengkritiknya dengan menyebut bahwa bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya sebagai bentuk pencitraan, tentu itu bukan pandangan seorang patriot.

Apa iya, yang dimaksud bukan pencitraan itu adalah menggelar unjukrasa, misalnya aksi bela Rohingya 169? Atau, seperti Front Pembela Islam (FPI), yang meminta Prabowo untuk melatih relawan FPI mengangkat senjata di Myanmar?

Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal FPI Mohammad Sobri Lubis, “Polisi dan TNI, kalau tidak diizinkan Pak Jokowi, serahkan senjata pada kami, kami siap bergabung ke sana (Myanmar).”

Lalu, apa tanggapan Prabowo? “Kita memperkuat diri dengan ketenangan. Memang saya mantan jenderal tapi kita harus selalu sejuk, tenang pakai kepala, pakai otak.” Waini, super sekali, bukan?

Sejak diciptakan, bedil memang sumber dari segala bencana. Berapa jumlah korban perang dunia I? Sekitar 16-30 juta jiwa. Perang dunia II lebih dahsyat, sekitar 60-80 juta jiwa. Terus, berapa korban jiwa saat genosida tahun 1965, eh?

Sejak seorang dokter gigi bernama Richard Jordan Gatling mempelopori pembuatan senapan mesin pertama di dunia, melawan bedil dengan bedil sama seperti mengatasi masalah dengan masalah. Saya sebagai kader pegadaian merasa tersinggung.

Krisis Rohingya yang berlarut-larut juga karena memakai bedil. Seperti kata Pak Prabowo, tenang pakai kepala, pakai otak. Tunjukkan Islam yang sejuk, yang pintar. Semoga saja pernyataan itu bukan pencitraan, ya Pih?

  • Syahrijal Ahmad Syuhada

    mantap pak prabowo