Ilustrasi (Image by mohamed Hassan from Pixabay)

Natal selalu hadir lebih cepat di negara ini, ditandai dengan riasan pusat perbelanjaan hingga perdebatan boleh tidaknya mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristiani. Tahun ini, perdebatan rutin itu salah satunya dipicu oleh viralnya larangan penulisan ucapan Natal pada produk di sebuah toko kue franchise ternama.

Konon, aturan itu diadakan dalam rangka mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. Namun, perwakilan MUI segera memberikan pernyataan bahwa tidak ada aturan ‘berlebihan’ semacam itu dalam proses sertifikasi halal yang lebih berfokus pada kandungan bahan (material) produk.

Sementara, pihak toko kue melakukan klarifikasi dengan menyebut larangan penulisan ucapan Natal bukanlah peraturan resmi manajemen pusat, serta menegaskan toko kue mereka sangat mengutamakan toleransi keberagaman.

Meski begitu, aturan tersebut terlanjur viral dan menuai perdebatan di kalangan masyarakat. Ada yang menilai larangan tersebut dibalut semangat keagamaan yang menggebu-gebu, tapi tidak dibarengi pemahaman agama yang baik. Ada juga yang menilai aturan tersebut tidak mencerminkan semangat toleransi keberagaman.

Tidak lupa perdebatan berujung pada tema klasik perihal boleh tidaknya mengucapkan “Selamat Natal” dan pengaruhnya terhadap toleransi kebangsaan.

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Sependek bacaan saya hingga saat ini, riset mengenai hubungan mengucapkan “Selamat Natal” dan peningkatan kualitas toleransi keberagaman belum ramai dipublikasikan. Namun, secara ekonomi, penolakan terhadap ucapan Natal sudah terbukti mempengaruhi performa bisnis.

Dari kasus di atas, menurut pengakuan pihak manajemen, setidaknya terjadi penurunan jumlah pelanggan di tokonya hingga 10%. Tak heran jika kemudian manajemen pusat memutuskan untuk memberi sanksi atas penetapan aturan yang “tidak toleran” tersebut.

Tetapi, apakah memberi ucapan “Selamat Natal” lantas menjamin label toleran hingga terjadinya peningkatan penjualan? Nyatanya tidak.

Di Amerika, Australia, dan Inggris, negara-negara dengan umat perayaan Natal terbesar, perdebatan perihal ucapan Natal ini juga rutin terjadi. Menariknya, perdebatan ini tidak hanya berurusan dengan aspek teologis, melainkan sangat bernuansa politis-bisnis.

Mereka yang memilih mengganti “Selamat Natal” dengan “Selamat Hari Libur” beranggapan ucapan Natal adalah politically incorrect karena tidak semua orang merayakannya. Toko-toko dan pusat perbelanjaan pun mengganti ucapan “Selamat Natal” dengan “Selamat Hari Libur” pada display mereka.

Baca juga: Ayah Konghucu, Ibu Islam, Anak Memilih Katolik Meski Jadi Minoritas Itu Berat

Jika penolakan ucapan “Selamat Natal” di Indonesia membuat toko kue franchise tadi dinilai tidak toleran dan kehilangan pelanggannya, di Amerika hal yang sama justru membuat salah satu gerai kopi meraih simpati dan peningkatan penjualan.

Melalui edisi ‘plain cup’-nya, gerai kopi franchise ini menghapus desain ornamen khas Natal seperti salju dan pohon Natal yang sebelumnya menghiasi cangkir kopi berwarna merah. Beberapa pihak sempat menilai strategi pemasaran ini tidak menghormati perayaan Natal, sebelum ‘plain cup tersebut hadir beserta segenap promosi menu gratis dan potongan harga khusus. Dalam waktu singkat, penghasilan gerai kopi terkenal itu justru meningkat dan menaikkan valuasi brand di akhir tahun.

Kasus-kasus di atas hanya sedikit contoh bagaimana parameter toleransi keberagamaan yang superfisial semacam ucapan “Selamat Natal” justru berpotensi pada pembiasan motif politis tertentu.

Di Amerika sendiri, fenomena yang dikenal sebagai War on Christmas ini telah terjadi dalam waktu cukup lama antara kaum Republikan dan Demokrat sebagai salah satu preferensi politik. Maka, tidak mengherankan ketika Donald Trump mengusung “Make Americans say Merry Christmas Again!” sebagai salah satu janji kampanyenya.

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Bahkan, menurut Dr. Maria Rae dari Daekin University, perdebatan ucapan Natal sebenarnya tidak ada kaitannya dengan permasalahan teologi karena tingginya jumlah penduduk yang mengidentifikasi diri mereka sebagai tidak religius.

Dalam bukunya Erasing America: Losing Our Future by Destroying Our Past (2018), James S. Robbins mencatat ucapan “Merry Christmas” baru dipopulerkan di Amerika pada 1844 melalui buku Charles Dickens, A Christmas Carol. Sedangkan ekspresi “Happy Holidays” menyusul kemudian pada abad ke-20 sebagai sapaan khas pusat perbelanjaan pada pelanggan mereka dalam rangka menghindari ketakutan menyinggung mereka yang tidak merayakan Natal.

Menariknya, tidak semua masyarakat Amerika merayakan Natal sebagai hari raya keagamaan. Menurut data dari Pew Research Center, hanya 55% yang menilai Natal sebagai perayaan keagamaan, sedangkan lainnya melihat Natal sebagai festival budaya. Angka ini terus menurun setelah sebelumnya berada pada kisaran 59%.

Artikel populer: Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

Dengan demikian, terkait persepsi tersebut, hanya 32% masyarakat yang memilih ucapan “Merry Christmas” sebagai sapaan libur akhir tahun di pusat-pusat perbelanjaan, sedangkan 15% lainnya memilih ucapan “Happy Holiday”, dan jumlah terbanyak yakni 52% mengaku tidak peduli ucapan apa yang digunakan pihak toko.

Pada akhirnya, ucapan “Selamat Natal” atau perayaan hari besar lainnya tidak bisa menjadi tolak ukur tingkat toleransi keberagaman suatu masyarakat. Sehingga, bukanlah atas nama toleransi keberagaman ketika sistem pasar mengharuskan pusat-pusat perbelanjaan menghadirkan perayaan keagamaan dalam gerai, bahkan memaksa para pegawainya untuk mengenakan atribut yang boleh jadi bertentangan dengan keyakinan mereka.

Sebab, dalam nalar industri, mata uang toleransi bukanlah teologi, melainkan ekonomi. Maka, tidaklah berlebihan rasanya jika Tony Benn (2002) menyatakan bahwa agama terkuat hari ini adalah kapitalisme, dimana bank-bank lebih besar dari katedral, kantor pusat perusahaan multinasional lebih besar dari masjid dan sinagog, serta setiap saat kita disodori headline news yang mempengaruhi kebijakan bisnis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini