PNS Pakai Kostum Persija, Surat Terbuka untuk Anies Baswedan

PNS Pakai Kostum Persija, Surat Terbuka untuk Anies Baswedan

Persija (persija.id)

Salam olahraga, Pak Anies Baswedan!

Semoga Bapak senantiasa sehat dan bugar selalu. Sungguh, mengurus tata kelola DKI Jakarta akan tambah ruwet, jika dalam keadaan sakit. Karena hingga detik ini Bapak belum punya wakil alias single fighter, saya sarankan untuk mencoba cabang olahraga yang bisa dilakukan sendiri, misalnya boling.

Selain seru, boling bisa melatih keakuratan. Sedikit banyak ini akan berpengaruh terhadap kinerja Bapak dalam menentukan segala macam kebijakan. Harus akurat, Pak.

Saya memang bukan warga Jakarta, tetapi ketika Bapak berjanji – saat kampanye dulu – akan membuat stadion bertaraf internasional untuk Persija, saya ikut bahagia. Maklum, saya sudah menjadi The Jakmania sejak dalam pikiran. Padahal, saya orang Banten.

Saat kecil dulu, melihat kepiawaian Bambang Pamungkas menggiring bola di tengah lapangan, kok ya bikin ser-seran. Akhirnya saya memilih menjadi The Jak, alih-alih menjadi Laskar Singandaru – suporter Perserang Serang – misalnya.

Perihal pilihan klub sepak bola favorit sungguhlah menjadi urusan masing-masing, tak elok ikut campur. Pasti Bapak setuju, kan? Iyalah, waktu pilkada dulu, banyak kok PNS DKI yang milih Pak Anies. Padahal, kala itu gubernurnya Pak Ahok.

Baca juga: Wahai Bobotoh dan Jak Mania, Lihatlah Maluku dan Afrika Tengah!

Kang Ferry Indrasjarief, ketua umum The Jakmania, pernah bilang bahwa Bapak lebih peduli terhadap Persija ketimbang Pak Ahok. Meski indikatornya hanya sebatas ‘sering dan tidak sering’ tampil menonton pertandingan di stadion.

Toh, itu sedikit membahagiakan. Paling tidak, ada setitik harapan akan masa depan. Walaupun beberapa orang menganggap bahwa itu hanya untuk meraup simpati The Jak, itu sih soal lain.

Belum lama ini, linimasa media sosial dan portal-portal berita daring ramai membahas wacana Pak Anies soal penggunaan kostum Persija oleh para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta saat ‘Macan Kemayoran’ itu berlaga (Persija Day).

Sebagaimana biasanya, pendapat terbelah menjadi dua, antara setuju dan tidak. Bangunan argumen keduanya sudah ketebak. Pihak yang setuju menuduh bahwa pihak yang menolak adalah ‘cebong’, dengan komentar template semacam, “Cebong bisanya nyinyir doang, halah.” Begitu juga sebaliknya.

Saya hanya bisa mbatin sambil mendengar lagu berjudul “Merah” dari Efek Rumah Kaca, terutama pada bagian lirik “Politik terlalu kaotis, dan kita teramat praktis”. Hihihi.

Baca juga: Siapa yang Cocok Jadi Ketum PSSI? Apa, Ahok? Jangan Bercanda!

Nah, sebagai suporter Persija garis kenyal, saya pun merasa punya tanggung jawab moral, asyikk. Sebab itu, izinkan saya berkontribusi melalui surat terbuka ini, Pak.

Dimulai dari hal yang paling mendasar. Apakah para ASN atau PNS yang akan Bapak wajibkan untuk memakai seragam Persija itu, semuanya hobi bola? Jika ya, apakah semuanya memang menjadikan Persija sebagai klub favorit?

Meski sepele, ini tetap perlu dipikirkan matang-matang. Sebagaimana di awal tulisan ini, perihal klub favorit biarkanlah menjadi pilihan masing-masing.

Kan, kurang elok juga kalau ada pegawai yang dukung Persipura, eh dipaksa pakai seragam Persija. Mereka memang tak berani ngeluh, tapi hati nurani itu loh, Pak, tak bisa dibohongi.

Persis seperti saya yang doyan makan bubur ayam diaduk, tapi terpaksa tidak mengaduk di hadapan kekasih. Saya tetap makan kok, cuma ada sedikit pergolakan batin. Apalagi, ada pegawai yang nggak doyan bola sama sekali, bisa Bapak bayangkan?

Bahkan, hingga surat ini ditulis, saya belum menemukan landasan pemikiran yang begitu meyakinkan bahwa kebijakan tersebut benar-benar sebagai bentuk dukungan terhadap Persija.

Baca juga: Ketahuilah, Pemain Bola dan Anggota ‘Boyband’ itu Beda-beda Tipis

Bapak memang tak sepenuhnya keliru, karena dalam sepak bola ada istilah ‘pemain keduabelas’ yang disematkan pada suporter. Dalam stadion, mereka bisa memperkuat mental dan rasa percaya diri para pemain dengan cara menyanyikan chants kebanggaan, membawa atribut gokil-gokil, hingga hal sepele semacam bertepuk tangan.

Pada titik tertentu, itu bahkan bisa menjadi ‘teror’ bagi tim lawan. Itulah sebabnya saat menjadi tuan rumah, klub sepak bola akan tampak lebih superior, meski hal itu tak selalu berlaku.

Tapi, buat apa coba, PNS kan tetap harus kerja di kantor. Mau pakai baju brand-nya Atta Halilintar kek, tak akan berpengaruh apa-apa terhadap penampilan Persija. Lagipula, tidak bakal ada adegan Bambang Pamungkas berteriak di lapangan, “Ayo Marko Simic semangat, lihat para PNS pakai kaos Persija di kantor sambil main Zuma!”

Namun, di luar stadion, para PNS maupun warga kota yang menyukai sepak bola punya pengaruh besar terhadap keuangan klub. Misalnya, dengan cara membeli merchandise resmi.

Artikel populer: Gebetan Baru dan 4 Tips Menawan sebagai Bekal Menaklukkan Jakarta

Lalu, apakah kostum yang menurut Pak Anies “desainnya beda supaya kalau rapat-rapat jangan pakai kaus oblong” akan menambah kas Persija? Semoga, iya. Sebab, banyak yang wanti-wanti bahwa jangan sampai ini cuma buat proyekan.

Sekarang mari kita coba hitung-hitungan sederhana, bolehlah pakai alat bantu kalkulator atau sempoa. Menurut BPS, jumlah PNS Provinsi DKI Jakarta pada 2016 – update terakhir November 2017 – sebanyak 269.131. Dengan asumsi satu kaus seharga Rp 100 ribu, maka silakan jumlahkan sendiri berapa hasilnya, saya puyeng.

Maksudnya, uang sebanyak itu, jika memang diniatkan untuk benar-benar mendukung Persija, akan lebih efisien digunakan untuk sesuatu yang bisa berpengaruh besar terhadap penampilan tim.

Misalnya, memboyong Mohamed Salah, kalau uangnya cukup. Selain jago main bola, beliau juga seiman dengan Bapak, subhanallah. Atau, bangun sekolah-sekolah sepak bola yang benar-benar kompeten untuk menyaring generasi baru. Sungguh dua hal tadi lebih kece, Pak.

Sebagai penutup, saya mau ingatkan. Jangan lupa main boling, Pak, biar kebijakan lebih tepat sasaran.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.