Pleidoi Mahasiswa untuk Dosen yang Tergila-gila dengan Etika saat ‘Chatting’

Pleidoi Mahasiswa untuk Dosen yang Tergila-gila dengan Etika saat ‘Chatting’

Ilustrasi (Samuel Zeller/Unsplash)

“Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan.”

Itu adalah kalimat pembuka yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai tanggapan atas surat terbuka dari Goenawan Mohamad yang terbit lebih dulu di Majalah Tempo edisi 3-9 April 2000 (dan dimuat ulang dalam buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, 2004), yang dimulai – tanpa tedeng aling-aling – dengan “Seandainya ada Mandela di sini. Bung Pram, saya sering mengatakan itu, dan mungkin mulai membuat orang jemu”.

Di luar daripada urusan politik dan ide rekonsiliasi Gus Dur yang melatar belakanginya, saya yakin bahwa dalam sejarah khazanah surat-menyurat, dua tulisan itu yang terbaik, setidaknya di Indonesia. Pun, jika surat tersebut ditulis oleh Atta Halilintar misalnya, dan saya menemukan tulisan itu tercetak di koran yang menjelma menjadi bungkus gorengan, demi janggut Jonru, saya tidak akan menggoyahkan keyakinan sebelumnya.

Keduanya memulai dengan apik, dan semua orang tahu bahwa tulisan yang baik bisa dinilai dari kalimat pembuka. Itulah sebabnya memulai tulisan ini dengan menyitir Pram, eh. Ada dialog yang setara di sana, komunikasi berjalan dengan apik dan kita bisa menikmati itu.

Baca juga: Pemikiran Pram yang ‘Jleb’ Banget untuk Anak Muda Kekinian

Itu bisa terjadi karena ditulis oleh dua orang dengan keterampilan mumpuni dan ditujukan untuk pembaca luas. Yang saya sebutkan terakhir sepertinya tak bisa ditampik, tentu saja surat tersebut sama juga artinya dengan unjuk kebolehan di depan publik. Atau, mungkin sama juga dengan Lekra vs Manikebu, mengingat peran keduanya.

Tapi, seandainya percakapan tersebut terjadi pada ruang yang lebih personal, lewat WA misalnya, Goenawan Mohamad bisa jadi mengawalinya dengan ragam cakap sehari-hari yang lebih santuy. Atau, seumpama blio terjangkit virus kekinian, bisa saja obrolan diawali dengan “P”, “P”, “Assalamualaikum, Pram. Jawab salam yang gak jawab salam PKI” seperti kebanyakan kawan-kawan saya, meski itu terdengar sangat menggelikan dan sensitif. Wqwq.

Pikiran itu muncul bukan tanpa sebab. Adalah sepupu saya, yang memicu ingatan tentang balas membalas surat antara Pram dan GM. Sebagai seorang mahasiswa baru yang masih polos-polos unyu, dia bertanya tentang etika menghubungi dosen yang baik. Kemudian, saya bilang, “Kasih salam, perkenalkan diri dan jelaskan maksud dan tujuan.” Itu jurus ampuh; to the point sekaligus mantap. Itu sudah berkali-kali saya terapkan pada beberapa dosen.

Baca juga: Untukmu yang Suka Tanya atau Pamer Jurusan Kuliah

Tapi ndilallah, beberapa jam kemudian dia mengirim gambar hasil tangkap layar dari jawaban dosennya, yang secara verbatim bisa saya ringkas dalam satu kalimat: “Chat Dosen kok disingkat-singkat, gak punya moral.”

Pada prinsipnya, saya setuju soal pentingnya berkomunikasi dengan baik atau paling minimal membuat lawan bicara kita merasa nyaman. Tapi, dalam persoalan sepupu dan dosen tadi, itu lain hal.

Setelah cari tahu sana-sini, ternyata beberapa kampus memang membuat kebijakan tentang etika menghubungi dosen, dan dengan percaya diri mencetaknya tebal-tebal dalam spanduk.

Dalam beberapa hal, memang masuk akal. Semisal, menghubungi dosen pada jam tertentu. Tapi, sebagian yang lain ramashok. Dan, ternyata, hal serupa juga dialami oleh mahasiswa-mahasiswa yang lain.

Begini, Bapak/Ibu dosen yang baik dan bestari. Pertama-tama, mari kita sepakati bahwa etika dan moral itu sesuatu, yang selain erat kaitannya – setidaknya begitu menurut K. Bartens, juga harus memenuhi syarat tertentu. Ia harus dapat disepakati oleh semua orang alias bersifat universal.

Baca juga: Menggugat Kejomplangan Dandanan Wisuda Laki-laki dan Perempuan

Semisal, Bapak/Ibu bisa menunjuk hidung seseorang sebagai ‘amoral’, jika ia membunuh manusia. Semua menyepakati itu. Tetapi, menganggap ‘amoral’ kepada seseorang yang menyingkat-nyingkat pesan di WA, siapa sepakat? Eh, kecuali dari gebetan ding, bermoral sih, tapi agak nyesek.

Sebagaimana platform IM alias instant messaging lainnya, WA memang dibuat demikian; instan, singkat, cepat, langsung (untuk padanan kata lain, silakan cek tesaurus Eko Endarmoko). Sebab itu, singkat-menyingkat pesan di WA, sejauh yang bisa dipahami, itu tak keliru.

Tidak semua mahasiswa Bapak/Ibu itu seperti ‘uda’ Ivan Lanin yang dicintai netizen, bukan GM apalagi Pram. Ragam komunikasi tak melulu menuntut sesuatu yang formal dan moral tidak bisa dipersempit sebatas chat WA yang singkat atau typo.

Jangan-jangan, persoalannya bukan pada teks pesan WA, tetapi karena Bapak/Ibu dosen yang merasa superior, punya kecenderungan relasi kuasa yang timpang, menghendaki feodalisme dalam pendidikan? Mengapa harus menceburkan mahasiswa pada standar moral yang Bapak/Ibu terapkan sendiri?

Artikel populer: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Contoh standar etika yang lain, misalnya, mengajukan permohonan maaf pada setiap pesan (Wqwq, harus banget nih aq yang minta maaf duluan?). Untuk persoalan ini, tidak perlu mbacot panjang, cukup kasih skrinsut cuitan Pak @PEMBIMBINGUTAMA selaku representasi dosen ideal versi Mahasiswa.

BTW, kapan neh mau nyetak baliho “Etika Menjawab Pesan WA dari Mahasiswa”? Biar sama-sama beretika kita. Eh, becanda, ding. Kan, moralitas semua dosen – tanpa terkecuali – sudah benar-benar paripurna. Kalau ada yang chat mesum ke mahasiswi, ya itu cuma oknum.

Dah ah, mau balas chat pacar dolooo… Nanti dibilang nggak punya etika kalau cuma di-read doang, hehe…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.