Pledoi Cewek Lajang Indonesia

Pledoi Cewek Lajang Indonesia

Ilustrasi (Photo by Pawel Szvmanski on Unsplash)

Oke, mungkin setelah menulis ini saya bakal dicap julid, pamrih, atau hitung-hitungan kalau nolongin orang lain. Padahal, ini soal problem khas yang dialami cewek lajang di Indonesia. Jadi, baca dulu sampai selesai ya, jangan apa-apa baper duluan.

Menjadi perempuan lajang di negeri kita tercynta ini kalau nggak di-bully gara-gara belum atau nggak nikah-nikah (atau malah nggak mau nikah sekalian), ya suka dianggap remeh gitu. Meskipun sudah kerja, masih saja dianggap ‘beban ekonomi keluarga’.

Ada juga yang dengan entengnya beranggapan bahwa orang yang lajang duitnya selalu lebih banyak dan nggak punya banyak kebutuhan – apalagi tanggungan. Terlebih dia perempuan, sering banget dituding konsumtif, tukang belanja, dan doyan foya-foya untuk kebutuhan sendiri.

Kalaupun punya karier sukses, ada saja yang nyinyir setengah mati. Mulai dari komen-komen julid semacam “nggak usah sombong trus jadi kayak nggak butuh laki gitu, deh!” hingga “percuma punya karier juga, kalo usia segitu belum nikah dan punya anak”.

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Ada lagi komentar-komentar seperti yang sering diterima oleh seorang teman yang juga perempuan lajang berkarier. Nah, dia kebetulan kariernya sukses. Sewa apartemen sendiri, kuliah lagi, dan bahkan traveling. Eh, bukan pujian yang didapat, malah keluhan – dari kerabat sendiri lagi.

“Kuliaaah mulu. Kapan kawinnya?”

“Lu traveling mulu, deh. Bukannya buru-buru cari suami. Duit lu kan udah bisa buat biaya akad sama resepsi, mewah lagi!”

Nggak sedikit juga teman-teman perempuan yang lagi asyik-asyiknya berkarier tinggi dan sesuai passion mereka, eh orangtuanya sendiri malah ngancem-ngancem bakal manggil mereka sebagai anak durhaka kalau nggak mau resign dan segera nikah. Iki piye tho?

Mereka yang hobi menyudutkan cewek lajang suka nggak sadar bahwa mereka sebetulnya butuh juga. Apalagi kalau urusan duit. Saya coba klarifikasi deh.

Baca juga: Kami Lajang, Bahagia, dan Tak Terkalahkan

Jangan katakan bahwa perempuan lajang, terlebih ia berkarier, masih menjadi ‘beban ekonomi keluarga’. Lucunya, giliran kalian butuh duit, si perempuan lajang dicari-cari buat utangan. Banyak orang yang begitu mudah menstigma, padahal baru lihat permukaannya saja. Apalagi yang nggak kenal-kenal banget, tapi udah asal nge-judge.

Kata siapa cewek lajang nggak punya tanggungan? Memang siapa yang mengurus orangtua saat sudah pensiun dan sepuh? Sementara, anggota keluarga lainnya yang sudah menikah dan punya anak mungkin sedang punya prioritas lain. Bukan, bukan mau menuduh sesama anggota keluarga lupa sama ortu sendiri. Nggak, kok.

Belum lagi, banyak juga cewek lajang yang punya adik-adik yang masih kecil, bersekolah, atau kuliah. Karena ortu sudah pensiun, pastinya adik-adik pun jadi tanggungan. Bahkan, sebisa mungkin tidak menyebut mereka sebagai ‘beban ekonomi’, karena akan terkesan nggak ikhlas nolongin.

Baca juga: Kadang Perempuan Belanjanya Suka Lama, Lho Memang Kenapa?

Stigma ‘beban ekonomi’ yang disematkan secara semena-mena kepada perempuan lajang – terlebih ia punya karier – sebetulnya sudah usang. Harus disingkirkan dari batok kepala kita.

Pertama, mereka dianggap menjadi ‘beban ekonomi’ sebetulnya gara-gara nggak dibolehin kerja. Atau, dia kerja tapi sayangnya orang-orang masih punya mentalitas lama ala patriarki, yaitu percaya bahwa finansial itu semata urusan laki-laki.

Kedua, stigma ‘beban ekonomi’ bernada menghina, karena kesannya semua perempuan lajang hanya ada untuk menyusahkan. Padahal, orang yang menyusahkan atau menyebalkan itu nggak kenal gender atau status.

Ketiga, nyatanya banyak dari perempuan lajang yang justru menjadi tulang punggung keluarga, tapi masih juga dianggap kurang bernilai hanya gara-gara belum menikah.

Keempat, perempuan lajang juga kadang membantu saudara-saudaranya yang sudah menikah saat mereka butuh pinjaman uang. Apakah perempuan lajang setajir itu sampai rasanya bebas dipinjam uangnya? Nggak juga. Bersyukurlah bila masih punya saudari yang penuh kasih sayang seperti itu.

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Perempuan lajang sebenarnya punya kebutuhan sendiri, tapi… kayaknya nggak usah disebutin di sini kali ya. Selain bukan urusan kalian, mungkin juga masih dianggap kalah penting sama kebutuhan orang yang sudah menikah. Gitu kan?

Kalaupun ia menggunakan gajinya untuk kebutuhan sendiri, kayak traveling atau melanjutkan kuliah, nggak usah pada julid. Toh, kalian juga nggak segitu ributnya kalau laki-laki lajang yang begitu, dengan alasan mumpung belum menikah dan masih banyak waktu luang.

Perempuan lajang juga nggak butuh dipuji-puji setinggi langit atau dianggap pahlawan kok. Cuma nggak mau terus-terusan di-bully. Sesederhana itu. Iya, kalian aja yang ribet.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.