Pijat Payudara dan Hal-hal Lain yang Harus Dipelajari Calon Ayah

Pijat Payudara dan Hal-hal Lain yang Harus Dipelajari Calon Ayah

Ilustrasi (Jess Foami via Pixabay)

Kurang lebih sebulan silam, di Cilegon, seorang suami membunuh istri dan anaknya dengan perkara yang menurut saya sangat remeh: istri tidak mau berhubungan badan karena belum 40 hari melahirkan!

Padahal, kalau si suami tetap memaksa, dia hanya akan mendapat penyadaran bahwa burungnya terlalu kecil mungil karena harus dibandingkan dengan kepala bayi yang belum 40 hari lewat situ.

Peran laki-laki dalam keluarga, apalagi yang baru dibangun, sesungguhnya tidak sesederhana mencari uang atau menyuruh istri bikin kopi atau boleh tahu apapun rahasia istri, sementara suami sibuk push rank dan mabar. Lebih dari itu, ayah adalah solusi pada banyak hal yang bukan melulu soal finansial.

Peran laki-laki bahkan akan meningkat signifikan ketika istri hamil tua dan segera melahirkan. Terlebih, untuk pasutri yang hidupnya berdua saja alias jauh dari mertua dan orangtua, sudah pasti peran laki-laki bakal jauh lebih bermakna. Jadi, sudah layak dan sepantasnya para pria, terutama calon ayah, memahami beberapa hal berikut ini agar menjadi suami yang sukses dan tidak cuma sekadar mokondo.

Post-Partum Depression Istri dan Diri Sendiri

Pasca proses kelahiran, kebahagiaan pasti ada. Namun, bahagia itu akan sepaket dengan kebingungan, kesakitan, tangis, hingga ujungnya stres. Biasanya, dalam kadar yang berbeda-beda, perempuan yang habis melahirkan akan mengalami depresi pasca melahirkan alias PPD alias baby blues.

Baby blues akan semakin terpycu ketika mertua berkomentar soal ASI yang nggak keluar, kala budhe atau maktua yang jarang ketemu urun nyinyir pada berat badan yang tidak seperti cucunya, hingga hal sederhana seperti tetangga sekamar anaknya bisa pulang tapi anak sendiri harus ngekos tambahan karena kudu disinar.

Baca juga: Cuti Hamil Ditambah dulu, Cuti Ayah kemudian

Peran laki-laki sangat penting untuk mengelola itu semua. Kalau perlu menutup mulut pengunjung nyinyir yang bikin istri bisa-bisa jadi tambah depresi.

Soal baby blues pada perempuan, untungnya sudah menjadi awareness di berbagai media utamanya media sosial. Kisah-kisah baby blues ibu baru begitu masif dibagikan dan dikomentari dengan ketik amin mention suami, sehingga kepedulian meningkat.

Saya ada kisah seorang teman yang dibawa melahirkan ke kota tempat asal suaminya dan otomatis tinggal sama mertua, berikut hidup pasca melahirkan bersama mertua. Omongan mertua begitu menyakitkannya hingga teman saya dalam kondisi belum fit pasca proses melahirkan, memilih boyongan ke kota berjarak 6 jam dari lokasi saat itu hanya untuk bisa pulang ke rumah orangtuanya.

Saat itu, suaminya bahkan lebih membela orangtuanya dan mengalahkan istrinya dalam setiap beda pendapat. Padahal, terlepas dari benar atau tidak, perasaan wanita yang habis bergelut hidup dan mati dalam proses melahirkan adalah hal pertama yang kudu dipertimbangkan.

Satu hal yang juga harus bisa di-handle oleh laki-laki dan tanpa pengetahuan dini malah bisa menciptakan petaka adalah menangani post partum depression dirinya sendiri.

Bayi itu memang lucu, namun bayi adalah tanggung jawab baru. Ketika gaji sedang seret atau karier tampak suram di kantor, melihat bayi lucu bisa menjelma jadi ketakutan soal kemampuan menghidupinya kelak. Belum lagi, soal kurangnya waktu tidur dan lain-lainnya.

Sungguh, butuh kedewasaan diri untuk bisa menangani masalah semacam ini dan untuk itulah menjadi orangtua sejatinya adalah hal yang harus sangat dipersiapkan dan bukan perkara sembarangan.

Paket Komplit Mengurus Bayi

Sekali lagi, bayi itu memang lucunya minta ampun. Tapi selucu apapun, dia belum bisa melakukan apapun juga kecuali nangis. Padahal, dia harus dimandikan, harus diganti bajunya, harus diganti popoknya, harus diredakan tangisnya, dan harus-harus lainnya.

Baca juga: Memaksa Laki-laki Mencegah Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

Ketika ibu muda dengan vagina habis dilewati tubuh dengan berat 3 kiloan dan panjang setengah meteran maupun yang perutnya habis dibelah untuk akses bayi keluar, sudah pasti dia akan kesulitan memenuhi kebutuhan bayi itu seorang diri.

Sekali lagi, inilah peran laki-laki, suami, ayah, bapak, atau abi yang bikin cuti mendampingi istri melahirkan menjadi salah satu hal penting yang kudu diperjuangkan agar terlaksana bagi siapapun pria yang jadi budak korporat. Yha, soalnya bagi budak birokrasi sudah ada cuti alasan penting untuk mengakomodasi hal yang memang penting ini.

Awal mula bolehlah sama mertua, orangtua, atau asisten rumah tangga (ART). Namun, sampai kapan akan bergantung terus, padahal sudah jelas anaknya ya produk suami dan istri itu, toh?

Maka, calon ayah itu harus berpikir dan belajar soal cara memandikan bayi, cara mengganti baju, mengganti dan membuang popok, hingga menimang yang baik dan benar untuk bisa mengambil peran ayah yang baik.

Soal perawatan bayi, asalkan proses kelahiran dilakukan di fasilitas kesehatan, maka akan selalu diberikan informasi cara memandikan bayi, mengganti baju, hingga mengganti pokok. Entah kalau di dukun, ya.

Lebih lanjut dan demi kewarasan istri, seorang suami juga harus berbagi peran dengan istri guna berperang melawan siklus tidur bayi yang masih tak tentu.

Jadi, selagi lancar, ibu-ibu zaman now akan memompa ASI mereka agar saluran lancar selagi bayi terlelap dan tidak sedang nenen. ASI yang disimpan di plastik khusus atau botol itu kemudian dibekukan di freezer dan kalau banyak dipamerkan di Instastory. Seorang suami akan berperan menemani bayi saat bangun pada jam Liga Champions tayang. Alih-alih membangunkan istri, akan lebih baik jika lari ke kulkas, ambil ASIP, cairkan, dan berikan kepada bayi kesayangan.

Baca juga: Masukan untuk Jokowi soal Penitipan Anak, dari Ayah ‘Day Care’  

Jangan lupa, bayi umur segitu belum bisa pegang botol, jadi ya pegangilah. Siapa suruh punya anak?

Dengan cara ini, istri akan punya jam tidur yang cukup dan akan lebih waras dalam menjalani hidup. Sudah nggak musim lagi seorang suami marah-marah membangunkan istrinya ketika si bayi oek-oek dengan lucunya.

Kalau mau dilanjutkan, ada lagi peran suami dalam menyiapkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) ketika anak sudah 6 bulan. Menyaring bubur, misalnya, butuh gawean sepele untuk memegang saringan dan menekan adonan perlahan. Membuat sup, juga butuh upaya untuk mengiris daging dan bawang bombay.

Saya sendiri ada pada lingkungan bapak-bapak yang turut bekerja di bidang mencairkan ASIP, dalam tugas ganti popok, hingga menyiapkan MPASI, dan percayalah nggak ada kelelakian yang berkurang. Justru ikatan pada anak menjadi lebih kuat.

Ehm, soal kelelakian sebenarnya malah bisa dibuktikan dengan hal ketiga, yakni…

Pijat payudara!

Silakan berpikir porno, namun para calon ayah atau bapak baru kudu paham bahwa tindakan yang sering juga disebut breast care ini bisa menyelematkan istri dari hal-hal yang tidak terbayangkan.

Ketika wanita baru melahirkan secara otomatis kelenjar-kelenjar di payudara akan memproduksi ASI. Masalahnya, ASI itu nggak selalu mudah untuk keluar. Kadang tersumbat, walaupun rutin disedot bayi atau dipompa. Sebagaimana selang mampet, itu akan menimbulkan penumpukan dan menurut istri saya rasanya sakit sekali.

Hanya dua hari pasca pulang dari RS, istri saya bahkan harus masuk UGD karena badannya panas hingga lebih dari 40 derajat Celcius dan omongannya sudah ngawur. Ternyata, istri saya kena mastitis, kondisi yang sederhananya bisa dijelaskan dengan kejadian yang dialami oleh istri saya tadi. Belum parah, untungnya. Hanya dengan obat penurun panas dan tindakan breast care dari perawat, masalah selesai.

Artikel populer: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Nah, agar tidak mastitis atau radang kelenjar susu lagi, sejak saat itu, setiap hari selama sebulan pertama saya kudu melaksanakan salah satu aktivitas paling ajaib seumur hidup. Saya harus memijat payudara sesuai metode yang diajarkan!

Dengan bantuan VCO, saya melakukan pijatan memutar ke arah dalam terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan memijat dari arah pangkal payudara ke bagian puting. Memijat bagian bawah payudara menjadi langkah selanjutnya.

Kalau bisa, pijatan sampai membuat ada ASI memancar dari puting sebagai bukti tidak ada sumbatan. Sesudahnya, payudara harus diseka dengan air hangat dan air es berganti-ganti. Bagian ini sebenarnya sudah bisa dilakukan sendiri oleh istri saya.

Poin pentingnya dari aktivitas itu adalah saya tidak boleh membiarkan nafsu birahi menjadi liar sama sekali. Heuheu.

Menurut bidan di tempat istri saya melahirkan, sebaiknya aktivitas ini memang dilakukan oleh orang lain dan kalau bisa suami sekalian karena pijat ini akan sakit sekali. Kalau ibu baru yang memijat payudaranya sendiri cenderung akan nggak jadi atau pijatnya nggak kuat dan tujuan breast care jadi tidak tercapai.

Dihadapkan pada payudara yang bisa naik 2 ukuran cup karena penuh dengan ASI, harus memegang dan memijatnya, serta tidak boleh bernafsu sama sekali? Sulit, tapi memang harus dan lebih baik begitu daripada kalau sudah mastitis parah, maka kondisi payudara akan… ah, googling saja sendiri. Serem kalau mau diceritakan.

Oh ya, satu lagi, kalau ada jomblo yang membaca sampai dengan bagian ini, percayalah bahwa sekadar chat tidak dibalas padahal online itu kelak hanya sebuah perkara yang ibarat abu di atas tunggul. Ditiup juga hilang.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.