Ilustrasi perempuan. (Image by Piyapong Saydaung from Pixabay)

Bulan Maret adalah bulan bersejarah bagaimana perempuan memiliki pengalaman yang panjang dalam melawan segala macam bentuk penindasan. Bahkan, bulan Maret dianggap sebagai Bulan Sejarah Perempuan.

Salah satu momen penting pada bulan Maret adalah unjuk rasa belasan ribu perempuan di Amerika Serikat pada 1908. Beberapa tuntutannya yaitu peningkatan standar upah dan pemangkasan jam kerja. Peristiwa itu kemudian dianggap sebagai awal dari Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang diperingati setiap 8 Maret.

Tahun ini, 113 tahun berselang, peringatan Hari Perempuan Internasional mengusung beragam isu, mulai dari kepemimpinan perempuan hingga berani mengambil pilihan dan tantangan. Pesannya adalah melawan ketidaksetaraan, bias, dan stereotip yang dialami perempuan.

Di Indonesia, masalah stereotip dan stigma masih menjadi isu krusial. Karena itu, kita membutuhkan aksi sosial. Sebenarnya ada beberapa cara untuk peduli isu perempuan, salah satunya aksi sosial melalui aplikasi Campaign #ForChange. Sebab dengan satu aksi sekalipun, kita bisa melakukan perubahan besar.

Nah, salah satu stigma dan prasangka yang merendahkan perempuan adalah seputar ‘keperawanan’. Poppy Dihardjo, Founder Perempuan Tanpa Stigma (PenTas), memberi gambaran soal isu ini:

Keperawanan itu apa?

Menurut saya pribadi, keperawanan sebetulnya konstruksi sosial yang diawali dari budaya patriarki dan sudah diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga dianggap sebagai nilai sosial yang perlu ditanamkan ke semua perempuan.

Patriarki juga penyebab social conditioning perempuan dan laki-laki berbeda. Perempuan seolah selalu diharapkan untuk menjaga dirinya demi masa depannya bersama laki-laki yang akan menjadi pasangannya.

Ada stigma terhadap perempuan yang dianggap tidak perawan, bagaimana cara melepaskan stigma tersebut?

Dengan berdaya sejak dalam pikiran dan memahami bahwa nilai seseorang tidak bergantung pada ada atau tidaknya selaput dara, atau sudah atau belumnya seseorang berhubungan seks. Definisinya apa? Menurut saya, yang sering kali dimaksud oleh banyak lapisan masyarakat adalah kondisi seseorang yang sudah pernah melakukan hubungan intim yang melibatkan penetrasi di luar ikatan pernikahan.

Apakah stigma soal keperawanan adalah salah satu bentuk penindasan, lalu bagaimana melawannya?

Tentu saja, karena sekali lagi tanggung jawab dibebankan hanya kepada perempuan. Cara melawannya adalah dengan memahami nilai diri dan hak kita atas ketubuhan, serta memahami bahwa kita berhak memilih yang terbaik untuk kita. Bahwa tidak melakukan hubungan seks atau melakukan hubungan seks yang bertanggung jawab adalah pilihan yang bisa diambil dengan kesadaran oleh siapapun.

Bagaimana dengan beberapa institusi yang masih menerapkan tes keperawanan? Apakah relevan sebagai dasar penilaian?

Tentu tidak. Karena kemampuan perempuan bukan di vagina, tapi dari pengalaman dan isi kepala.

Lalu, ada wacana soal bimbingan atau kelas pranikah. Apa perlu ditanya soal soal perawan atau tidak perawan?

Jika tujuannya untuk memahami apakah pernah melakukan hubungan seks yang tidak aman sehingga berpotensi membahayakan calon pasangannya (secara medis ya), bisa saja ditanyakan. Namun, bukan di kelas pranikah, melainkan saat melakukan tes medis.

Konsep keperawanan ini dianggap bisa berbahaya, karena akhirnya perempuan tidak dibekali dengan pendidikan seksual. Ia dijauhkan dari tubuhnya sendiri, dijauhkan dari akses kesehatan. Ada pendapat soal ini?

Konsep keperawanan yang tidak dibekali dengan pendidikan seksual tentang tubuhnya tentu bisa membuat perempuan ‘buta’ akan haknya. Tidak ada salahnya mengajari anak tentang nilai yang kita anggap baik untuk mereka, seperti tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Namun, semestinya ada pembekalan mengenai pilihan yang ada beserta implikasinya. Contoh, sering kali kita dijejali seks sebelum nikah itu dosa dan bakal masuk neraka, sementara yang menurut saya sama pentingnya adalah bagaimana mereka paham apa sih hubungan seks itu? Lalu, mengapa melakukannya ketika belum siap dan tidak aman bisa mengubah hidup mereka secara drastis?

Saat ini, banyak dokter kandungan yang menghakimi perempuan lajang. Padahal, cuma mau konsultasi masalah kesehatan reproduksi. Tapi rasanya dibuat serba salah, belum nikah kok ke dokter kandungan? Begitu juga dengan pandangan masyarakat. Bagaimana menghadapi ini?

Dengan paham bahwa kita punya hak atas kesehatan reproduksi. Pengalaman penghakiman ini kan kemungkinan levelnya personal ya, terjadinya one on one menurutku, jadi usahakan untuk bisa mengkomunikasikan keberatan kita akan diskriminasi atau penghakiman yang dilakukan oleh siapapun secara asertif.

Pandangan masyarakat pun rasanya jadi tidak penting dan tidak signifikan, kecuali kita yang memberikan arti padanya. Hadapi dengan fokus pada apa yang penting: diri kita sendiri.

Apa pesan-pesan untuk perempuan soal keperawanan ini, dan tentunya kepada masyarakat luas?

Your body, your rule, your responsibility. Kamu punya kendali dan kuasa atas tubuhmu sendiri, kecuali jika kamu memilih untuk memberikan kendali dan kuasa itu ke orang lain. Untuk masyarakat luas, memberikan kesempatan pada diri sendiri di level individu untuk mendapatkan informasi seputar isu ini dan bagaimana bisa membantu generasi berikutnya dalam mendapatkan pembekalan yang holistik seputar kesehatan reproduksi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini