Jawaban untuk Kamu yang Suka Kirim Pesan Mesum

Jawaban untuk Kamu yang Suka Kirim Pesan Mesum

Ilustrasi (Mohamed Hassan via Pixabay)

Apa sih yang kamu pikirkan ketika mengirim pesan mesum yang mengajak perempuan untuk langsung tidur bersamamu? Melihat perempuan yang dianggap seksi kemudian berasumsi bahwa ia mau diajak tidur adalah logika berpikir sempit dan tidak memanusiakan perempuan.

Kalau kamu merasa terangsang, bukan berarti memberikan kamu wewenang untuk melakukan tindakan seenaknya sendiri tanpa persetujuan. Atau, mengirim pesan untuk bisa tidur bersama. Memangnya tidak berpikir untuk mempertanggungjawabkan perilaku kamu yang tergolong kejahatan seksual itu?

Kamu tidak bisa menganalogikan tubuh perempuan dengan botol yang disegel atau makanan yang dibungkus. Botol dan makanan itu kan benda mati yang bisa diatur sesuka hati. Bukan benda hidup yang memiliki otonomi sendiri.

Menganalogikan perempuan yang berpakaian seksi sebagai perempuan yang sedang mencari seks adalah sebuah kebodohan dan pembodohan.

Perempuan juga bukan mesin seks yang mana kamu ucapkan kata-kata manis dan kamu puji, maka ia akan mau tidur sama kamu dengan sekejap. Persetujuan untuk mau tidur sama kamu juga tidak segampang itu.

Dulu, sebagian perempuan di bumi Nusantara bahkan memakai baju yang minim. Bukan apa-apa, ini negeri beriklim tropis. Suhunya cenderung panas. Bahkan, ada pula yang tidak menutup bagian payudara.

Kala itu lumrah saja dan laki-laki bisa menghormati perempuan. Lantas, kenapa sekarang kamu semakin tidak bisa mengendalikan pikiran dan perilaku? Bahkan, malah membenarkan terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Sudah jadi korban, disalahkan lagi.

Lalu, apa bedanya dengan membenarkan perilaku para koruptor, yang tak kuasa menahan nafsu untuk menggasak uang rakyat?

Mengekspos orang-orang yang membenarkan pelecehan seksual adalah salah satu jalan untuk membuat jera penjahat kelamin.

Tak hanya itu, mengkonfrontasi pelaku kekerasan seksual di jalan atau orang yang mengirim pesan tak senonoh ke ranah pribadi, lalu mengadukannya ke tempat mereka bekerja, juga konsekuensi yang harus diterima pelaku.

Sudah sepatutnya kamu dan kroni-kronimu merefleksi hal ini. Tidak seharusnya membudayakan kekerasan yang membenarkan perilaku kejahatan seksual terutama terhadap perempuan di manapun, baik di tempat umum, tempat kerja, hingga hubungan pribadinya antar sesama manusia. Sebab, buat apa terus memberi ruang kepada para penjahat kelamin?

Seperti ekspos yang dilakukan oleh Via Vallen, kemudian mengkritik para seleb ternama yang terus menunjukkan kesesatan berpikir, hingga kepada pilot ternama yang tidak bisa menghargai dan menghormati otoritas tubuh perempuan.

Ya sudah jadi tanggung jawab masyarakat untuk tidak memberikan ruang kepadamu. Terlebih, kasus-kasus seperti ini seringkali luput dari jeratan hukum. Jika ini terus dibiarkan, hidup kami selalu tidak aman. Bagi perempuan maupun laki-laki, termasuk anak-anak.

Pakaian mini atau tubuh perempuan yang terlihat seksi bukan alasan melakukan kekerasan seksual. Bukan pula penebar teror dosa kepada laki-laki. Kalau ada yang menilai seperti itu, pertanyaannya adalah bagaimana dengan laki-laki yang menebar rasa takut kepada perempuan di jalanan setiap hari? Apa itu bukan teror?

Perempuan adalah pihak yang paling sering dilecehkan, mulai dari siulan di jalan, pesan mesum, dipegang-pegang bagian tubuhnya, hingga pemerkosaan dan pembunuhan. Tak peduli dengan pakaian yang dikenakan, mini atau berjilbab sekalipun.

Sebelum kamu mengakui kesalahan dan berhenti menjadi apologetik, serta mencari-cari alasan mengapa kamu melakukannya, maka kamu hanyalah misoginis yang melanggengkan budaya kekerasan.

Percayalah, itu buruk buat hidup kami.

Baik laki-laki maupun perempuan harus berhenti menyalahkan korban. Apa perlu menunggu kejadian yang tidak mengenakkan seperti itu menghampiri keluargamu? Asal tahu, ini bukan hanya menyangkut perempuan, tapi juga laki-laki.

Banyak laki-laki yang juga menjadi korban kekerasan seksual, namun banyak yang tidak mau berbicara karena takut dianggap sebagai laki-laki lemah. Padahal, bukan itu masalahnya. Feminisme juga memberikan ruang untuk laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual.

Banyak pula perempuan yang mengalami kekerasan seksual sepanjang apapun mereka menjulurkan kainnya. Tak heran, jika tren tagar ‘me too atau ‘aku juga’ ramai di ragam lapis masyarakat.

Dan, untuk kamu-kamu yang masih menganggap perempuan korban pelecehan seksual dan mereka yang berupaya menyuarakan kegelisahan itu sebagai orang yang berlebihan atau lebay, kamu sebenarnya tidak jauh-jauh dari penjahat kelamin.

Karena itu, kamu tidak perlu repot-repot mengeluhkan kehidupan kamu atau memprotes suatu tatanan yang sangat bobrok. Sebab, kamu sangat cocok hidup seperti di era Orde Baru, karena orang takut bersuara. Terus, kenapa nggak sekalian aja kamu bikin Front Pembela Penjahat Kelamin?

2 KOMENTAR

  1. Ada sebagian yg ku tidak setuju
    Kalo gk ngirim pesan gitu gimana cara dapat sex (atau bermesum ria lah)? Main fisik? Pasti gk lah
    Kalo baru kenalan alias stranger sih aku setuju itu salah tapi kalo udah kenalan gmn atuh? Masa sekali bilang bukan dibales dgn say “no” malah langsung di public shaming aja
    Bahkan nyewa psk aja diawali ngirim pesan kaya gitu
    Ya harusnya laki2 (atau perempuan dan transeksual/transgender) diajarkan bahwa jika ditolak ajakan nya untuk mesum maka dia harus Nerima dan legowo bukan berusaha apalagi memaksa…atau dia akan kena hukuman

  2. Kalo baru kenalan alias stranger sih aku setuju itu salah, tapi kalo udah kenalan gmn atuh? Masa sekali bilang bukan dibales dgn say “no” malah langsung di public shaming aja, dan pftttt Bahkan nyewa psk aja diawali ngirim pesan kaya gitu

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.