Ilustrasi pertemanan (Image by Stefan Keller from Pixabay)

Banyak orang bijak bilang bahwa punya pacar tak menjamin hidup lebih bahagia. Apalagi, pacar yang cenderung mendominasi dan terlalu mengendalikan pasangan. Bayangkan, betapa begitu mengekang. Yang-yangan kok kayak kurungan?

Belum lagi, kalau pacar melakukan kekerasan fisik. Dalam catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2019, ada lebih dari 2.000 kasus kekerasan yang dilakukan laki-laki ke pasangannya (perempuan). Itu yang dilaporkan, dan itu pun belum termasuk kekerasan yang menimpa laki-laki. Makanya, tak sedikit orang yang memiliki preferensi untuk memperbanyak teman saja ketimbang punya pasangan. No partner no cry, gitu.

Tapi eh tapi, udah ngejomblo dan banyak teman kok tetap nggak bahagia, ya? Nah, berarti perlu melihat lagi bagaimana lingkaran pertemanan selama ini. Jangan lupa introspeksi diri juga sih.

Teman yang positif melahirkan pertemanan yang sehat, begitu pula sebaliknya. Orang yang kita sebut sebagai teman bisa saja menjadi dementor. Alih-alih membawa hal yang baik, toxic friend malah bikin unhappiness.

Baca juga: Cinta Mati sama Pasangan, tapi Mual dengan Teman-temannya

Padahal, arti teman dan pertemanan nggak cuma seseorang yang bisa diajak nongki dan hahahihi. Semestinya teman juga bisa diajak berbagi. Bukan cuma berbagi kesenangan, tapi juga kesedihan. Intinya bisa saling menerima dan merangkul ketika salah satu sedang berada di titik nadir kehidupan.

Tapi memang, kadang sulit menentukan mana yang benar-benar layak menjadi teman, mana yang tidak. Meski begitu, saat hati mulai membatin “lho kok dia gini sih, katanya teman?”, itu bisa menjadi saat yang tepat untuk cabut dari circle pertemanan.

Perasaan semacam itu muncul akibat reaksi dari seseorang yang kita anggap sebagai teman tidak berbanding lurus dengan ekspektasi. Tapi milenial hipokrit yang suka membangun friendship dengan tema picisan “beri aku sebuah apel, maka aku akan memberimu satu keranjang penuh” tentu nggak akan persoalkan ini sih.

Ya memang, dalam pertemanan yang sehat, ada kecenderungan untuk saling berbagi dan memberi. Berbeda dengan pertemanan toksik, yang biasanya selalu ingin diberi ketimbang memberi.

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Contoh sederhana, teman yang sering minta ditraktir. Ada saja alasannya supaya dapat gratisan. Paling klise ya dompet ketinggalan. Sekali dua kali bolehlah, tapi kalau terlalu sering beralasan, teman semacam itu nggak baik untuk kesehatan jantung dan dompet, sungguh.

Terlebih, kalau si toxic friend punya sifat mau menang sendiri. Ngobrol dengan doi tentunya sesuatu yang challenging banget dan menyita banyak energi. Yap, true! Obrolan tidak mengalir dengan santuy, tapi penuh dengan berbalas argumen tiada henti yang ujung-ujungnya kita dipaksa memandang sesuatu dari kacamatanya.

Toxic friend tidak tahu kapan harus bicara, kapan harus banyak mendengar. Saat dia berbicara, kita mendengarkan setiap detail ceritanya dengan khidmat, namun giliran kita yang mulai bercerita, dia bergegas mengalihkan topik dengan berbagai alasan.

Secara sepihak, toxic friend ingin mendominasi agar kita mengikuti pola pikirnya. Dia seakan turut menentukan keputusan-keputusan dalam hidup kita tanpa memberi pertimbangan matang yang positif. Giliran kita berhasil mencapai sesuatu yang menggembirakan, dia tidak ikut merayakan. Pencapaian kita tidak terlalu penting baginya, atau malah membuatnya dengki.

Baca juga: Pacar Kamu Gagah? Perkasa? ‘Toxic Masculinity’ Nggak?

Tak sedikit toxic friend yang cemburu terhadap kesuksesan temannya sendiri. Pokoknya dia nggak suka kalau kita lebih baik darinya, tak jarang kita dianggap sebagai rival. Pertemanan itu lama-lama menjadi persaingan terselubung. Bukannya mendukung, tapi malah menikung.

Jadi, nggak cuma pasangan yang berpotensi mengekang kebebasan, teman yang toksik alias ‘beracun’ ini juga bisa melakukan hal yang sama. Ditambah, dengan sikapnya yang obsesif bin posesif. Dia seolah punya kuasa untuk mengontrol kita.

Toxic friend tidak akan membiarkan kita membentuk pertemanan dengan orang selain dirinya, sementara dia bebas berteman dengan siapapun. Teman model begini nggak suka orang-orang mencurahkan perhatian untuk kita, dia berusaha ingin merebut atensi dari banyak orang. Menyebalkan pastinya menjalin pertemanan dengan orang yang self-centered ini.

Demikian pula sebaliknya, seorang toxic friend jika bermasalah dengan orang lain akan menceritakannya secara dramatis pada kita, lalu dia memanipulasi pikiran kita supaya sebal juga dengan orang tersebut tanpa sebab yang jelas. Pokoknya musuhku adalah musuhmu, temanku ya temanku. Egois parah.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Toxic friend juga sering mengandalkan orang lain dalam berbagai situasi, tapi dia sendiri sulit untuk diandalkan saat kita butuh bantuannya. Dia akan datang memohon bantuan agar kita mengeluarkannya dari kesulitan, tapi dia juga tidak berkenan untuk memudahkan urusan kita di lain waktu.

Kita pun seolah dituntut punya toleransi yang tinggi kepadanya, tapi dia nggak peduli berapa kali kita harus mengalah. Kita selalu diminta untuk memaafkan kesalahannya, namun repetisi tentang kesalahannya seakan tiada henti. Padahal, salah ya tetap salah, tidak kemudian menjadi benar hanya karena ikatan pertemanan. Memaksakan diri untuk selalu dealing dengan karakter minus si toxic friend cuma bakal bikin sakit hati.

Jadi, nggak cuma urusan cinta, pertemanan pun bisa bertepuk sebelah tangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini