Menjawab Beberapa Pertanyaan Menohok seputar LGBT

Menjawab Beberapa Pertanyaan Menohok seputar LGBT

Ilustrasi (Photo by Emily Morter on Unsplash)

Belum lama ini muncul tagar #UsirLGBTdariSumbar di media sosial. Duh, apalagi ini? Kok ya nggak Pegadaian-able banget. Bukannya menyelesaikan masalah tanpa masalah, malah tambah masalah.

Kenapa harus didiskriminasi? Kenapa harus diusir? Apa yang menjadi urusan privat mereka, ya urusan mereka. Kamu mau nggak diusik urusan pribadi sama orang lain? Risih kan?

Kalau kamu menganggap mereka itu sakit, bukannya setiap penyakit akan dicari obatnya? Kalau kamu menganggap mereka sakit jiwa, bukannya penyakit jiwa bisa disembuhkan lewat terapi?

Sayangnya, LGBT bukan penyakit. Nggak ada obat yang terbukti bisa menyembuhkan LGBT. Dan, itu juga bukan penyakit jiwa. Nggak ada terapi yang terbukti bisa menyembuhkan LGBT.

Coba kamu luangkan waktu sejenak untuk menonton video-video pengakuan orang-orang LGBT yang terpaksa harus mengikuti terapi. Kalau kamu nggak merasa kasihan, mungkin kamu waktu sekolah suka bolos pelajaran PPKn. Nggak tahu yang namanya kemanusiaan yang adil dan beradab.

Mereka yang berbeda orientasi seksual adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Ini malah mau main usir. Hello… teriak-teriak saya Pancasila tapi kok gitu?

Terus, kamu tetep ngotot supaya diusir? Coba kasih tahu, bagaimana caranya? Solusinya apa? Bisakah kita menentukan orientasi seksual seseorang begitu saja? Mau dilihat dari cara berpakaian? Nggak bisa, ekspresi gender berbeda dengan orientasi seksual.

Atau, mereka disuruh nonton filmnya Dr Brazzers, eh Dr Bernard, gitu? Misalnya, film yang menampilkan adegan seks antara dua laki-laki atau dua perempuan. Kalau mereka horny, mungkin mereka bagian dari LGBT. Eh tapi masyarakat kita kan religies, gaes… mana boleh nongton film begituan?

Jadi gimana caranya? Di KTP pun nggak ada kolom orientasi seksual, baik di KTP elektronik maupun di blangko yang segede gaban itu.

Mau memergoki ‘pasangan’ di jalan? Mau mengulang kasus kakak-adik yang baru bertemu, lalu dipersekusi karena emak-emak berpikir bahwa mereka pasangan gay? Kalau kamu nggak punya orang tersayang, janganlah membuat hubungan dua orang yang saling sayang menjadi renggang. Aihh, pamali tauu…

Sampai saat ini, memang masih banyak yang salah kaprah tentang LGBT, yang entah sampai kapan selesainya. Mungkin kalau bangsa kita sudah bisa long weekend di Mars, berselancar di cincin Saturnus, atau menambang emas di Bulan.

Misalnya, anggapan-anggapan seperti berikut ini:

LGBT penyebar virus HIV

Salah besar. LGBT nggak menyebarkan virus HIV. Kegiatan seksual yang tidak bersih dan sembarangan yang menyebarkan virus HIV. Kira-kira, siapa yang lebih berisiko terkena HIV, dua orang gay yang berhubungan intim tapi selalu menggunakan kondom atau dua orang hetero yang berhubungan intim tanpa pernah memakai kondom?

Lagipula, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek juga sudah bilang bahwa faktor risiko penularan HIV terbesar adalah hubungan seks yang berisiko pada heteroseksual, yaitu 66%!

Baru setelah itu penggunaan jarum suntik tidak steril pada pengguna napza suntik (penasun) sebesar 11%, lelaki seks dengan lelaki sebesar 3%, dan penularan dari ibu ke anak sebesar 3%. Ngarti ora?

Terus, kalau dilihat dari jumlah kasus AIDS yang dilaporkan tertinggi adalah kalangan ibu rumah tangga (10.626). Lho kok bisa?

Selanjutnya tenaga non profesional/karyawan (9.603), wiraswasta (9.439), petani/peternak/nelayan (3.674), buruh kasar (3.191), penjaja seks (2.578), PNS (1.819), dan anak sekolah/mahasiswa (1.764).

LGBT menular

Salah besar. Nggak ada yang tertular LGBT. Memangnya LGBT itu virus? Kan bukan penyakit. Kalaupun pada akhirnya kamu ‘tertular’ LGBT, ya berarti memang dari awalnya sudah LGBT. Intinya nggak menular, karena faktor biologis (genetik) berperan jauh lebih besar. Bahkan, belakangan, para ilmuwan mengklaim menemukan adanya ‘gen homoseksual’.

LGBT agenda propaganda komunis

Embuh baca ini dari mana, tapi ini ngaco banget. Udah itu aja.

LGBT merusak moral bangsa

Yang dimaksud apa ya? Orang-orangnya atau perilaku seksual aktif? Kalau perilaku seksual aktif, orang-orang hetero juga banyak yang aktif berhubungan seksual. Lalu apa mereka merusak moral bangsa?

LGBT menyimpang, harus taubat

Saya pernah dengar cuitan seperti itu. “Bertaubatlah, LGBT! Jangan sampai hidup dicela, mati dihina, dan di dalam kubur disiksa!”

Setuju dan nggak setuju sih. Setuju, karena semua orang berdosa. Semua orang harus bertaubat, kalau tujuan mereka ingin masuk surga. Nggak setuju, karena yang berdosa bukan cuma orang-orang LGBT. Orang hetero juga banyak dosa. Kamu sendiri perlu taubat nggak?

LGBT adalah pendatang bala

Hft. Cyin. Cium nih lama-lama..

Kalau percaya agama dan Tuhan, nggak seharusnya kamu bilang begitu. Begitu juga dengan kamu-kamu yang paham sains. Lantas, kalau ada LGBT yang kerjanya di bagian sosial, suka menyumbang hartanya, suka membantu orang yang kesusahan, ya masa diazab sama Tuhan? Tuhan nggak sejahat itu kalee…

Terus kalau ada bencana alam, masa masih mau menyalahkan LGBT? Goyangan LGBT sebegitu dahsyatnya kah sampai-sampai bisa menggoyangkan bumi? Mantap cyin, latihan di mana tuh?

Terus yang terakhir, yang bikin miris. Kalau kalian menganggap LGBT itu penyakit yang harus disembuhkan atau kalau tidak, diusir. Ini kasihan.

Ada banyak orang yang terkena penyakit yang nggak bisa disembuhkan dan bahkan mematikan. Ada beberapa dari mereka yang memilih untuk menyembuhkan dirinya, dan beberapa dari mereka kalah.

Ada pula yang memilih untuk hidup dengan penyakitnya tersebut, karena mereka pasrah. Kalau waktunya tiba, pasti semua orang mati.

Apa orang-orang dengan penyakit itu juga harus diusir kalau nggak sembuh? Orang sakit butuh teman untuk bisa sembuh, bukannya malah dikucilkan. Ini kalau kalian menganggap LGBT sebagai penyakit ya. Temani mereka, kali aja bisa sembuh ye kan? Kali aja…

Lalu, gimana kalau anak lo nanti LGBT?

Ya saya sebagai orang tua akan menyayangi anak sih. Tuhan menyuruh kita untuk menyayangi anak-anak kita, kan? Tuhan bahkan menyuruh manusia untuk menyayangi satu sama lain. Susah banget nurutin kemauan Tuhan. Katanya religies? Saya yang nggak religies aja bisa. Ehm.

Gimana kalau anak lo nanti diperkosa sama LGBT?

Ya itu pemerkosaan. Pemerkosaan nggak pernah benar. Mau hetero, mau homo. Pemerkosaan itu kriminal. Ya harus dihukum.

Intinya, buat kamu yang hetero dan homofobia, banyak-banyaklah baca tentang LGBT. Pahami identitas gender, ekspresi gender, orientasi seksual, dan alat kelamin. Jangan kebanyakan baca hoax. Dilaporin ke Dr Bernard, nih!

2 KOMENTAR

  1. HLH KNTL ngomong ga pake sumber, terus wartawan detik dan viva pada ngarang?!

    Penderita HIV/AIDS Capai 633 Kasus, Kebanyakan Kaum Gay
    https://www.jawapos.com/read/2017/07/21/145753/penderita-hivaids-capai-633-kasus-kebanyakan-kaum-gay

    Jabar Masuk 5 Besar Pengidap HIV, Perilaku Gay Mendominasi
    https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3778905/jabar-masuk-5-besar-pengidap-hiv-perilaku-gay-mendominasi

    Gay 60 Kali Lipat Lebih Mudah Tertular HIV/AIDS
    https://www.viva.co.id/berita/nasional/989234-gay-60-kali-lipat-lebih-mudah-tertular-hiv-aids

TINGGALKAN PESAN