Yang Tidak Dipahami Banyak Orang Mengapa Perempuan Saling Bersaing

Yang Tidak Dipahami Banyak Orang Mengapa Perempuan Saling Bersaing

Ilustrasi (Chris Barbalis/unsplash.com)

Kompetisi tak sehat antar perempuan adalah fakta. Diceritakan dari generasi ke generasi, hingga masuk televisi. Mulai dari Purbararang dan Purbasari yang berebut tahta Pasir Batang, video Marshanda untuk teman-teman SD-nya, sampai Bu Dendy.

Kisah-kisah kompetisi tak sehat antar perempuan itu ditanam oleh masyarakat, dan dipupuk oleh media, sesuai zamannya.

Dalam catatan-catatan klasik dan kitab-kitab suci, misalnya, kita mengenal Peninah yang tak habisnya mengejek Hannah, lantaran si istri muda tak kunjung memberi keturunan bagi suaminya.

Kemudian, Leah yang berpura-pura menjadi Rachel untuk menikahi Jacob. Atau, kisah dua perempuan yang berebut bayi dihadapan Sulaiman hingga Aphrodite yang menyebabkan perang Trojan karena ingin menjadi yang tercantik.

Budaya pop juga tak malu menampilkan kompetisi dan perebutan laki-laki oleh perempuan-perempuan hebat. Carrie dalam Sex and The City yang merogoh kocek sampai hampir habis gajinya untuk membeli barang-barang desainer demi berkompetisi dengan istri mantan pacarnya.

Kemudian, sinetron yang sering menampilkan protagonis perempuan lemah, cantik, dan baik hati melawan perempuan berkarakter kuat yang ambisius. Bahkan juga kisah klasik putri-putrian ala Disney.

Ratu Grimhilde dalam kisah Putri Salju adalah contoh sempurna tentang persaingan dan kedengkian antar perempuan. Cerita yang sama juga dilanggengkan oleh Ursula yang merebut Erik dari Ariel, serta Cinderella dan kakak-kakaknya yang berebut calon suami.

Sejak kecil perempuan dibiasakan untuk bermusuhan dengan perempuan demi perhatian laki-laki. Sementara, karakter laki-laki yang diperebutkan selalu tampil memukau dan pasif di antara perkelahian perempuan. Padahal, laki-laki bukan benda-benda yang bisa diperebutkan begitu saja, dan perempuan bukanlah pawang.

Keterbiasaan terhadap narasi-narasi ini membuat kita dengan santainya melontarkan ungkapan: biasalah cewek gak akur sama cewek mah, perempuan emang dari sananya udah saingan.

Padahal, anggapan bahwa perempuan lebih kompetitif dari laki-laki tidaklah benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak dini laki-laki lebih kompetitif dibandingkan perempuan.

Sikap kompetitif dari pejantan terkait perebutan teritori, betina, dan hasil buruan dari berbagai spesies telah banyak diteliti, termasuk dalam spesies manusia. Topik yang sama tak banyak diteliti untuk betina, termasuk perempuan.

Dalam sebuah seminar, Center for The Education of Women (CEW) Universitas Michigan mengungkapkan, laki-laki jauh lebih kompetitif dan ambisius dalam dunia kerja. Laki-laki lebih banyak meminta fasilitas kepada perusahaan dan permintaan tersebut sering diakomodasi oleh perusahaan.

Sementara itu, pekerja perempuan jarang mengambil inisiatif yang sama, dan meski berinisiatif, permintaan tersebut lebih jarang dipenuhi oleh perusahaan jika dibandingkan dengan rekan laki-laki.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana dan kepada siapa perempuan memilih untuk berkompetisi?

Perempuan jarang menganggap laki-laki sebagai pesaing yang adil, karena dalam banyak hal laki-laki tetap memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih dari perempuan. Misalnya, pekerja laki-laki masih mendapatkan gaji yang lebih tinggi dibanding pekerja perempuan dalam bidang dan posisi yang sama. Laki-laki juga lebih mudah mendapatkan akses dibandingkan perempuan.

Contoh lain, meski terkesan adil dan transparan, sistem masyarakat yang tidak adil menyebabkan perempuan pengemudi taksi online lebih terugikan. Sebab itu, kesuksesan laki-laki sering dianggap tidak sebanding dengan kesuksesan perempuan karena privilese yang dimiliki laki-laki.

Sebaliknya, perempuan cenderung lebih agresif terhadap sesama perempuan terutama ketika perempuan tersebut dianggap berpotensi menjadi kompetitor. Perempuan juga enggan mengenalkan perempuan yang dianggap menarik kepada pasangannya.

Persaingan ini berkaitan dengan posisi perempuan yang membingungkan di masyarakat. Dalam batas tertentu, perempuan dianggap setara dengan laki-laki. Perempuan bisa bersekolah dan bekerja, bahkan juga dapat menjadi presiden atau hakim agung.

Namun, pada saat yang sama, perempuan juga diharapkan untuk tidak sekolah terlalu tinggi karena toh ujungnya akan ke dapur juga, tidak apik jika punya pendapatan yang lebih besar dari suaminya, tidak boleh terlalu ambisius berkarier sampai lupa cari suami, harus pintar urus anak dan mengurus rumah, tapi juga harus selalu kelihatan ‘seksi’ dan menarik.

Ketika sudah berumah tangga, perempuan sering diharapkan untuk lebih fokus pada keluarga ketimbang karier. Perempuan dikondisikan untuk cakap dalam urusan domestik saja dan bergantung kepada suami untuk urusan lain.

Masyarakat dan warganet pun sudah siap mencemooh, baik perempuan yang ‘terlalu’ mandiri maupun perempuan yang ‘gagal’ dalam rumah tangga.

Sebab itu, dalam narasi keberadaan orang ketiga dalam pernikahan, perempuan lebih gelisah ketimbang laki-laki. Perempuan juga lebih sering melampiaskannya kepada perempuan lain alih-alih kepada suaminya sendiri karena dianggap laki-laki bukanlah lawan yang setara.

Ambiguitas peran perempuan di masyarakat membuat perempuan sulit mengambil sikap dalam narasi kompetisi. Kebebasan dan kesetaraan gender yang prematur memberi kesan bahwa perempuan yang memiliki ambisi adalah sedang melawan tatanan yang sudah ada.

Apalagi, kompetisi dianggap bertentangan dengan karakter feminin. Kebiasaan melekatkan perempuan dengan karakter feminin ini membuat perempuan seolah buruk, jika memiliki cita-cita dan ambisi. Lihat saja, bos perempuan yang memiliki karakter kuat akan disebut tukang ngatur, sementara laki-laki akan disebut tegas.

Karena itu, perempuan yang ingin sukses harus berkompetisi dengan lebih subtil dan personal. Jadi, kompetisi lebih sering terasa seperti penyerangan pribadi.

Pada saat yang sama, tidak ada nilai-nilai yang membatasi laki-laki untuk berkompetisi. Lumrah bagi laki-laki untuk berkompetisi langsung dan terbuka, apapun motivasinya.

Akhirnya, meski perempuan menyukai kedekatan dan hubungan baik dengan sesama perempuan, baik dengan ibu, teman, atau saudara perempuan, namun perempuan juga sering terkepung oleh perasaan kompetitif terhadap sesama rekan perempuan.

Maka, perdebatan soal mengurus anak, menjaga kehamilan, ibu karier vs ibu rumah tangga, penghasilan istri, hingga mempermalukan wanita lain, akan selalu sengit di media sosial.

Padahal, persaingan tak sehat antar perempuan hanya akan menguntungkan patriarki sebagai status quo, sementara perempuan akan terus menerus menjadi warga kelas dua yang saling berkelahi.

4 COMMENTS

  1. wanita karir maupun ibu rumah tangga sama – sama saling meremehkan kak. IRT bilang wanita karir terlalu ambisius, materialistis. wanita karir pun juga meremehkan ibu rumah tangga, menganggap mendidik anak jadi cerdas dan berbudi, mengurus suami juga rumah itu tugas sepele, gak ada apa – apanya dibandingkan perempuan yang cari uang.. dua – duanya sama – sama pikiran yang merusak kak..

  2. perempuan mah mahluk ribet, kerja aja ribet, ada menstruasi lah, pms lah, haid lah, hamil ribet, mau nggak mau ngasi libur sesuai peraturan pemerintah (kalo gk bisa2 dilaporin ama pekerja yg melek)
    aduhh suatu kesalahan

    btw, bagus dong kalo perempuan dibiasakan untuk bermusuhan dengan perempuan demi perhatian laki-laki, karna perempuan itu “sangat diuntungkan” dlm nyari jodoh atau perhatian, banyak laki2 “ngejar” kalian buat memiliki hati kalian, apalagi kalo kalian cantik, trus tinggal pilih deh cowo yg bikin hati lu nyaman (kalo gk percaya bikin 4 akun dating/sosmed dah, yg satu cowo ganteng dan yg kedua cewe cantik, lalu yg ketiga cowo biasa aja (atau kulit coklat deh) dan cewe yg biasa aja (atau kulit coklat) dan lu bakal liat perbedaannya )

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.