Perokok dan Pengguna Vape Saling Klaim Paling Keren, yang Bukan Ahli Hisap...

Perokok dan Pengguna Vape Saling Klaim Paling Keren, yang Bukan Ahli Hisap Gimana?

Ilustrasi vape (Doodleroy via Pixabay)

Dulu ketika nongkrong di warung kopi, lalu melihat kepulan asap, bisa dipastikan itu asap rokok. Sekarang, bisa jadi itu uap vape. Apalagi, kepulannya terlihat lebih banyak dan pekat.

Yup, vape kini menjadi gaya hisap yang sering disebut sebagai pengganti rokok. Sebetulnya vape juga dikenal sebagai rokok elektrik, tapi gampangnya kita sebut saja vape. Sebab, vape itu cairan yang dipanaskan menggunakan baterai lalu menghasilkan uap. Kalau rokok itu asap.

Saya sebetulnya bukan perokok, bukan pula pengguna vape. Jadi bisa lebih obyektif dalam menyoroti keduanya, uhuk. Sebab, seorang perokok tentu bakal mendewakan rokoknya, sedangkan penikmat vape akan mengunggulkan vapenya.

Karena saya bukan konsumen dua barang itu, maka tidak akan berbicara tentang perbandingan cita rasa antara rokok dan vape. Yah, meskipun pernah mencium aroma asap dan uapnya. Tapi kali ini akan lebih fokus pada rokok dan vape sebagai gaya hidup.

Belakangan ini, banyak perokok menilai bahwa vape tidaklah sekeren ngerokok. Sebaliknya, pengguna vape mengklaim bahwa menghisap dengan model seperti itu atau ngevape bisa mengurangi risiko penyakit dibandingkan ngerokok. Ngevape juga diklaim lebih elegan.

Lantas, benarkah itu semua? Bagaimana dengan orang yang bukan ahli hisap?

Sementara itu, menurut dr Agus Dwi Susanto, seorang dokter penyakit paru, ngerokok dan ngevape sama-sama berbahaya. Di Amrik, Gubernur New York, Andrew M Cuomo telah mengesahkan undang-undang yang melarang rokok elektrik di tempat umum, sama seperti pelarangan untuk rokok konvensional.

“Produk ini dipasarkan sebagai alternatif yang lebih sehat daripada rokok, tapi kenyataannya mereka juga membawa risiko jangka panjang terhadap kesehatan pengguna dan orang-orang di sekitarnya. Ini berarti dari segi kesehatan, keduanya memiliki tingkat bahaya yang sama,” tuturnya seperti dilansir media.

Baca juga: Penjelasan Sederhana untuk Kamu yang Sinis sama Perempuan Merokok

Jika kemudian ngevape dikatakan terlihat lebih elegan, rasanya tidak juga, meskipun vape sering kita temui di kafe-kafe kelas menengah atas. Sementara rokok, tak mengenal kelas sosial sih, tapi banyak ditemukan di warung-warung kopi pinggir jalan.

Seorang teman yang ahli hisap vape mengakui bahwa keunggulan vape baginya hanyalah, selain mudharat bagi kesehatan yang ia yakini lebih sedikit, juga karena ia bisa merasa lebih elegan. Tentu, dengan modal yang lebih mahal dari rokok.

Dengan modal yang lebih mahal, ada anggapan lain bahwa pengguna vape juga terkesan lebih mapan. Lalu, apakah klaim kemapanan dan kesan elegan itu tampak hebat?

Sementara, rokok-rokok konvensional, entah rokok kretek maupun cerutu, dengan catatan sejarahnya yang panjang seperti telah menjelaskan kepada kita tentang banyak hal. Mulai gaya hidup, perlawanan, hingga pelampiasan kegalauan.

Dalam catatan sejarah, terdapat banyak tokoh besar dunia yang ternyata perokok. Nama-nama seperti Fidel Castro dan koleganya, Ernesto ‘Che’ Guevara, Presiden Amerika John F Kennedy, hingga Perdana Menteri Inggris Winston Churchill adalah orang yang masuk dalam kategori ahli hisap.

Dalam banyak foto-fotonya yang tersebar, Che Guevara dan Fidel Castro sering tampil dengan sebatang cerutu di tangannya. Kalau kata teman aktivis, dia kelihatan gagah dengan sebatang cerutu yang ia bawa.

Baca juga: ‘Hypebeast’ yang Katanya Bikin Anak Muda Jadi Eksis

Jika Castro ditanya siapa lelaki paling keren di dunia, ia tanpa ragu-ragu akan menjawab, Angel Castro, ayahnya sendiri. Salah satu alasan mengapa ia menobatkan ayahnya sebagai lelaki terkeren, karena Angel Castro adalah orang yang mengajarkan kepadanya cara menikmati cerutu.

Dalam otobiografinya, My Life, Castro bercerita tentang hari pertama menikmati cerutu. Saat ia ulang tahun ke-15. Ia menerima cerutu sebagai hadiah dari ayahnya. Ia menyebut, dengan sebatang cerutu waktu itu, seperti seorang jejaka yang bingung bagaimana caranya bercinta.

Sementara, Che Guevara sering menyarankan kepada pasukannya untuk membawa beberapa batang cerutu saat hendak bergerilya. Che menulis, merokok di waktu senggang adalah sobat sejati bagi tentara yang kesepian.

Di Indonesia sendiri, kisah tentang alat hisap ini mengalami berbagai lika-liku. Pramoedya Ananta Toer, sang legenda dalam sastra Indonesia, pernah menceritakan kisah yang terjadi pada 1950-an. Saat itu, ada sebuah pertemuan antar pemimpin dunia di London.

Haji Agus Salim, yang saat itu menjabat sebagai duta besar Indonesia, menghisap rokok. Baunya yang menyengat membuat orang-orang Eropa bertanya tentang apa yang sedang dinikmati oleh Haji Agus Salim. Kemudian, ia dengan tenang menjawab, “Inilah yang membuat sekian abad lalu nenek moyang Anda datang dan menjajah negeri kami.”

Jlebb…

Selain kisah Agus Salim, Pram yang menyebarkan kisah ini sendiri sering dikenali oleh para penggemarnya dengan foto yang sedang menghisap rokok. Satu nama lain yang hampir selalu terlihat posenya dengan sebatang rokok yang sedang dihisap adalah Chairil Anwar, si penyair legendaris.

Artikel populer: Benarkah Ngeteh Nggak Sekeren Ngopi?

Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai perokok berat. Kalau konteks sekarang, budayawan Emha Ainun Nadjib juga dikenal sebagai ahli hisap.

Saya tak gegabah untuk menyimpulkan sama seperti kesimpulan teman-teman aktivis yang sering menyatakan bahwa merokok sama artinya dengan mengencerkan otak. Saya kira itu terlalu naif.

Namun, bukan suatu yang berlebihan, jika sebagian orang melihat perokok seperti melihat aura tokoh-tokoh besar, semisal Che Guevara, Chairil Anwar, dan Pramoedya Ananta Toer.

Tapi, sekali lagi, itu kesan subyektif. Masa kita bisa melarang orang berimajinasi? Lagipula, dulu kan belum ada vape. Kalau ada, bisa jadi ikutan ngevape juga. Mungkin selanjutnya Voxpop bisa menayangkan artikel; Membayangkan Che Guevara, Chairil Anwar, atau Pramoedya Ananta Toer ngevape. Wah, seru.

Sampai hari ini, rokok bisa dibilang masih digandrungi dibandingkan vape. Ya iyalah, kan rokok maupun cerutu punya sejarah yang panjang. Tapi ingat, sejarah terus berjalan. Bukan tidak mungkin, sepuluh tahun lagi justru para penikmat vape lah yang mendominasi.

Kalau begitu, siapa yang terkesan keren dan elegan? Perokok atau pengguna vape? Ya belum tentu keduanya. Tapi, kalau mau jujur, ehm, yang keren dan elegan itu kamu. Ya kamu, yang selalu membuatku tersipu malu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.