Ilustrasi. (Mohamed Chermiti/Pixabay)

Ada bahasan yang menggelitik lumayan hangat di media sosial, yaitu tentang ‘mengembalikan’ fungsi perempuan sebagai kanca wingking dalam ranah patriarki. Katanya perempuan sekarang sudah melenceng terlalu jauh dari kodratnya sebagai pengasuh keluarga, melangkahi kodrat lelaki sebagai pemimpin keluarga.

Konon, saat ini susah mencari perempuan yang nurut dan manut kepada suami. Sebab, katanya, banyak perempuan yang teracuni paham feminisme dan kesetaraan gender hingga melupakan fungsi utamanya sebagai ibu yang harus mengasuh anak serta keluarga.

Hmmm… masa sih?

Dulu ’emak’ saya (nenek dari almarhum ayah) pernah memberi nasihat seperti ini kepada kami, cucu-cucunya:

“Jadi seorang perempuan itu bebannya banyak. Kalian perempuan harus luwes, tidak hanya melahirkan, mengurus rumah tangga, serta menyenangkan suami saja. Tapi juga harus bisa mandiri, cari uang sendiri, punya penghasilan sendiri. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana jalannya hidup di depan nanti. Namanya jodoh bisa saja putus di tengah jalan, dan perempuan harus siap karena bakal ada tanggungan anak. Lagi pula, jodoh akan rezeki itu kadang datangnya bukan hanya lewat pasangan kita, tapi juga lewat kita sebagai perempuan.”

Baca juga: Perempuan Boleh Bekerja, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku?

“Demikian juga sebaliknya para lelaki. Jangan sibuk mencari nafkah sampai melalaikan tugasnya sebagai bapak yang juga harus mendidik anak-anaknya. Karena pendidikan, pengasuhan juga menjadi tanggung jawab laki-laki sebagai orangtua. Namanya orangtua itu ada dua, bukan hanya perempuan ataupun laki-laki saja, tapi laki-laki dan perempuan. Laki-laki pun sama, harus mengerti pekerjaan rumah, jangan hanya bisa makan tidur tidak mau tahu keadaan rumah. Perempuan juga butuh istirahat, butuh dibantu, istri yang kelelahan hanya akan membuat keadaan rumah tambah berantakan.”

Awalnya, saya tak mengerti kenapa ’emak’ memberi nasihat seperti itu. Apalagi, saya dibesarkan di lingkungan masyarakat yang cukup kental kultur patriarki. Sebagaimana embah putri yang menganggap para lelaki tak seharusnya masuk dapur atau melakukan pekerjaan rumah. Dapur dianggap sebagai salah satu ruangan yang tabu dimasuki oleh para lelaki.

Tapi, belakangan jadi paham, mengapa pernikahan seharusnya menjadi sebuah hubungan yang berimbang, sebuah partnership antara perempuan dan laki-laki. Ini bukan tentang melangkahi aturan atau siapa kalah dari siapa, melainkan justru untuk membangun suasana yang kondusif, sebagai role model bagi anak-anak yang tumbuh dalam keluarga.

Baca juga: Yang Luput dalam Ekonomi, Dampaknya ke Para Istri

Bahwa mengasuh anak pun bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu atau bapak saja. Eiji Yoshikawa pernah menukil Sutra Bakti dari Sang Buddha yang diterjemahkan oleh Biksu Kumarajiva tentang cinta kasih orangtua terhadap anaknya yang ia tuangkan dalam buku Musashi bab V, “Langit”.

“… Tapi tanpa ayahnya tak mungkin ia tahu api dapat membakar. Tanpa ibunya, tak mungkin ia tahu pisau dapat mengiris jari. Bila ia berumur tiga tahun, ia disapih dan belajar makan. Tanpa ayahnya, tak mungkin ia tahu racun dapat membunuh. Tanpa ibunya, tak mungkin ia tahu obat dapat menyembuhkan.”

Di situ tertulis jelas bahwa pengasuhan, pendidikan, memang sudah sewajibnya menjadi tanggung jawab kedua orangtua. Apalagi, di era ‘banjir informasi’ saat ini, anak dengan mudah mengakses internet dan mendapat informasi dari sana sini. Tanpa pendampingan dari kedua orangtua untuk mengajari anak-anaknya, bagaimana memfilter informasi yang tak perlu? Apa jadinya coba?

Baca juga: Apakah Perempuan Harus Menikah supaya Aman?

Kemudian, perkara perempuan yang katanya harus kembali menjadi kanca wingking dan menempatkan lelaki menjadi pemimpin. Bahwa perempuan tak usah mencari nafkah, karena itu tugas utama seorang lelaki. Sebab perempuan, istri, adalah seorang ratu rumah tangga.

Jujur, setiap kali mendengar istilah “ratu rumah tangga”, bawaannya kepingin ngakak. Ya kalau mau merujuk pada istilah “ratu”, ratu seharusnya hanya duduk manis tanpa harus berpeluh dengan pekerjaan dapur dan sumur. Apalagi, sibuk ikut mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang kian tinggi.

Jadi kepikiran para ibu dengan beban ganda dalam keluarga. Harus menjadi pengasuh sekaligus kepala keluarga karena keadaan. Apalagi, dihantam pandemi pula, entah berapa banyak perempuan yang akhirnya mau tak mau memiliki beban ganda.

Mulai dari mereka yang pasangannya meninggal karena wabah hingga mereka yang akhirnya memilih berpisah karena perilaku abusif dari pasangannya, perselingkuhan, dan sebagainya. Ada banyak alasan mengapa perpisahan pada akhirnya meletakkan tanggung jawab terhadap anak di atas pundak perempuan.

Artikel populer: Pacaran Lama-lama Terus Putus, Rugi Nggak sih?

Ini belum termasuk dengan para perempuan yang juga terpaksa menjadi kepala keluarga, mencari nafkah, serta mengasuh keluarga karena kondisi pasangannya yang tengah sakit. Atau, yang bertukar tempat dengan suaminya karena sang suami ‘dirumahkan’ oleh perusahaan akibat imbas pandemi.

Yang jelas, ada banyak sekali alasan mengapa perempuan tak seharusnya menjadi pengasuh saja, tapi juga belajar untuk berdaya. Sama halnya dengan para lelaki yang tak seharusnya menjadi pencari nafkah saja, tapi juga menjadi pengasuh keluarganya.

Demikian juga para lelaki. Mereka harus bisa dan paham pekerjaan rumah tangga sebagai bagian dari yang namanya “mengasuh keluarga”. Ini bukan perkara tabu atau skill, melainkan tentang partnership dalam sebuah kehidupan berumah tangga. Dimana yang satu ada untuk yang lainnya sebagai partner, bukan sebagai loser atau winner.

Tak ada yang dikalahkan atau dimenangkan oleh salah satu pihak karena pada dasarnya pernikahan melibatkan dua orang dengan posisi yang setara. Lagi pula namanya juga pasangan, bukan karyawan kan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini