Ilustrasi. (Image by Prawny from Pixabay)

Publik sempat digemparkan dengan video kemarahan bapak-bapak kepada seorang kasir Indomaret. Akar masalahnya adalah karena kasir tersebut melayani pembelian voucer game oleh anak si bapak dengan harga Rp 800 ribu.

Dalam perspektif saya sebagai bapak muda dan tampaknya perspektif banyak rakyat Indonesia lainnya, ketika seorang anak bisa-bisanya beli voucer game hampir sejuta, itu pasti tanggung jawab orangtua. Ya sesederhana ketika anak saya menumpahkan minuman di restoran, maka itu terjadi karena saya tidak waspada mengawasinya. Bukan salah gelasnya.

Demikian pula pada anak yang semakin besar dan harus bersentuhan dengan gawai, kejadian semacam itu juga berkorelasi dengan pengawasan. Toh, Google menyediakan teknologi untuk mendukung pengawasan aktivitas anak di dunia maya oleh orangtua.

Bukan apa-apa, saya pernah satu antrean sama bocah yang beli voucer game juga dengan harga lebih dari Rp 1 juta. Eh, ternyata memang disuruh bapaknya yang lagi belanja di toko roti sebelah. Dalam konteks ini, si anak justru melaksanakan perintah orangtua. Dan, si bapak mungkin malah ngamuk juga kalau anaknya ditanya oleh kasir, “Uangnya dari mana, Dek?”

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Hal yang paling menarik dari kejadian ini adalah video tersebut direkam dan diunggah sendiri ke media sosial oleh istri si bapak. Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu. Biasalah, friksi di jalanan. Ada bapak-bapak yang sebenarnya salah karena melawan arus, justru balik mengejar ketika saya teriakin. Dalam salah satu percakapan kala hendak memukul saya, dia sempat-sempatnya berkata ke istrinya, “Rekam, Ma. Biar viral!”

Lah??

Angka pengguna media sosial di Indonesia setiap tahun terus meningkat. Data We Are Social dan Hootsuite memotret bahwa pada tahun 2015, pengguna media sosial di Indonesia masih di bawah 100 juta. Lima tahun kemudian, angkanya sudah tembus 150 juta. Data yang sama menyebut bahwa pengguna Facebook pada tahun 2017 di Indonesia baru sekitar 48%, pada tahun 2021 angkanya sudah menjadi 85,5%.

Sayangnya, pertumbuhan jumlah pengguna itu tidak diiringi dengan kesadaran untuk bermedia sosial secara baik. Dari kejadian ini, sejatinya kita sungguh belajar banyak hal. Pelajaran pentingnya, netizen Indonesia itu ganas.

Baca juga: 3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Videonya memang diunggah di akun sang istri, namun karena yang bersuara banyak adalah sang suami, jadilah akun si bapak yang jadi sasaran. Sampai dengan tulisan ini dibuat, konten terakhirnya yakni share video pembangunan obyek wisata rohani di Samosir sudah mendapat 104 ribu komentar dan telah dibagikan lebih dari 800 kali. Sebagian besar adalah komentar negatif terkait marah-marah di Indomaret tadi. Yah, kalau hanya dipandang dari angka engagement, politisi pun pasti iri hati melihat engagement setinggi itu.

Keganasan netizen Indonesia semakin menjadi-jadi. Ketika tulisan ini diketik, status akun Facebook si bapak bahkan sudah ditandai ‘Mengenang’ alias pasti ada yang melapor kalau si bapak meninggal atau karena spam tagar RIP, padahal kan kagak. Nyatanya masih bisa minta maaf melalui video yang diunggah di media sosial.

Baca juga: Berdamai dengan Orangtua soal Pakaian dan Pulang Malam

Yup, kita hidup di era digital dengan segala manfaat dan mudaratnya. Sangat penting bagi setiap orang, apalagi yang berstatus orangtua, untuk mampu beradaptasi sebaik-baiknya pada dunia digital ini. Apalagi, perkembangannya begitu cepat.

Sebagai contoh, jurnal-jurnal ilmiah pada periode 2014 masih menganggap video sebagai konten yang biasa saja, engagement-nya tidak sebanyak foto. Pada tahun 2021? Lonjakan jumlah pengguna TikTok setidaknya memperlihatkan pola perilaku bermedia sosial yang sudah jauh berbeda.

Perilaku pasangan suami istri yang mengunggah video marah-marahnya di Facebook boleh jadi bagian dari keyakinan pribadi bahwa dirinya benar. Sayangnya, melempar sesuatu ke media sosial adalah bukan hal keyakinan semata, karena pasti akan terbentur dengan perspektif orang lain yang boleh jadi berbeda. Pada kejadian ini dapat dipertegas lagi: sangat berbeda.

Artikel populer: Pacar Anak Presiden dan Jejak Digital yang Kerap Dianggap sebagai Preseden

Demikianlah bahwa adaptasi memang menjadi kunci. Kalau memang rasanya bermedia sosial itu merepotkan, sebaiknya tidak perlu bermedia sosial saja. Atau setidaknya, selalu luangkan waktu untuk melihat kembali konten yang akan kita unggah sebelum memencet tombol yang membuatnya tayang ke seluruh dunia. Ingat, video memang bisa dihapus, tapi di dunia ini sudah ada teknologi screen recorder yang membuat upaya menghapus video hanya sebuah kesia-siaan.

Video kemarahan tadi adalah satu dari sekian banyak video serupa yang juga viral. Belakangan juga viral bapak dan ibu yang marah karena diminta putar balik di lokasi penyekatan arus mudik, serta ibu yang memaki-maki kurir. Apalagi, marah-marahnya dilandasi oleh ketidaktahuan. Kalau memang tidak tahu, ya belajar. Bukannya marah-marah.

Ingat, netizen Indonesia lebih pemarah!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini