Memangnya Kenapa Kalau Perempuan Nembak Duluan?

Memangnya Kenapa Kalau Perempuan Nembak Duluan?

Ilustrasi (Candiix/pixabay.com)

Lazimnya ketika ingin menjalin hubungan, katakanlah pacaran, yang menyatakan cinta terlebih dahulu adalah laki-laki. Namun, apa yang terjadi, jika perempuan yang nembak duluan?

Ya biasa-biasa saja sih.

Tapi bagi sebagian orang, hal itu dianggap tidak biasa. Perempuan kok nembak duluan? Di mana letak harga diri kita sebagai perempuan? Hah. Oh, tidak.

Coba deh, kita keluar sejenak dari kerangka berpikir yang seperti itu. Laki-laki dan perempuan punya hak yang sama, mencintai dan dicintai. Lalu, salahnya di mana, jika perempuan terlebih dahulu menyatakan cinta kepada laki-laki?

Kalau sudah cinta ya cinta saja, kalau mau nembak duluan ya nembak saja. Daripada dipepet sama yang lain terus kamu nangis-nangis sambil bilang, “Yah, kenapa gak aku tembak aja ya dia kemarin?” Pupus sudah harapan. Nyesek.

Toh, kita tak pernah tahu dan tak pernah meminta kapan dan kepada siapa cinta akan jatuh, karena cinta punya matanya sendiri untuk memandang. Cinta punya caranya sendiri untuk mencintai. Cinta punya pilihannya sendiri untuk memilih.

Kamu bebas bilang, “Cintai aku saja!” Tapi kalau dibilang tidak, ya tidak. Sebab cinta tidak bisa dipaksa. Kalau maksa-maksa, itu namanya kekerasan dalam… Eh, tapi pacaran kan belum, apa iya juga sebentuk kekerasan dalam pacaran (KDP)?

Mungkin namanya kekerasan sebelum pacaran (KSP). Tapi… tapi… kan gagal pacaran? Oalahh… Belum pacaran saja sudah kekerasan.

Dan, ini adalah kisah teman saya, kebetulan perempuan. Dia cinta sama seorang lelaki yang satu komunitas belajar dengannya. Setiap hari bertemu, setiap hari berkomunikasi, sehingga cinta itu tumbuh dan bersemi. Eeaa…

Hingga suatu ketika, teman saya ini mengajak si lelaki pergi ngopi dan pada saat itulah dia menyatakan cintanya. Laki-laki itu tak langsung menjawab. Dia hanya mengatakan bahwa dia juga merasa nyaman ketika berada dekat dengan teman saya.

Waktu pun berlalu, komunikasi terus terjalin, meskipun si lelaki tidak begitu responsif. Hingga saatnya tiba, lelaki itu bilang kalau dia sudah bertunangan dengan seorang perempuan di daerah asalnya.

Pada kemudian hari, lelaki itu akhirnya juga mengakui bahwa dia punya rasa sama teman saya itu. Tapi, karena sudah diikat (tunangan), dia tidak bisa menerima teman saya sebagai pacarnya. Sama-sama sakit sih, uhukk…

Ini adalah sebuah contoh bahwa tidak ada salahnya perempuan mengungkapkan cintanya terlebih dahulu. Bayangkan, jika teman saya itu tidak mengungkapkan cintanya, mungkin dia takkan pernah tahu bahwa lelaki pujaannya juga punya rasa. Dia mungkin juga takkan pernah tahu kalau lelaki itu sudah tunangan dengan perempuan lain.

Terakhir, teman saya bercerita bahwa dia tidak lagi berkomunikasi dengan lelaki pujaannya itu, karena doi sudah balik ke daerah asalnya. Dan, cara dia untuk melupakannya adalah memblokir nomor WA si doi.

Dan, yang lebih ekstrem adalah menonaktifkan akun Facebook-nya hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tujuannya agar dia tidak lagi melihat status si lelaki itu. Sudah cintanya ditolak, ditinggal pulang kampung pula.

Jadi, tak cuma urusan nembak duluan, perempuan juga punya hak yang sama bagaimana rasanya ditolak. Tapi ada yang bilang, “Perempuan nembak duluan itu kesannya murahan, apalagi sampai ditolak sama laki-laki.” Lha, memangnya barang, ada yang murah dan mahal?

Coba, sekarang ganti kata ‘perempuan’ pada kalimat tersebut dengan kata ‘laki-laki’. Begitu juga sebaliknya. Bayangkan, jika mengikuti analogi tersebut, berapa buaanyak laki-laki murahan di dunia ini?

Balik lagi ke cerita tadi.

Lanjut nggak nih?

Di sini akan berlaku kata-kata bahwa cinta tak harus memiliki. Kita boleh dan sah-sah saja mencintai siapapun, bahkan orang yang sudah punya pasangan hidup sekalipun. Tetapi, masing-masing tahu dirilah, ya perempuannya, ya laki-lakinya.

Untuk urusan itu juga harus setara dong, jangan perempuan terus disalahkan, dicap pula sebagai pelakor alias perebut laki orang. Sementara yang laki malah aman-aman saja. Memang sih, ada istilah pebinor atau perebut bini orang. Tapi faktanya, itu hanya sebatas istilah, tidak berlaku di lapangan.

Jadi, apa yang dilakukan teman saya tadi sudah benar dan baik. Benar, karena dia berani mengungkapkan perasaannya. Baik, karena dia berusaha untuk ikhlas. Begitu juga dengan lelaki pujaan hatinya, yang tetap komit dengan tunangannya.

Ujung-ujungnya dari semua ini adalah kata ‘maaf’. Maaf, saya telah mencintaimu. Maaf, saya tidak bisa menerima cintamu. Lha, jika dalam mencintai dan dicintai bukanlah sebuah kesalahan, lalu kenapa harus ada kata ‘maaf’?

Maaf, saya mencintaimu dalam diam. Wadaw…

Ketahuilah! Cinta tak punya alasan kenapa dia bisa jatuh pada seseorang. Saya cinta sama kamu, karena kamu baik. Setiap orang baik. Si A, B, dan C juga baik, kenapa kamu tidak mencintainya juga? Kenapa kamu hanya cinta sama saya, tolong dijawab, eh?

Kalau cinta, ya cinta saja. Tak perlu pamrih ‘karena ini-itu’. Yang lucu, kalau ada yang bilang, “Kamu cantik, tapi saya belum mencintaimu. Nggak tahu kalau sore.” Memangnya jam weker bisa di-timer?

Jadi Jeung, jangan bicara kesetaraan, kalau nggak berani nembak duluan.

Semoga beruntung!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.