Penjelasan Sederhana untuk Kamu yang Sinis sama Perempuan Merokok

Penjelasan Sederhana untuk Kamu yang Sinis sama Perempuan Merokok

Ilustrasi (pixabay.com)

“Kak, lihat deh ibu-ibu dalam mobil itu,” kata temanku saat kami hendak keluar dengan motor dari kosan. “Iya, lihat. Memangnya kenapa?” tanyaku. “Dia merokok, Kak. Hem, perempuan kok merokok!” ketusnya. “Lha, memangnya kenapa kalau perempuan merokok?” dia diam.

Beberapa hari ini saya sering pergi ke kafe, tapi biasanya saya dan teman-teman menyebutnya pergi ngopi meskipun pas sampai di lokasi yang dipesan bukan kopi, malah pesan es teh atau susu jahe.

Nah, dari kesekian kali kunjungan ke kafe-kafe yang berbeda-beda tentunya, saya banyak menemui perempuan yang merokok, baik perempuan yang berjilbab maupun tidak.

Kalau saya sih melihatnya biasa-biasa saja, wong itu haknya dia kok. Tapi ya tentu harus memperhatikan kesehatannya dan orang lain juga. Semisal, kalau dia lagi hamil, mending merokoknya dihentikan dulu, karena takutnya membahayakan janin.

Tapi yang bikin risih itu adalah teman saya sesama perempuan. Heran deh, yang merokok siapa, yang risih siapa. Merokok atau tidak, baik perempuan atau laki-laki, merupakan prerogatif setiap individu.

Jika Anda selalu nyinyir “perempuan kok merokok”, ya selamanya Anda akan disibukkan dengan hal-hal yang seharusnya tidak perlu. Sebab, jika pergi ke kafe atau semacam tempat ngopi, Anda pasti akan menemukan satu-dua-tiga perempuan yang merokok. Jika tidak, Anda berdiam diri saja di dalam kamar mandi, dijamin hanya akan menemukan diri Anda sendiri.

Terkait rokok ini, saya pernah bertanya pada teman laki-laki yang merokok. “Apa sih enaknya rokok itu atau kalau tidak merokok itu rasanya gimana? Lalu, dia menjawab, “Rasanya sehabis poop tapi gak cebok.” Owww… Anda yang merokok merasa begitu juga nggak?

Ya, rokok selalu diidentikkan dengan laki-laki, katanya menunjukkan kejantanan dan keperkasaan. Lha, sejak kapan rokok berkonspirasi dengan obat kuat? Dan, katanya kalau laki-laki nggak merokok itu rasanya gimana gitu. Tapi, bagi perempuan, hal ini justru menjadi kebalikannya.

Perempuan yang merokok masih dianggap sebagai perempuan ‘nakal’, nggak pantas, menyalahi etika, moral, dan bla bla bla. Ciee, yang jadi ‘polisi moral’.

Lha terus, apa hubungannya coba rokok dengan etika dan moral? Kalau memang iya, berarti banyak laki-laki yang nggak bermoral dong? Ah, dasar kau laki-laki, uhuk.

Lantas, kenapa laki-laki yang merokok tidak ‘dihakimi’ dengan kata-kata dan stigma yang sama? Katanya, rokok tidak baik buat kesehatan. Tapi kok ya merokok juga. Kasihan rokoknya disalah-salahin. Apalagi sampai nyalah-nyalahin perempuan yang merokok. Eh?

Gini deh, memang rokok selalu dilekatkan pada citra laki-laki, tapi anehnya yang mempromosikan rokok malah umumnya perempuan. Kebiasaan deh, standar ganda banget.

Ketika perempuan merokok malah dibilang ini-itu, eh malah memanfaatkan perempuan jadi sales promotion girl (SPG). “Mas, rokoknya, mas. Murah kok. Beli satu bungkus, nanti dapat bonus mancis ini.”

Anda yang pernah melihat atau bahkan membeli rokok yang dijajakan oleh SPG tersebut pasti melihat dengan jelas pakaiannya kan? Minimal pakai rok mini dan baju ketat. Tubuh mereka diakomodir oleh orang di luar dirinya, dan saya kira si perempuan itu juga tidak merokok. Eh, kok malah larinya ke tubuh perempuan yah.

Dan, konon, rokok kretek pertama kali diracik oleh seorang perempuan bernama mbok Nasilah di Kudus pada 1870-an. Si mbok mencampur tembakau dengan cengkeh dan membungkusnya dengan daun jagung kering.

Awalnya, itu untuk mengurangi kebiasaan mengunyah sirih yang mengotori warungnya. Namun, racikannya disukai oleh para pelanggan. Salah satunya adalah Nitisemito yang kemudian menikahi si mbok.

Pasangan suami-istri inilah yang kemudian bersama-sama mengembangkan racikan si mbok sampai menjadi salah satu industri kretek pertama di Kudus pada 1914.

Saya sendiri termasuk orang yang sangat tidak suka dengan asap rokok, membuat dada sesak. Untungnya, di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun kereta api, dan tempat-tempat umum lainnya sudah disediakan ruangan untuk merokok.

Setidaknya, sejumlah pihak yang terkait turut menaruh perhatian terhadap mereka yang tidak merokok, karena temuan medis menyebutkan bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif.

Kalau mengacu pada medis, riset, atau apapun yang bersifat ilmiah, mungkin masih diterima akal sehat. Lha, kalau urusan moral, etika, pantas nggak pantas perempuan merokok, hubungannya apa coba?

Merokok adalah urusan pribadi, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, ada hak orang lain juga yang ingin menikmati udara tanpa asap rokok. Kalau kamu ngaku toleran tapi asap rokoknya masih kebal-kebul sembarangan, kamu itu bagaimana?

Merokoklah yang bertanggungjawab. Kamu laki-laki yang bertanggungjawab kan, eh?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.